We need to do our things, not get our things done

Ceritanya saya lagi jenuh dengan data-data kerjaan kantor dan anemia yang tak berkesudahan ini meminta saya istirahat sejenak dari semua itu. Maka jadilah saya nulis lagi di halaman blog yang usang ini. Itung-itung bikin memori menjelang tahun terakhir di Tsukuba dengan cerita-cerita yang yah gini dan gitu deh.

Karena penat, saya mau cerita yang ringan saja soal orang tua dan kontribusinya terhadap pendidikan anak di Tsukuba tentunya berdasarkan apa yang saya alami. Kebetulan anak saya ikut klub bola di sekolahnya, dan sesuai aturan setiap tingkat harus ada orang tua yang menjadi koordinator untuk klub bola . April depan anak saya masuk kelas 3, singkat cerita saya diminta jadi koordinator ortu untuk klub bola kelas 3 (tolong jangan dianggap prestasi anggap aja yah gak ada orang lagi hehe). Nah, sabtu kemarin, para orang tua yang menjadi koordinator kelas ini berkumpul, ngadain rapat tahunan gitulah, bikin Laporan pertanggung jawaban kayaknya, dan sekalian harus menjelaskan tugas-tugas pada koordinator baru yang akan mulai April depan. (Bisa dibayangkan ya, saya baru akan menjabat April depan tapi sudah diajak rapat dari Februari , ini emang Nippon style banget deh).

Waktu berangkat ke tempat rapat, saya sempat bersungut-sungut dalam hati, ya ampun ini para orang tua, tak tahukah mereka ini teh hari libur, enakan juga di rumah, leha-leha (baca ; urus laundry, belanja mingguan, dan tidur siang kalo bisa). Rajin amat sih harus rapat jam 9.30 pagi (percayalah ini musim dingin, yang akan sangat nikmat untuk bangun siang, stay under duvet, atau cuddling with kiddos). Begitu sampai di tempat rapat, saya  terkejut karena ternyata para koordinator bola  untuk tahun ini udah rapat duluan , yang entah dimulai rapat dari jam berapa, kayakya sih jauh lebih pagi dari 9.30. Mereka datang dan rapat lengkap kayak rapat di kantor, bawa laptop, tablet, dll dengan berbagai dokumen. Padahal ini cuma klub bola yang notabene ekstrakulikuler sama sekali nggak menyangkut pendidikan formal anak-anak di sekolah anak saya. Giliran kami-kami para pengurus tahun depan masuk, kami cuma dibriefing oleh pengurus tahun ini  tentang tugas-tugas yang harus kami lakukan selama setahun kedepan. Oh saya lupa menyebutkan, jangan harap rapat dengan bahasa Indonesia ya, bahasa Inggris aja boro-boro ada (ya gak mungkin juga sik karena saya satu-satunya orang asing di kumpulan orang tua itu). Jadilah saya terbata-bata mengikuti apa yang mereka katakan dalam bahasa Jepang, rasanya..yah maknyus lah ngerti di awal, sedikit di tengah, paham di akhir (ini rumus saya memahami bahasa Jepang, hihi). Tapi alhamdlulilah saya dapet briefing dari ortu kelas 3 yang pernah tinggal di Amerika jadi semua dokumen yang dia serahkan ke saya berbahasa Inggris (sasuga, prok prok prok, jangan salah sulit loh dapetin dokuen berbahasa Inggris dari kumpulan orang Jepang). Tentunya si Mr X tetep bicara dengan bahasa Jepang yag was wis wus dan saya cuma ooo, haai, naruhodo, wakarimashita. Tapi harus saya akui dokumen yang dia terjemahkan dari bahasa Jepang itu sudah memuat segala informasi yang dibutuhkan. Dan tahukah anda, saya duduk di rapat itu hanya 15 menit setelah itu kami diperbolehkan pulang, sementara pengurus tahun ini  tetap melanjutkan rapatnya. Demi 15 menit kami harus merelakan sabtu pagi saat libur tiba. Belum lagi siang harinya adalah jadwal latihan bola, yang kembali para orang tua harus piket, mencuci seragam, menyiapkan keperluan latihan, siap sedia kalau ada anak yang cidera, dll. Tak jarang pula di hari Minggu orang tua harus menemani sang anak ikut pertandingan, kalau sudah begitu kami harus rela menjemput anggota tim yang lain karena parkir di lapangan tempat bertanding terbatas untuk sekian mobil. Tak jarang para orang tua ini `waza-waza` membawa tenda, bench, dan keperluan lainnya lah jika ada pertandingan. Semua itu dilakukan di hari Sabtu-Minggu. Padahal tentu anda tahu kan ritme kerja orang Jepang di hari Senin-Jumat yang mungkin bisa sampai rumah jam 8-9 atau bahkan lebih larut. Oh sebagai informasi tambahan, di rapat itu disebutkan pertemuan bulanan koordinator akan diadakan, lalu akan ada general meeting, ada ini ada itu, bla bla bla. A little bit menyita waktu libur lah (baca; mendokusaiiiiii). Pernah juga senior dulu malah tergabung ikutan POMG di sekolah anaknya, dan dia sangat terkejut betapa para orang tua ini cukup ikut andil dalam urusan sekolah. Enggak usah lah ya saya sebutkan berapa kali mereka rapat dalam setahun, membuat flyer-flyer yang setiap hari hampir selalu dibawa anak saya pulang, terus in charge terhadap beragam acara sekolah sedemikian rupa (ingat tidak ada janitor atau pun penjaga sekolah di sekolah publik di Jepang). Jadi another bit of mendokusai bagi para pelaku, but did they do that? yes they did.

