2 menit yang melelahkan

saya tidak bisa mengkategoerikan dengan tepat sebenarnya apa isi postingan saya kali ini. maklum sekali lagi karena saya bukan penulis seperti yang saya tuangkan di sini, jadi setiap kali saya menulis yah semua mengalir apa ada nya sesuai isi hati, kepala, dan keinginan jari untuk menekan keyboard.

semua bermula dari rencana saya dan bos yang memang suka mengatur segala-gala sedemikian rupa, sehingga menurut saya suka memilih jalan keluar yang ajaib *but it works anyway*. sore itu, sepulang dari lab, saya sudah janjian dengan Pak Bos di stasiun Depok lama untuk memberikan hasil pekerjaan hari itu, karena Pak Bos tidak ke Lab. Saya menggunakan kereta ekspress yang memang hanya berhenti sesaat di stasiun Depok itu, lalu melanjutkan perjalanannya lagi. Jadi, biasanya kalau saya dan Pak Bos janjian kasih hasil pekerjaan, saya hanya akan berdiri di pintu kereta, sementara pak Bos menunggu di peron, tepat di gerbong saya berada, dan begitu pintu terbuka terjadilah transaksi kami, *kok kayak jual beli apaa gitu*. hebatnya, pintu kereta kembali menutup kemudian berjalan lagi dan pak Bos pun menghilang dari pandangan saya tanpa berkata banyak selain menerima hasil pekerjaan sayah.

Sore kemarin, kami berencana melakukan kebiasaan itu lagi. Namun, sangat disayangkan Pak Bos terlambat menyambangi stasiun, walhasil mengingat pekerjaan hari itu penting untuk Pak Bos terima, saya terpaksa mengalah turun dari kereta dan menunggu Pak Bos datang yang hanya terlambat dua menit dari jalannya kereta yang saya naiki tadi.

Bercakap sebentar, Pak Bos pun pulang, sementara saya menunggu kereta ekspres berikutnya yang menurut jadwal akan datang 15-20 menit lagi. Sementara menunggu, beberapa kali kereta ekonomi dengan tujuan yang saya ingini melintas dan berhenti di stasiun itu. Namun, menurut saya, bunuh diri kalau saya paksakan naik kereta itu. Penuh, sesak, banyak copet, panas, pokoknya tidak kondusif.Jadi, saya tetap berencana menunggu kereta pakuan saya.

satu jam berlalu, tak ada kabar berita, kereta ekspress yang saya tunggu tak kunjung datang. sekitar jam 7 kurang seperempat, barulah ketahuan kalau ada kereta ekonomi yang mogok sehingga menghambat jalannya kereta lain di belakangnya, termasuk kereta pakuan saya. sebagai gantinya, PT.KAI menyediakan kereta ekonomi untuk tujuan tempat tinggal saya yang tadinya akan masuk DIPO.

berhubung sudah malam, saya memilih untuk menaiki kereta pengganti itu. sedikit ada rasa khawatir, takut penuh, sesak, bla-bla-bla, tapi karena perjalanan masih sekitar 30 km lagi, saya memilih untuk duduk manis di kereta.Dan ternyata firasat saya benar adanya. kereta ekonomi yangs aya tumpangi, keberangkatannya menunggu kereta ekonomi mogok yang sedang didorong kereta ekspres. Bayangkan, seluruh penumpang kereta ekonomi mogok itu tumpah ruah ke dalam kereta ekonomi sayah, Peluh, bau, sumpek, sampai saya berdoa pada Alloh, agar saya tidak mati kehabisan udara di alam kereta itu. Hebatnya lagi, PT KAI,  tidak menjalankan kereta “sumpelan” itu dengan segera kendati para penumpang sudah berteriak kepanasan kegerahan capek letih lelah. Malahan, kereta ekonomi itu harus menunggu keberangkatan dua kereta ekspress yang akan lewat..

