aku bilang tidak

Pagi Itu, tanggal 27 April. Rencananya keponakan saya (anak sulung saya nih:P),
mau pakai baju adat karena merayakan hari Ibu Kartini di sekolah Play Groupnya.
Nah, tentu saja yang paling bersemangat dengan ini semua adalah nenek.
Nenek lah yang sibuk menyewa baju adat dari Sul Sel alias baju bodo buat Alma,
nenek lah yang menyiapkan segala kebutuhan Alma dari bangun tidur tadi, dan
nenek lah yang senang sekali karena Alma akan berparade naik andong keliling
komplek rumah dengan baju bodonya.Sehari sebelumnya, bahkan nenek sudah mencoba
baju bodo tersebut di Alma.Komentar nenek, “bagus-bagus, besok dipake ya Kak, nanti
Tante dandanin sedikit pake lipstik ya Te” Continue reading

my ideas of living

When I was a child, I used to have an idea of my next life. In the elementary grade, I dream of becoming a teacher.What a noble idea of living. At that time I wonder, how precious that job compare to others like doctor, architect, police woman, and any idea of a child’s dream.

Growing older,in junior high I’ve changed my idea of living, since everybody said it was a noble idea with a very low income. Contrary to the raise of age, I couldnt even explit my own idea. So at that time I just answer i want to be rich and smart. (what a lovely idea..:P)

In senior high, suddenly i got my very best idea. Stimulated by many ER series I watched, I had my will to become an internist. That silly fool stimulation almost separate me and my family thousand miles away just to run after my sillyfoolchildish love (gosh..how stupid I was at that time and thank God He didnt let me be more fool than ever). But, still it was a very noble idea i ever had. Though I was rejected by the university I still had that idea in mind.

In college, suddenly I becoming fooler than ever before with having no idea at all. Maybe because I should face reality that I change my lines from internist to some food technologyst which I dont even bother in what field would I work.The fact (which everyone’s tellin me my major is the best in SouthEast Asia…you may dont believe it…neither do I, concerning how stupid I am in my own food tech field..:P) was make my heart relieves (or ought to relieve) that I wont be a jobbles woman..(though it is not the idea of mine)

Then..there I was…Applying my food tech filed for about 10 months in some foreigner company that I really2 felt imperialized. So..again my ideal idea of living changing my lines into some field that i really2 negelected before..a research…(what a fool I am, concerning i got less paid,lot kilometers should be travelled, and heavier working load)…

Now, here I am. Already obtained my master degree and starting to become biologist. What a very unepredictable title I ever think of. However, for billion times in my whole life, I thank God to make it my path. There were a lot of things I had in mind which made me wiser than before. If only I took Biology as my graduate program before, I might believe that I become food technologist now.

migrain attack!!!

Saya baru menyadari kalau saya punya bakat migrain pada waktu kuliah sarjana di medio Agustus 2004. Waktu itu lagi pusing-pusingnya buat tugas akhir yang sepertinya sangat melenceng dengan jurusan yang saya ambil, Teknologi Pangan. Tapi akibat pemaksaan ide (maksudnya nggak punya ide lagi karena kalau ide sendiri harus biaya sendiri sedangkan saat itu ada tawaran riset dari pembimbing yang menggratiskan dana penelitian, mari kita hajar bleh..begitu), mau tidak mau saya lakoni penelitian yang membuat saya punya symptomps baru itu.

Migrain itu menghantui setiap hari selama kurang lebih satu bulan, dengan instensitas naik turun mengikuti perkembangan kemajuan psikis saya menghadapi penulisan skripsi. Pada saat itu, saya tidak cukup peka untuk tahu kalo ternyata kopi bisa menambah rasa sakit migren, dan ditambah lagi saya ogah mengkonsumsi painkiller untuk migrain.Takut ketergantungan.jadilah saya tetap caffeine addict.

Selepas sarjana, migren tak lagi sering datang, hanya sesekali kalau dalam keadaan underpressure atau kepanasan kena terik matahari. Tapi kalao alasan terakhir rasanya lumayan bisa hilang dengan cukup istirahat, kalo stress hhhmmmm tidak bisa hilang hanya dengan tidur…

hampir lima tahun berlalu, paska penulisan skripsi, saya dihadapkan lagi pada penulisan thesis. Alhamduliah, migren tak lagi menyambangi kepala ini, mungkin karena faktor emosi dan penguasaan terhadap materi penlitian yang lebih greng kayaknya..Saya berpikir, sejatinya sang migren sudah benci pada saya, karena saya bisa tergolong wanita sehat, aktif dan bukan perokok atau minuman beralkohol…Tapi….apadikata

Saat ini sudah hampir 2 minggu, sang migren sedang asik2nya di kepala dengan lokasi yang nomad.HHmmmm, bahkan saat ini sudah stadium agak parah, karena menyerang mata, apalgi bila habis bekerja di depan laptop. Tak ayal, pemicu utama antara lain kondisi ekonomi yang lagi morat-marit akibat subprime mortage, dan daftar hutang yang makin panjang..(seperti Indonesia tentunya).. Tapi sedikit kelegaan, karena hutang yang ditambahkan adalah hutang produktif yang insya Alloh membawa nilai lebih dikemudian hari. Selain hutang, bayang-bayang pendidikan anak sudah di depan mata,mmmmhhh,,,
sudah ada perencanaan kalau anak sebaiknya dapat beasiswa untuk sekolah di stanford, cambridge, john hopkins, atau oxford sekalian, biar ayah bundanya nggak pusing tujuh keliling…

Anyway, saya mensyukuri migren ini.