Saya terkejut, betapa para orang tua ini mendedikasikan waktu libur mereka demi hobi sang anak sedemikian rupa. Saya sempat bertanya pada salah satu orang tua, yang dia tahu sang anak hanya ikut klub untuk bergerak semata, supaya enggak keranjingan main game di dalem rumah, tapi sang ayah dengan suka rela menjadi koordinator seperti saya untuk tahun depan. Kalau anak saya jangan ditanya berobsesi kompulsif jadi atlet Liga Eropa (yah terserah kalo mau diaminin kalau enggak juga enggak apa-apa). Jadi waktu diminta jadi koordinator, yang demi anak yang keranjingan bola, masak saya enggak mau. Saya sempet diskusi sama suami, saya kagum sama semangat mereka ini. They do their things, not get the things done. Sama halnya dengan postingan teman di facebook tentang bagaimana anak-anak jepang dibiasakan piket menyediakan makan siang di sekolah, mulai dari ambil makanan, membagi-bagi makanan, membereskan makanan, bersihin kamar mandi, kadang menyingkirkan salju yang berserakan di jalan sekitar sekolah. Pernah saya tanyakan langsung ke anak saya, emang begitu bener di sekolah kalau waktu makan siang? Anak saya pun ringan menjawab, iyalah. We used to saw it and now we become part of it.

Saya jadi malu teringat kisah dua tahun yang lalu, saya dan beberapa teman berinisiatif mengadakan TPA untuk anak-anak kami yang muslim. Alhamdulilah, kawan-kawan yang memiliki keluangan waktu dan niat bersedia repot-repot jadi guru di TPA itu tanpa dibayar. Awalnya saya semangat dengan berbagai ide buat TPA, tapi belakangan pas diajak rapat pun saya malah enggak datang. Padahal yang untung kalau ada TPA kan anak sendiri, toh guru-gurunya bersukarela mengajarkan tanpa digaji. Kadang diminta saran pun saya diam seribu bahasa gegara dulu saat saya bersemangat minta pendapat dari para ortu yang lain hanya segelintir sekali yang ikut bersuara. Bisa dibayangkan kalau semua orang tua di klub bola anak saya juga pasif, hanya diminta manajer yang bertanggung jawab dijamin klub itu bubar dalam waktu dekat. Namun, alhamdulilah, para pengajar di TPA masih semangat sekali walopun saya sebagai orang tua ya gitu deh (maaf ya bapak ibu guru, insha alloh diperbaiki)