AH…sedihnya jadi orang miskin di negeri ini. hidup hanya berhargakan tiket sekian ribu perak. tanpa udara, tanpa angin dan tanpa ketepatan waktu. sungguh, rasanya muak sekali dengan keadaan itu, bukan karena saya ada di dalamnya, tapi saya memikirkan dimana hak-hak orang kecil untuk mendapatkan transportasi publik yang layak. sedianya, saya selalu naik kereta pakuan, tetapi malam itu Tuhan berkehendak saya untuk melihat ke bawah, merasakan penderitaan mereka. *bayangkan kalau ada anak kecil yang digendong ibunya di dalam kereta sumpelan itu*, bayangkan lagi kalau anda lapar, haus tetapi ongkos di kantong tak cukup untuk membeli makanan, atau mungkin tak lagi bisa membeli makanan dalam keadaan yang tidak manusiawi itu.

tapi tunggu, …urgghhh,,,saya benciii…tidak jadi membela kaum papa…sungguh mereka juga tega terhadap hidup mereka…bisa-bisanya di tengah kepadatan itu mereka mengepulkan asap yang tebal…catat, semua lelaki di sekeliling saya merokok..dengan kandungan oksigen pas-pasan..

sungguh keterlaluan..mereka bahkan lebih memilih rokok daripada hidup, dan mereka menularkannya kepada orang lain termasuk saya. ternyata benar kata teman saya sepuluh tahun lalu.

“gue gak habis pikir, kenapa ya orang miskin yang sekolahnya pas-pasan masih sempet-sempetnya nambahin masalah hidup dengan merokok?”

Tuhan, saya tahu saya tidak sempurna, tetapi kalau malam ini saya terpilih jadi presiden republik ini, dengan kepenuhan hati saya akan mundur teratur. sungguh, tak tahu harus bagaiman mengedukasi penduduk negeri ini, berdisiplin, hidup sehat, teratur, dan menjaga lingkungan bersama-sama.sungguh, saat itu saya muak, dengan semuanya, yang papa yang kaya yang punya jabatan tapi tak menggunakan hak dan kewajiban sebagaimana mestinya, yang lupa bahwa hidup ini akan ada muaranya dimana semua yang dilakukan akan dimintai tanggung jawab..

dear Lord, please remind me that i do not live only for my self, but U created me to be the part of nature and human social life

The more the merrier…

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membahas masalah ini di blog saya ini. Tapi nggak tahu kenapa kadang kalo punya ide menulis suka menguap kalo tidak buru-buru direalisasikan. Jadi aji mumpung melihat dan merasakan ide itu baru saja, akhirnya tibalah saatnya saya mngungkapkan pikiran dan pendapat saya di sini.

Masih inget masa kecil dulu? Mari saya ingatkan kalo anda sudah mulai lupa. Ingat kan waktu kita masih pakai seragam Taman Kanak-kanak (yang punya saya itu warnanya dress ungu-kemeja lengan panjang putih, dan kemeja putih-rok pink-dan vest pink-ya ampun oot banget yang ini), kita suka sekali bermain bersama teman-teman. Mulai dari kejar-kejaran, main permainan yang ada di dsekolah, main boneka di dalam ruang kelas, atau sekadar main tinju-tinjuan buat yang cowok. Hmm, seru yah, sukanya bergerombol, kesana kemari bareng-bareng pegangan tangan. Bertemannya tidak ada batas. Intinya pilihan masih ada di kita untuk berteman dengan si A, si B, si C, si D atau berteman dengan Ibu Guru sekalipun.

Melangkah ke sekolah dasar, wah yang ini lebih rame lagi. Teman yang kita pilih sungguh tak terbatas, mau berteman dengan teman sesama jenis, lawan jenis, adik kelas, sampai kakak kelas juga nggak ada yang larang. (ah, saya punya cerita menarik kalau ingat cerita SD ini). Walaupun harus diakui semakin besar biasanya anak SD mulai deh membuat gerombolan preferensi teman alias genk-genk. Apalagi SMP dan SMA, waduh itu mah masa-masa indahnya hidup bergerombol, kecuali anda punya kecenderungan untuk staying alone, ya itu out of category ya???…

Nah, mulai menginjak perkuliahan nih, beberapa justru merasakan puncak ketenaran karena bisa bergaul dengan belahan fakultas atau jurusan atau mungkin lain kampus sekalian *mungkin juga kesempatan tebar pesona*, tetapi beberapa yang lain justru mulai terperengkap dalam idealismenya sendiri, mulai   dari prestasi akademik, organisasi keagamaan, sampai kegiatan-kegiatan mahasiswa. Walaupun nih, biasanya mulaid ari SMA samapai kuliah ini seseorang mulai deh menambatkan hati pada lawan jenisnya yang berakhir dan berujung ke pernikahan. *duh, curcol banget yang ini*.

