anakku mutiaraku

Tergulik dengan headline suatu Koran ibukota yang sumpah tidak pernah saya baca karena memang nggak minat dengan beritanya ituh, saya jadi buat postingan kali ini..begini headline nya :

poligami teroris menebar keturunan anarkis

Masya Alloh…deg..saya langsung terhenyak bacanya..jujur saya nggak baca lanjutannya karena saya nggak suka Koran itu yang isinya yah rata-rata menurut saya bukan berita yang saya sukai.

Inilah kadang potret jurnalisme negeri ini. Sebagian mungkin ya nggak mikir panjang kalau mau buat rubrik atau headline , karena sudah dikejar target harus naik cetak, dan headline harus yang catchy habis…
Komentar saya terhadap headline tadi adalah :
1. Apakah memang sudah dibuktikan oleh polisi kalau sang teroris ini sudah melakukan poligami kemana-mana, berapa anaknya?lalu siapa yang teroris itu
2. Apakah sang penulis sudah melakukan klarifikasi dengan kata-kata menebar keturunan anarkis itu dengan pihak terkait?contoh peneliti genetika yang mumpuni dan dapat membuktikan kalau bapaknya itu punya gen anarkis anaknya sudah pasti akan menurunkan gen anarkis pula?
3. Apakah setiap gen anarkis yang diasumsikan oleh sang bapak itu akan ditampilkan (fenotipik) pada si anak sehingga sang anak juga akan bertindak teroris?contoh kasus..bapak saya mungkin punya gen cepat naik pitam lalu apakah saya lantas jadi cepat naik pitam?
4. Apakah si penulis tidak berpikir kalau apa yang ditulisnya ini akan dibaca jutaan orang dan menimbulkan persepsi negative terhadap anak si bapak (kalau memang terbukti sang bapak adalah teroris ya?)sama seperti kasus pki yang anak-anak dan keturunan dari keluarha penganut paham pki sangat sulit sekali diterima oleh masyarakat?
5. Apakah sang anak harus menanggung dosa si bapak (yang mungkin memang teroris itu) dengan membawa atau sudah kadung distempel anak teroris berkepribadian anarkis?

Terus terang, memang saya belum pernah mengangkat kasus bom marriot dan ritz-carlton itu di blog saya yang jelek ini. Bukan tidak perduli bukan tidak empati, justru sangat saya empati sekali, tapi sekali lagi saya tidak mau gegabah bilang ini itu begini begitu. Saya juga benci kepada pihak terkait yang dengan sengaja melakukan hal keji itu. Mereka tidak menyadari kalau yang mereka bunuh adalah orang-orang tak berdaya yang adalah anak, ibu, bapak, istri, suami, seseorang di luar sana, yang menyandarkan hidupnya pada mereka, yang harus kehilangan mereka dan yang pergi dan tak mungkin dihidupkan lagi.

Tapi, saya juga sedih atas pemberitaan itu, tanpa bermaksud membela si pengebom atau teroris yang bersembunyi dibalik semua ini. Apakah sang anak teroris itu bersalah?apakah bahkan dia tahu yang dilakukan ayahnya itu? Dan apakah lagi sang anak memiliki kemampuan untuk merubah kebiasaan bapaknya?

Anak bagi saya adalah mutiara terindah dalam hidup, mereka akan bersinar bila dipoles setiap hari dengan segala kebaikan. Pada waktu kita (para wanita) sudah diketok palu oleh Yang Kuasa untuk mengandung seorang anak, saat itulah sudah teken kontrak seumur hidup untuk melindungi, menyayangi, mendidik dan menjada amanah itu dengan baik dari segala ancaman dunia dan akhirat. Anak tak akan pernah tahu dosa dan amalan baik tanpa peran sang orang tua dan lingkungan sekitar. Anak adalah masa depan keluarga, dan bangsa ini. Jadi, kalau dari awal kita sudah menjudge mendiskerditkan karakter anak, menurut saya yang bodoh ini, sama saja dengan sudah mendiskreditkan bangsa dan masa depan negeri ini.

Hanya opini seorang yang sangat perduli dengan anak….:(

Advertisements

2 thoughts on “anakku mutiaraku

  1. Halo Mbak Ateta, salam kenal, saya tahu blog ini dari ngerumpi…

    Tergelitik dengan headline itu, saya rasa saya bisa nebak apa merk korannya. Gini, positioning tiap koran kan beda-beda. Kebetulan koran yang mbak baca ya segmen pasarnya menginginkan hal-hal bombastis, penuh retorika, drama, dan darah. Jadi pemilihan judul dan angle beritanya itu sengaja, bukan karna terburu-buru mau naik cetak.

    Memang memprihatinkan…apalagi dalam kasus ini si anak jadi korban. Etapi menurut saya jurnalisme cetak masih mending, karena kita harus beli untuk bisa mengonsumsinya. Jadi kita bisa sebagai konsumen lebih mudah memilah-milah. Mbak gak pernah tertarik baca koran itu kan? Kalo tipi, mayoritas gratisan, jadi mereka lebih ngawur 😦

  2. hai jeung, makasih udah mampir…ya saya faham kok maksud , tendensi, dan tujuan artikel itu dibuat dan sasaran kelasnya. tapi ah, yang sedihnya lagi menurut saya makin banyak lah orang akan dibuat bodoh dengan hal-hak yang kayak gitu di indonesia ini. sedih ya ? 😦

    dan kalo tipi, ini sepakat dengan paham dari sahabat saya, tipi ituh sakit jiwa,,:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s