My bottom line, mungkin Jepang tidak berjaya seperti beberapa tahun belakangan, mungkin juga Jepang mulai redup kekurangan tenaga kerja. Tapi yang saya rasakan orang Jepang memiliki kebiasaan yang akan tetap menebarkan glory dalam hidup mereka, they do their things not get their things done, and they are proud of that. Mungkin saya ini termasuk orang tua yang merasa kewajiban saya hanyalah memasukkan anak ke sekolah, les a, b, c, d  yang mahal, lalu siap menerima keahlian anak tanpa ikut ikut campur dalam proses belajar mereka. Saya hanya ingin terima jadi anak saya pintar, sholeh, berbakat, sehat karena sudah diberi makan, disekolahkan, dileskan, masuk klub ini itu, tanpa saya tahu apa yg dimakan, apa yang diajarkan, bagaimana sistem lesnya, apa peran saya dalam setiap proses pembelajarannya? Saya jadi bertanya, jika setiap kita berkontribusi sedikit saja dari komunitas, entah itu sekolah, atau RT, RW atau profesional, akankah kita atau generasi kita berkembang menjadi generasi yang lebih baik? Dari seorang suster Jepang saya pernah dinasehati, negara kamu akan menjadi negara besar, mungkin tidak sekarang, tapi nanti saat anak kamu berada di usia produktif, karena kalian punya sumber daya manusia yang banyak, and they are priceless when they were driven to.

 

 

Tentang sebuah konsep

Beberapa hari terakhir ini beredar berita di sosial media tentang protes seorang kakak kepada Ibu Guru adiknya. Protes itu disebabkan oleh nilai PR matermatika sang adik yang saat itu sedang belajar konsep perkalian. Sang kakak protes karena si Ibu Guru menyalahkan jawaban perkalian yang sebenarnya memberikan hasil yang sama, selengkapnya mungkin bisa dilihat di sini . Namanya juga era sosial media, berbagai reaksi pun bermunculan, dari yang mendukung protes sang kakak di lembar PR si adik kepada Ibu Guru dengan asumsi perkalian 4 x 6 dengan 6 x4 akan menghasilkan bilangan yang sama yakni 24, Sementara, tak sedikit juga yang mendukung sang Ibu Guru dengan asumi bukan hasilnya yang dipedulikan, tapi proses dan konsepnya, makna 4 x6 itu tidak sama dengan 6 x 4.. Sejujurnya saya pun masih agak bingung sih menilainya. Belakangan teman saya yang notabene punya anak SD di Bogor pun ikut bilang, si Ibu Guru tidak salah karena kalau lihat di buku ya memang begitu ketentuannya. Dan tentu saja berbagai komen miring yang m bilang protes si kakak merupakan pencemaran nama baik terhadap Ibu Guru… (ehm, aduh keselek).

 

Saya pribadi tadinya sih berpendapat ah ini mah hal biasa cuma media aja seneng blow up, mungkin kurang berita, atau biar seru aja gitu. Saya malah agak salut ke protes si kakak, (yang tadinya saya pikir masih SD or SMP, ternyata mahasiswa jurusan Teknik apa gt saya lupa) ke si Ibu Guru. Justru buat saya hal lain yang menarik dari fenomena itu adalah keberanian dan kepedulian si kakak terhadap sistem penilaian si Ibu Guru terhadap adiknya. Saya punya sekelompok teman dekat yang beberapa di antaranya sudah memiliki putra/putri yang duduk di sekolah dasar. Karena kami cukup dekat, kerap kali kalau ada PR anak-anaknya, teman-teman saya ini sering sekali tanya melalui whats ap, ttg jawaban yang menurut kami benar untuk PR anak-anak mereka. Salah satu contohnya, kapan itu teman saya bilang, ada PR bahasa Indonesia kelas satu SD, yang soalnya berbunyi`Sesuatu tentang diri kita disebut…` Kami pun bergantian kasih jawaban, sambil ngomel itu pertanyaan absurd banget. Jawaban mulai dari jati diri, sifat, karakter semua digelontorkan. Beberapa hari pun terlewati kami, teman saya bilang jawaban yang tepat dari sang guru adalah ciri khas….(oh yeah you tell me). Kapan lagi teman yang lain bertanya, keponakannya dapat PR tentang budi pekerti. Pertanyaannya ; `Apabila adikmu memintamu menemaninya bermain, walaupun kamu sedang tidak ingin bermain kamu akan……` Dan lagi jawaban yang keluar pun mulai dr bilang ya, bilang tidak mau, bilang sibuk, bilang a b c d, sampai teman saya pun berkata jawaban yang benar adalah harus menemani adik bermain..(Jeng Jeng). Saya pun bersungut, kenapa harus menemani adiknya bermain padahal dia sedang tidak mood bermain, bukankah sang kakak punya hak mengutarakan yang dia inginkan/ tidak? Mengapa jawaban penolakan disalahkan padahal menurut saya justru melalui pertanyaan itu kita bisa mengajarkan anak, bagaimana menerima penolakan, bagaimana menolak secara baik, bagaimana menghargai pendapat dan kemauan orang lain, dan berabagai mengapa-mengapa lainnya. Tetapi, ketika saya tanya apakah orang tua keponakannya protes? Teman saya menjawab, tidak justru sang orang tua mendisain agar jawaban si anak benar, bukan lagi memperdulikan perasaaan sebenarnya. Intinya sang orang tua pun terima jadi. Teman saya yang lain malah jujur mengakui bahwa dia kebanyakan pasif saat rapat guru dan orang tua murid, padahal dia bete setengah mati dengan kurikulum 2013 yang baru ini.

