just as it scent

terkadang di pagi hari, saya ambil beberapa rute untuk ke stasiun kereta, supaya bisa lihat banyak hal.

bukankah katanya kalau kita banyak melihat dan berpikir kita akan punya posisi lebih tinggi di mata Sang Khalik?

sudah beberapa kali saya sengaja lewat pinggir pasar. ada satu tempat kios-kios relatif tua, tempat para pedagang barang loak seperti pompa, sepeda, alat-alat bengkel berjualan disitu. disisi lain biasanya tempat para penggrosir sepatu ciomas sudah mulai menggelarkan tumpukan sepatu-sepatu untuk dikirimkan. tapi yang pasti setiap hari ada adalah tumpukan sampah yang baunya hmm membuat saya cukup menahan nafas selama beberapa detik.

tapi, bau sampah itu terkadang kalah sekali oleh baunya harum bunga dari kios-kios floris yang tepat dibelakang pembuangan sampah itu. ironis memang kok mereka jualan bunga dekat tempat itu. tapi namanya juga bunga, sekali harum tetap harum, walaupun diletakkan di wc, tempat sampah, kamar mandi, ato gudang.

saya lalu berpikir, semoga dimanapun saya berada, says bisa seperti bunga itu, menebarkan wewangian ke sekitarnya. tak perduli saya di tempat maksiat, tempat mewah, ataupun tempat kumuh sekalian.

semoga saya bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar saya.

just as it scent..

and the election goes to..

1 bulan sebelum dan setelah pemilu, saya senang sekali baca koran, Karena beritanya rame, mengalahkan berita gosip di tivi.

Kebetulan, loper koran langganan saya sakit, jadilah saya beli koran di stasiun setiap berangkat kerja, itupun koran yang beda dengan yang saya biasa baca.

Nah biasanya di koran itu,(headline)nya banyak banget catchy statement yang menghebohkan.

Mulai dari anggota legislatif dari partai a yang mengklaim partai bersih tersandung kasus korupsi, kemudian partai b, yang memang sudah banyak tercatat kasus korupsi makin menjadi-jadi korupsinya, partai C yang sibuk susun strategi mau koalisi dengan partai D, E atau F.
Yah, intinya rame banget. Jujur saya bukan pecinta politik. In other ways saya akan bernyanyi begini ” Politics go away , come again some other day”.
Tapi belakangan, histeria pemilu ini mengajarkan saya banyak hal. Yah, ini itu nya politik sebenarnya nggak buruk-buruk juga. Setidaknya, menurut hemat saya kalau memang kita mau berkecimpung di dunia politik sah-sah aja asalkan memang kita berbicara melangkah dan mengambil keputusan in the name of the citizen.

Bicara politik,tentu bicara tentang pemilu atau election. Election di negara kita tahun ini memang ribet. Carut marut DPT lah, soal perhitungan suara yang molor lah, soal penentuan kursi yang diundi lah (saya saja yang bukan caleg membayangkan dana kampanye caleg yang terpakai sudah menguras tabungan haji, masa penentuan kursinya pake undian..oalah Pak..Pak), dan kabarnya terakhir soal KPU yang tidak serius menanggapi tuntutan dari MK..
(OK, berpikir positif, KPU sedang sibuk buat pilpres biar tuntutan tidak lebih banyak tentunya)

Tapi, pemilu yang makan anggaran rakyat sedemikian banyak, seharusnya bisa dimaknai dengan pesta demokrasi, pesta bagi seluruh rakyat, tanpa pandang lapisan, pesta bagi semua komponen bangsa karena setidaknya (in my own perspective) menunjukkan kelangsungan pemerintah yang stabil selama lima tahun kemarin hingga bangsa ini masih bisa menyelenggarakan pemilu untuk lima tahun kedepan.

Tapi, ditengah hingar bingar pemilu, hati saya miris sekali,membaca artikel postingan teman yang isinya anak pedagang bakso kaki lima umur 4.5 tahun harus meninggal tersiram kuah bakso mendidih karena ada razia satpol pp. Ibu sang anak yang sedianya kala itu menggantikan sang ayah berjualan dengan ketakutan mendorong gerobak yang hampir disita satpol pp, sehingga terjatuh dan menimpa sang anak yang jatuh pula.