Yang menggelitik buat saya adalah, saat kita memasuki dunia kerja, atau dunia sekolah yang lebih lanjut seperti pasca sarjana. Sadarkah anda, betapa kegembiraan hidup sosialisasi kita mulai berkurang seiring dengan pertambahan umur? Kebanyakan teman saya, justru kesulitan mencari teman sebaya pada saat baru mulai masuk dunia kerja, karena biasanya sudah harus blending *juice kali blending* dengan para pekerja paruh baya, atau bisa dikatakan bapak-bapak ibu-ibu yang orientasinya sudah anak dan keluarga. Mungkin kalau yang sudah punya pasangan akan bertahan dengan kehidupan akhir pekan yang biasnaya diisi bersama sang pacar sebelum meretas kembali hari-hari kerja dengan orang-orang bertautan usia cukup jauh. Tetapi, kebanyakan lagi bahkan sudah tidak punya teman yang bisa diajak kumpul bareng, karena sang teman pun sudah melangsungkan kehidupannya sendiri *menikah, punya anak, pindah keluar negri, bla-bla-bla-bla*

Miris ya? Padahal kita punya segudang teman sebelumnya, yang bisa berbagi, bercerita, menikmati kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama, namun semua itu kebanyakan *ada sih yang masih bertahan* harus dibayar dengan bertambahnya usia dan kebutuhan. Sejauh manakah semua ini berpengaruh pada hidup kita? Kalau saya , berpengaruh, banget malah. Buat saya hidup adalah fase dimana saya banyak menemui Y junction atau kadang kadang quarter junction dan many-many junction yang harus saya putuskan akan hendak kemana dan bersama siapa. Kadang-kadang junctions itu tak kita sadari sudah datang dan menghampiri hidup dan mungkin tidak kembali karena kita terlalu asik dengan pilihan kita sendiri. Atau adakalanya, kita melirik ke jalur sebelah yang tidak kita pilih dan sedikit rasa iri di hati dan berkata mengapa dulu jalur itu tidak kita pilih?

Teman akan selalu datang dan pergi, sama seperti usia. Mereka tidak akan ada selamanya untuk kita, karena teman adalah kita yang juga harus memiliki hidup sendiri untuk mempersiapkan masa tua nanti dengan tidak seorang diri tentunya. Namun, bila pilihan menua nanti pun menjadi sendiri, mari dihadapi dengan senyuman, keihlasan dan kerelaan. So, which junction will you take?

pada suatu ritme

hampir 1.5 bulan ini saya berada dalam puncak kehctican. rincian pekerjaan yang menggunung, jauhnya perjalanan setiap hari yang harus di lewati dengan segala embel-embelnya (baca:macet, jadwal kereta mogok, cuaca yang tidak bersahabat) dan kerap kali kehilangan status saya sebagai Ibu, Istri dan teman, dan yang tentunya dihinggapi banyak orang belakangan ini adalah kondisi perekonomian yang morat-marit entah karena subprime mortgage atau apalah itu.

biasanya kalau sudah sampai kondisi yang seperti ini , saya mau muntah, semuntah-muntahnya. entah kenapa.sudah settingan lambung , usus dan kelenjar hipotalamus sepertinya.

tapi, dibalik hari-hari yang melelahkan jiwa raga dan kantong ini, ada hal-hal baik pula yang berhasil dilalui.

If I only could say, I am tired of this circumstances, feeling and thought. Would you help me on this Lord?

saya bukan penulis

Berbekal dari rasa kantuk yang belum kunjung datang, entah akibat teh susu yang barusan saya teguk atau sakit leher hasil salah bantal tadi malam, akhirnya saya menulis lagi. Dan kali ini menulisnya pun dalam kegelapan, di samping anak dan suami yang sudah tertidur lelap. Ah, jadi ingat masa-masa menulis tesis yang tak kunjung usai (tapi alhamdulilah usai juga akhirnya) itu. Setiap malam, saya mengutak-atik isi draft yang kesekian puluh kali mengalami perbaikan dari dosen pembimbing. Semua itu saya lakukan karena sulit bagi saya menulis tesis di siang hari bolong saat anak saya yang masih kurang dari setahun itu meminta perhatian. Walhasil, saya mengurangi waktu tidur dengan bekerja di malam hari, mulai dari searching jurnal, baca, membuat catatan, sampai akhirnya menulis. Perjalanan yang panjang dan akhirnya berbuah manis.