Jadi alih-alih mikirin siapa yang benar, sang Ibu Guru atau si Kakak, respon pertama saya justru bilang bagus nih si kakak berani ngomong dan perduli. Di postingan lain, malah ada yang berkomentar, mangkanya kerjain PR sendiri jangan suruh kakaknya yang kerjain, saya pun sempat tersenyum miris, Kepedulian terhadap anggota keluarga kok dinyinyiri, apa memang tugas kita di sosial media itu cuma untuk nyinyir? (termasuk tindakan saya ini nyinyir..:))

 

Nah kembali ke isu awal soal matematika tadi, hari ini kebetulan saya punya cerita yang hampir senada seirama dengan kasus tersebut. Sore tadi anak saya cerita, testnya di sekolah jelek, kebetulan tentang berhitung, dan sub bagian JAM. Katanya dia dapat nilai 20 dari 50, saya pun tersenyum, kenapa kok begitu? Lalu dengan sedikit bete dia meminta saya melihat hasil tesnya sendiri. Dan ternyata jawaban anak saya sama sekali tidak salah. Jadi anak saya yang kebetulan masuk sekolah di SD pemerintah di Tsukuba ini, sedang di tes untuk bisa menggambarkan kondisi jam. Dari 5 soal, hanya dua yang dia jawab tepat, dua, karena keduanya mencerminkan jam dalam tulisan, sementara soal yang dijawab salah adalah saat dia harus menggambarkan seperti apakah kondisi jam 2 , jam 7 dan jam 10.30 dari tulisan. Tugas anak saya sederhana hanya menggambarkan letak jarum panjang di angka 12 dan angka 6, tapi …`HANYA KARENA GARIS YANG DIBUAT KURANG PANJANG`, sang Ibu Guru pun menyalahkan anak saya. Di lain PR yang subjeknya adalah bahas Jepang, anak saya harus menulis dalam huruf Jepang yakni Hiragana dan Kanji dasar. Lucunya, saya sampai tidak bisa melihat kesalahan yang dibuat anak saya karena hasil koreksi Ibu Guru dengan tulisan anak saya hampir nyaris tidak berbeda, hanya sedikit lengkung dan sedikit kurang panjang. Tapi, saya pahami, mungkin untuk urusan huruf Jepang ini akan berakibat pada kemampuan si anak di kemudian hari mengenali Kanji yang beda satu -dua garis saja artinya jauh berbeda.   Continue reading

Sesaat setelah PhD….