Hmm, perlu dicermati, bila warga negara ini tak lagi merasa aman tenteram mencari penghidupan yang “layak” apakah pemilu yang menghabiskan anggaran banyak itu tergolong ke dalan pesta demokrasi..
(dalam benak saya pesta selalu
berakhir dengan kebahagiaan, canda tawa bingkisan bukan tangis kematian).

Gambaran tadi hanya secuil dari seluruh kerangka besar negeri ini, yang sekali lagi menurut perspective saya terlalu konsumtif sehingga rakyatnya dipaksa jga berpikir dan beridoeolgi konsumtif (masih heran dengan banyaknya peminat salah satu ponsel pendatang baru yang bari menggelar launching di Indonesia di tengah gundah gulana krisis ini)

my bottom line is : seharusnya pemilu adalah award bagi setiap warganya, tidak perlu meriah, mewah, dan konsumtif, cukup dengan menjanjikan keamanan bagi setiap warga untuk menjalani kehidupan yang layak (entah layak menurut versi siapa)..

and the election goes to….all the citizen

another school to attend

beberapa minggu terakhir pikiran saya carut marut dengan kondisi rumah yang sedang kami bangun. Halah, kok yo jadi istri PNS di belantara Indonesia ini susahnya minta ampun untuk punya rumah yang sederhana sekalipun.

Rasanya tidak perlu saya bilang alasannya karena nanti dianggap membongkar isi dapur rumah tangga (hehe).

Kami (saya dan suami) sudah berdiskusi berembug bicara dari hati ke hati dari kepala dingin sampe masuk angin, dari malam buta sampai pagi hari mencari sela supaya progres pembangunan rumah jadi tetap sediakala seperti jadwal dari developer.

Saya sering berkeluh (tentunya pada Yang Maha Menerima Keluhan) tentang gundah gulana ini..Hingga tadi pagi di kereta yang biasa saya tumpangi untuk ke tempat kerja

Saya bertemu dengan rekan sejawat waktu sama-sama ke Jerman dulu. Prestasinya hebat, 28 tahun sudah dapat gelar doktor (another uncoming true dream of mine), punya projek riset banyak, punya mahasiswa bimbingan banyak, punya relasi banyak dengan segudang prestasi ilmiah..

Cerita ini itu, akhirnya saya tergugah dengan semangatnya..yang menurut dia saya harus cepat-cepat sekolah lagi..dengan asumsi kalau sudah tua keburu bebal otaknya,dan berbagai kesempatan bisa diraih kalau sudah Ph.D.(salah satu masalah yang bisa dipecahkan adalah problematika bangun rumah itu)

Walhasil hari ini saya mulai lagi browse beasiswa ini itu untuk memulai niatan sekolah lagi (padahal tadinya saya ngeledekin teman yang lagi buat thesis di Jerman sana, maaf Ya Fren).

Catatan in buat pengingat saya, kelak kalau memang akibat pertemuan dengan rekan saya itu saya bisa dapat kesempatan sekolah lagi saya akan berterima kasih sekali sama dia. Dan semoga folks mau sedikit berbagi doa dengan saya supaya jalan saya cari beasiswa dimudahkan..

Buat Bu Dewi..A huge big thanks for the spirit.:-)

aku bilang tidak

Pagi Itu, tanggal 27 April. Rencananya keponakan saya (anak sulung saya nih:P),
mau pakai baju adat karena merayakan hari Ibu Kartini di sekolah Play Groupnya.
Nah, tentu saja yang paling bersemangat dengan ini semua adalah nenek.
Nenek lah yang sibuk menyewa baju adat dari Sul Sel alias baju bodo buat Alma,
nenek lah yang menyiapkan segala kebutuhan Alma dari bangun tidur tadi, dan
nenek lah yang senang sekali karena Alma akan berparade naik andong keliling
komplek rumah dengan baju bodonya.Sehari sebelumnya, bahkan nenek sudah mencoba
baju bodo tersebut di Alma.Komentar nenek, “bagus-bagus, besok dipake ya Kak, nanti
Tante dandanin sedikit pake lipstik ya Te” Continue reading

my ideas of living

When I was a child, I used to have an idea of my next life. In the elementary grade, I dream of becoming a teacher.What a noble idea of living. At that time I wonder, how precious that job compare to others like doctor, architect, police woman, and any idea of a child’s dream.