Sebenarnya, judul di atas agak kurang relevan dengan postingan saya karena jelas-jelas kurun waktu 1.5 tahun tidak lagi bisa dianggap sesaat. Walaupun harus diakui, makna sesaat itu bisa relatifkan, ya iya 1,5 tahun dibandingkan dengan satu abad lah sesaatlah itu jadinya. Namun, setelah selesai dapet gelar pi-ec-dih…(honestly, agak berat sekali nulisnya seberat tanggung jawab yang diberikan di gelar itu), saya memang pengen menulis tentang apa yang saya alami, karena sebgaian besar fase hidup yang saya lalui kebanyakan saya tulis. Syukur-syukur kalo dibaca orang lain,kalo menginspirasi apalagih,  tapi kadang untuk dibaca sendiri saja di tahun-tahun kedepan pun saya bisa senyum-senyum sendiri sambil mikir….wow, i had that kind of a feeling and thought those days..

 

So here we go…

First and foremost, there is nothing soo soo special about having your PhD (walaupun saya tahu PhD is not for everybody) bahkan banyak orang yg nyinyir sering bilang gak perlu lah sekolah tinggi-tinggi, apalagi di luar negeri, nanti balik-balik juga ke Indonesia hilang semua  idealisme (edisi penyinyir perantau). Others will say : masak udah PhD ilmu begituan kagak tahu (edisi AlbertEeinstein, dengan PhD you should know anything, really people?). Edisi inovator lain lagi : buat apa punya PhD kalau ilmunya gak kepake dan bisa diaplikasikan lagi ke masyarakat, Indonesia udah kebanyakan doktor, tapi tetep gak maju-maju, kita butuh inovasi, inovasi dan inovasi dari berbagai disiplin ilmu, bukan lagi menara gading yang maunya di lab melulu.(hakjleb-hakjleb-hakjleb…I got stabbed on my chest for this kind of nyinyir that made me so nervous about my future career), atau ini nih edisi nyinyir favorit saya versi emak-emak pi-ec-dih: ” percuma pi-ec-dih, tapi nyerahin pendidikan anak sama pembantu, anak ditinggal kejar karir, bla bla bla bla” (yassalam, langsung delete comment nih yang beginian) …

PhD atau doktoral atau S3 atau apalah itu, setahu saya adalah jenjang formal pendidikan terakhir yang bisa ditempuh seseorang. Ibaratnya, kalo dalam perjalanan dan kita naik bis, ya PhD adalah tempat pengisian bahan bakar terakhir sebelum sampe ke tujuan. Lah, tujuannya apa dong? ya itu mah tergantung tujuan hidup anda, bisa karir, bisa keluarga, bisa uang, bisa fame, atau bisa kematian. Yang jelas PhD bukanlah tujuan hidup, dia hanyalah tempat formal terakhir mensupport mesin anda supaya bisa terus berjalan dalam mengarungi perjalanan hidup anda. Jadi jaman-jaman saya masih sarjana lugu-lugu gak ngerti apa-apa gitu, apalagi kalau habis diskusi sama pembimbing akademis (PA) dan si PA bilang gak tau, saya pasti kesel. Gimana sih kok PA kagak tau alur penelitian saya, dia kan pi-ec-dih…doktor…masa ngerjain penelitian yang dikasih ke saya nggak tau. sekarang saya jadi ngerti si PA gak bakalan ngerjain penelitian ini kalo udah tahu. Namanya juga research..re-and search…So please buat penyinyir tipe Albert Einstein , ketahuilah..semakin seseorang mendalami ilmunya, maka hal-hal yang dia ketahui akan makin terbatas pada yg menjadi subjek penelitiannya. Tapi jangan salah, kerangka berpikirnya akan menjadi lebih luas ketimbang orang-orang yang berpikir tepiannya saja. Jangan anggap pi-ec-dih tahu segala, wong saat ngerjain thesis ndilalah bacaan favoritnya ya yang sesuai tema penelitian, bukan apa-apa biar cepet kelar (kalau hobi mah jangan ditanya ya, macam novel mah pasti masih kebaca). jadi kalau situ tanya hal yang sini enggak pernah kerjain, biar kata nyerempet-nyerempet, mohon maap, pi-ec-dih ini akan bilang maaf saya nggak tau (honesty never fail people, remember that).

Here is my after PhD stories Continue reading

Suara Pagi

Tadi pagi, saya tetiba teringat blog saya dan entah kenapa hati saya berujar, saya harus menulis lagi di blog yang mungkin hampir karatan ini. Mungkin pula karena saya haus menulis, hal yang sepertinya sudah lama saya tinggalkan.

Sesuai judul, saya mau cerita tentang bagaimana saya mencintai suara pagi (tapi hal ini tidak serta merta mengukuhkan saya sebagai orang yang suka bangun pagi loh). Empat tahun di Jepang, dan kelamaan mengurus segala seusatu sendiri memaksa saya untuk bangun pagi, dan beraktivitas. Sebelum keluar rumah melakukan aktivitas itu adalah saat-saat tersibuk, yang saya rasa Ibu-Ibu dimanapun sangat memahami kalimat saya itu.  Tapi, begitu suami berangkat ke lab/kampusnya, anak sudah didrop di sekolah/daycare tibalah saat sendiri buat saya menyusuri jalan dengan sepeda yang menurut saya momen terbaik di pagi hari. Enaknya tinggal di Tsukuba (entah kota lain di Jepang ya, apalagi Tokyo yang terlalu padat menurut saya sampai kurang oksigen buat nafas, sekali lagi menurut saya), karena daerah ini merupakan daerah pemekaran, desain tata kotanya menurut saya unik. Pedestrian dibuat cukup banyak dan besar, sisi kanan kiri biasanya masih bisa ditemui semi-hutan dan perkebunan. Bahkan di salah satu apartemen yang dulu pernah kami tinggali, terdapat satu jalan taman yang menghubungkan stasiun dengan bagian utara dan selatan kota sepanjang 5 km. Namanya saya jalan taman, otomatis sepanjang jalan itu banyak sekali pepohononan rindang yang tumbuh, macam Sakura. Wah kalau sudah musim semi, saat-saat melintasi jalan taman ini begitu romantis, karena di bawah sakura yang berterbangan, angin musim semi yang bersahabat rasanya itu seperti…ah tak terbayarkan deh. Ditambah lagi kadang jalan taman ini dibuat naik turun seperti bukit (karena kontur jembatan yang menyebrangi jalan), jadi kadang-kadang yah agak berkeringat sehat tapi capek gitu lah. Hehe. Moment terbaik melintasi jalan ini adalah saat kontur jalan turun, saya akan berdiri di atas pedal sepeda sambil merasakan angin musim semi yang menggugurkan sakura. Dijamin, walaupun seharian tadi kerja lab bikin bete, hasil nggak jelas, seketika semangat kembali di recharge.

pemandangan dari jendela dapur

pemandangan dari jendela dapur

photo 2

a moment of cloud at the office

photo 3

musim gugur

Itu satu sisi Tsukuba yang ramah, tentu ada sisi lain yang tidak ramah, macam mobil seliweran dengan kencang bikin deg-degan.Kadang kalau musim panas enggak banget untuk bersepeda karena panasnya aduhai, spf 50 UV protector pun rasanya tembus kulit. Tapi hari ini yang sebenarnya masih dalam rangka musim panas, cuaca lumayan bersahabat. Oh ya, kami sudah pindah rumah, dan saya sudah pindah kantor dan sayonara pun sudah terucap pada si jalan taman kenangan itu. Rute baru saya kali ini lumayan agak jauh, masih sekitar 3-4 km sih tapi daerah yang saya lewati agak gersang. Tapi setiap kali saya berusaha mencari nilai positif dari apa yang saya alami, semua menjadi lebih indah. Rute saya kali ini menyempatkan saya menikmati semak-semak, padang ilalang, kebun terong, kebun labu yang sedang berbuah indah. Harumnya pun berbeda sekali dibandingkan saat saya melintasi daerah pemukiman. Sambil mendengarkan `Human`nya Cristina Ricci, kembali saya menikmati momen-momen indah di pagi hari sepeti saat melintasi jalan taman yang dulu. Ada perasaan yang menyejukkan yang tidak akan tergantikan walaupun saat itu kita melintasi dengan mobil semewah apapun.

Nature brings some soul in you, and by that you will feel God is real and He is close.

Have a blast friday.