Growing older,in junior high I’ve changed my idea of living, since everybody said it was a noble idea with a very low income. Contrary to the raise of age, I couldnt even explit my own idea. So at that time I just answer i want to be rich and smart. (what a lovely idea..:P)

In senior high, suddenly i got my very best idea. Stimulated by many ER series I watched, I had my will to become an internist. That silly fool stimulation almost separate me and my family thousand miles away just to run after my sillyfoolchildish love (gosh..how stupid I was at that time and thank God He didnt let me be more fool than ever). But, still it was a very noble idea i ever had. Though I was rejected by the university I still had that idea in mind.

In college, suddenly I becoming fooler than ever before with having no idea at all. Maybe because I should face reality that I change my lines from internist to some food technologyst which I dont even bother in what field would I work.The fact (which everyone’s tellin me my major is the best in SouthEast Asia…you may dont believe it…neither do I, concerning how stupid I am in my own food tech field..:P) was make my heart relieves (or ought to relieve) that I wont be a jobbles woman..(though it is not the idea of mine)

Then..there I was…Applying my food tech filed for about 10 months in some foreigner company that I really2 felt imperialized. So..again my ideal idea of living changing my lines into some field that i really2 negelected before..a research…(what a fool I am, concerning i got less paid,lot kilometers should be travelled, and heavier working load)…

Now, here I am. Already obtained my master degree and starting to become biologist. What a very unepredictable title I ever think of. However, for billion times in my whole life, I thank God to make it my path. There were a lot of things I had in mind which made me wiser than before. If only I took Biology as my graduate program before, I might believe that I become food technologist now.

migrain attack!!!

Saya baru menyadari kalau saya punya bakat migrain pada waktu kuliah sarjana di medio Agustus 2004. Waktu itu lagi pusing-pusingnya buat tugas akhir yang sepertinya sangat melenceng dengan jurusan yang saya ambil, Teknologi Pangan. Tapi akibat pemaksaan ide (maksudnya nggak punya ide lagi karena kalau ide sendiri harus biaya sendiri sedangkan saat itu ada tawaran riset dari pembimbing yang menggratiskan dana penelitian, mari kita hajar bleh..begitu), mau tidak mau saya lakoni penelitian yang membuat saya punya symptomps baru itu.

Migrain itu menghantui setiap hari selama kurang lebih satu bulan, dengan instensitas naik turun mengikuti perkembangan kemajuan psikis saya menghadapi penulisan skripsi. Pada saat itu, saya tidak cukup peka untuk tahu kalo ternyata kopi bisa menambah rasa sakit migren, dan ditambah lagi saya ogah mengkonsumsi painkiller untuk migrain.Takut ketergantungan.jadilah saya tetap caffeine addict.

Selepas sarjana, migren tak lagi sering datang, hanya sesekali kalau dalam keadaan underpressure atau kepanasan kena terik matahari. Tapi kalao alasan terakhir rasanya lumayan bisa hilang dengan cukup istirahat, kalo stress hhhmmmm tidak bisa hilang hanya dengan tidur…

hampir lima tahun berlalu, paska penulisan skripsi, saya dihadapkan lagi pada penulisan thesis. Alhamduliah, migren tak lagi menyambangi kepala ini, mungkin karena faktor emosi dan penguasaan terhadap materi penlitian yang lebih greng kayaknya..Saya berpikir, sejatinya sang migren sudah benci pada saya, karena saya bisa tergolong wanita sehat, aktif dan bukan perokok atau minuman beralkohol…Tapi….apadikata

Saat ini sudah hampir 2 minggu, sang migren sedang asik2nya di kepala dengan lokasi yang nomad.HHmmmm, bahkan saat ini sudah stadium agak parah, karena menyerang mata, apalgi bila habis bekerja di depan laptop. Tak ayal, pemicu utama antara lain kondisi ekonomi yang lagi morat-marit akibat subprime mortage, dan daftar hutang yang makin panjang..(seperti Indonesia tentunya).. Tapi sedikit kelegaan, karena hutang yang ditambahkan adalah hutang produktif yang insya Alloh membawa nilai lebih dikemudian hari. Selain hutang, bayang-bayang pendidikan anak sudah di depan mata,mmmmhhh,,,
sudah ada perencanaan kalau anak sebaiknya dapat beasiswa untuk sekolah di stanford, cambridge, john hopkins, atau oxford sekalian, biar ayah bundanya nggak pusing tujuh keliling…

Anyway, saya mensyukuri migren ini.