Perspective

Hari ini saya melewati lagi 19 Agustus kesekian dalam hidup. Tidak ada kegiatan spesial buat saya pribadi entah karena sudah terlalu bebal rasa dengan segala momen kebahagiaan perulangan. Tapi untuk hati sendiri, biasanya saya memaknai dengan berusaha menemukan apasih platform kemajuan diri selama satu tahun belakangan. Apa yang membedakan saya di tahun kemarin dengan saya di tahun ini. Contohya, 19 agustus 2010 menjadi sangat berkesan karena saya merasakan keterikatan yang lebih dengan Tuhan. Setahun berikutnya, saya merasakan kesepian yang begitu menggigit dalam hidup sehingga saya menyadarai orang-orang di sekitar saya sangat berperan dalam menjaga irama hidup ini, dibawa senangkah, sedihkah, nyamankah, atau apalah. Sementara , 19 Agustus 2012 saya belajar, bahawa keluargalah tempat dimana hati saya berlabuh, tempat kebahagiaan saya bermuara, dan tempat saya bersyukur jauh dibandingkan kepemilikan terhadap materi apapun….

Lalu bagaimana dengan tahun ini?

Tahun ini, saya belajar lagi tentang perspective, cara pandang. Dengan umur saya yang kesekian tahun anggap aja 23 lah biar sama-sama enak, saya belajar untuk punya berbagai perspective dalam melihat suatu masalah. Contohnya, kapan itu di media sedang heboh-hebohnya kasus penyiraman yang dilakukan narasumber kepada narasumber lain pada acara talkshow..live di televisi swasta Indonesia. Nah, sewaktu rekamannya sudah nongol di twitter, mulailah kicauan kontra pelaku penyiraman bertebaran dimana-mana. Saya sempat lihat sendiri dan agak terperangah melihatnya, tapi ujug-ujug langsung sesumbar seperti halnya teman-teman di berbagai media sosial, saya diam, mencoba berpikir bagaimana rasanya jadi orang yang menyiramkan air itu. Rasionalitas saya mengajak saya berpikir, pasti ada alasan, mengapa dia melakukan hal itu. Pun tetap saja saya tidak menyetujuinya. Belakangan, mulailah bertebaran video tandingan yang menonjolkan perilaku si korban yang disiram, yang agak aneh juga perkataanya menurut saya. Dan mulailah bertebaran di fesbuk, ihwal si korban yang tadinya dielukan sebagai korban tersakiti jadi pihak yang memprovokasi. Pun, sekali lagi saya tekankan, i have no a cent at all on that water sprout. Continue reading

my equilibrium

akhir-akhir ini banyak sekali kejadian yang membuat saya sedih dan bete, sebete-betenya. salah dua penyebabnya nanti saya kasih tahu (insha Alloh ada pembelajarannya). kalau sudah begitu yang ingin saya lakukan cuma menumpahkan isi hati pada tulisan juga curcol pada suami, anak dan teman dekat, tentunya. karena sekarang saya dalam masa transisi (apalah ini transisi?), jauh dari hiruk-pikuk lab yang kadang saya rindukan, saya lebih banyak meluangkan waktu dengan membaca dan menulis. jadi jangan heran kalau saya mulai berkoar aneh-aneh di blog ini dan ini.

ternyata, memang betul kata Louise Pasteur, “fortune favors prepared mind“, setidaknya mengajarkan saya untuk menyiapkan segala sesuatu dengan kesungguhan, keseriusan, (kalau kata orang jepang, chanto-suru) sekecil apapun urusan itu. karena fortune atau keberuntungan lebih berpihak pada mereka yang memulainya dengan kesungguhan dan keseriusan. kalau lebih dalam lagi saya mengartikan fortune ini tidak semata-mata keberuntungan semata, jadi ada campur tangan Tuhan yang menjamah doa-doa kita.

so..what is my fortune anyway?

nah, sesuai sama judul postingan saya kali ini, my equilibrium, yang artinya kesetimbangan saya. setidaknya dalam satu bulan ini saya menghasilkan dua karya tulisan yang menunjukkan sisi kesetimbangan diri saya. tulisan pertama, saya ikut berkontribusi pada majalah 1000 guru, iya itu model majalah pembelajaran yang ditujukan bagi siapa saja dan dimana saja. sekilas, majalah 1000 guru ini terlihat sepeti jurnal-jurnal ilmiah yang memuat berbagai disiplin ilmu. ditambah lagi majalah 1000 guru sudah punya ISSN dari LIPI jadi cukup terakreditasilah. kali pertama saya baca, saya langsung pengen ikut kontribusi. bukan pengen numpang beken, apalagi minta bayaran, tapi karena ingin berbagi tentang apa yang saya tahu. tapi yah karena kesibukan (baca: kemalasan) yang membahana, barulah artikelnya yang masuk dalam rubrik kimia saya buat bulan ini. walhasil, dipublish deh..alhamdulilah, semoga ada manfaat. silahkan liat disini yaaa…

majalah1000guru-prot folding

 

 

tulisan saya yang kedua, berbalik 180 derajat dengan tulisan pertama. jadi, menyambut Ramadhan tahun ini, selfpublisher @nulisbuku membuat kontes kecil yang mengajak para penulis muda (ya ampun baca kata muda ini hati saya agak gimanaaa gitu?) buat berkontribusi bikin antalogi cerpen bertemakan kejutan sebelum Ramadhan. uniknya kontes ini bisa diikuti perseorangan, ataupun kolaborasi. @nulisbuku akan memilih 200 cerpen terbaik yang diterima untuk diterbitkan dalam antalogi  “Kejutan Terbaik Sebelum Ramadhan”. selain itu tentu ada 17 finalis unggul yang juga berujung pada cerpen terbaik. saya sih nggak pengen-pengen banget menang, lah saya cukup tahu diri nulis fiksi aja gak pernah kecuali di diari (eaa diari). tapi, saya pengen ikut karena saya pengen berbagi cerita pada dunia, tentang satu fase dalam hidup saya yang membuat saya terkejut di Ramadhan tahun 2000 silam. @nulisbuku bilang, mereka menerima 800 naskah yang harus mereka seleksi, harus pula mereka tentukan pemenangnya. dan tahukah teman, naskah saya masuk dalam 200 naskah terbaik…taraa..and another baby is being published again. mau liat cerpennya? silahkan diorder yaaa ke nulis buku di sini…cerpen saya ada di buku #4…@atetamala. oh ya saya nggak ambil profit loh, setiap pembelian buku ini akan disumbangkan untuk panti asuhan.

 

nah, hari ini saya belajar lagi tentang kesetimbangan hidup saya. adakalanya kita harus gembira, sukacita dengan gegap gempita, tapi dengan kewarasan dan kerendahan hati tentunya. dan adakalanya kita harus bersedih, menangis, menyesali tapi untuk mengingatkan diri harus ada hari yang lebih baik dari hari ini. our balancing mind, spirit and life are the compulsories to feed the needs. dan saya belajar juga, when you do it from heart with entire package of efforts, “it will shine”….with God helps…

 

so what’s next? as I said..we neet to put our step forward ….tunggu kejutan yang lainnya…:)

UnaG ; when the “green-lantern” phase is just arrived

sudah nonton film “green lantern?”? iya itu film yang diangkat dari DC komik yang ,pemerannya si ganteng Ryan Renolds, menceritakan tentang superhero *yeah its all that hollywood can do* dengan kekuatan super bisa memancarakan cahaya hijau berpendar.


(source : http://uk.playstation.com)

Sewaktu nonton, hal pertama yang terlintas dipikiran saya adalah pasti yang menulis strip green lantern ini dulunya kerja di lab biologi molekular. Mengapa? Karena buat kami pekerja biologi molekular ini biasanya suka sekali menggunakan protein berpendar berwarna hijau (green fluorescence protein; gfp) sebagai penanda. Istilah kasarnya, gfp protein ini adalah senter saat kita harus berjalan dalam gelap. Nah, dengan bantuan si gfp ini biasanya kita bisa melacak dimanakah keberadaan senyawa target kita di dalam sel, dan berbagai fungsi lainnya. Tapi, bukan itu maksud saya menulis hari ini. Pernah terbayangkah oleh anda, kalau ternyata nantinya manusia bisa menjadi super gloomy hijau seperti Hal Jordan, si pemeran utama green lantern? No, I am not kidding, then I’ll tell you the news… Continue reading