Omong-omong soal menulis, sesuai dengan judul posting saya kali ini, sedikit berbagi betapa saya sangat bukan seorang penulis, tapi saya sok jadi penulis. Kenapa saya bilang sok jadi penulis? Ya itu, karena saya berusaha terus membuat tulisan dari jaman nya film The Cosby Show di TVRI yang masih jaya, sampai kini sinteron melanda dan saluran televisi berita mulai sikut-sikutan . Rupanya macam-macam pula.

Entah kapan saya pertama kali mulai menulis, yang jelas dulu saya punya banyak catatan harian alias diary. Iya, itu loh diary jaman masih pakai rok putih merah. Kalau nggak salah (maklum ini udah tua, ingatan sudah berkurang), diary pertama saya warnanya pink, gambarnya saya lupa, isinya, haduh malu saya..standar deh, cerita anak sekolah dasar yang mungkin di sekolah tadi berantem sama temennya, mulai naksir-naksir lawan jenis, sampai hal-hal yang aneh bin ajaib. Di jaman SD, saya punya 3 atau empat diary. Semuanya hampir penuh dengan coretan saya, walaupun kadang-kadang meaningless juga kalau dibaca.

Nah, berangkat ke sekolah menengah pertama, saya masih punya dan isi diary walaupun intensitas agak sangat berkurang. Isinya juga sudah mulai dewasa. Mulai dari curhatan temen kekesalan sama orang tua dan yang pasti cinta monyet alakadarnya. Hal serupa juga terjadi saat saya menginjakkan kaki di SMA. Bedanya, saya malah berusaha membuat cerpen. Tapi dasarnya tidak bakat, selalu tidak berujung, alias berhenti di tengah jalan.

Sedangkan jamannya kuliah, so pasti sudah berlagak dewasa, jadi tidak lagi merengek pada catatan harian. Melainkan sudah sama teman sebaya. Walhasil, kegemaran saya menulis juga hilang dan hanya kadang-kadang timbul saat berkirim email ke teman-teman.

Barulah setahun yang  lalu, saya kembali punya catanan, (meskipun bukan harian ya?) Catatan yang dulunya saya tuangkan pada diary,kini saya tuangkan pada blog saya yang sudah berganti tema kesekian kalinya demi membunuh rasa bosan.

Berdasarkan fakta-fakta yang berkembang, tampak sangat jelas terlihat kalau saya tidak pandai menulis. Tulisan saya kadang tidak memiliki arti, tidak kesampaian di otak pembaca, kerap kali saya memiliki missing link yang membuat pembaca heran dengan tulisan ini. Tak heran pula kalau butuh waktu hampir setahun buat saya untuk menulis tesis. Dan hingga kini pun, saya merasa, tulisan saya kadang kehilangan arah, tidak berklimalks, tidak memiliki emosi ataupun paparan yang jelas pada pembaca. Tapi, entah kenapa ya, terjadang saya hanya ingin menulis, seperti yang hati ini inginkan, Tidak melulu dikaidahi dengan segala embel-embel ataupun keharusan kiri dan kanan. Intinya, menulis adalah salah satu bentuk wujud saya yang sederhana

Ah, apapun itu, semoga sajah, saya bisa lebih baik menulis, ketimbang berbicara. Bukankah itu sebabnya Sang Kholikmenciptakan 2 telinga ketimbang 2 mulut?


when I was..finally..accepted

akhirnya, saya menulis lagi..dengan segala kekurangan dan kelemahan yang saya miliki…
ah sudah lama sekali saya absen dari blog saya yang kumuh ini (berniat ganti tema), tapi tiada kunjung sempat memposting tulisan alakadarnya saya yang sudah numpuk di draft ituh..dan baiklah mari saya mulai lagi menulis di tahun 2010 ini…

kalau lihat postingan saya kali ini, judulnya tentu vice versa dengan postingan saya yang ada di sini, tapi intinya yah memang ini cerita kebalikan dari postingan itu..

setelah berjuang hampir setahun mencari-cari, mengirim aplikasi, minta refrensi ini dan itu, akhirnya aplikasi sekolah doktoral saya diterima 2 Feb 2010 kemarin. Atas rekomendasi dari bos saya, sebuah institusi penelitian di Jepang bersedia menerima saya sebagai Junior researcher yang juga berpredikat sebagai mahasiswa doktoral..Bahagia, tentu lah, alhamduliah, senang..pasti, tapi seperti juga tulisan saya yang di mari, sedih juga mengingat harus berpisah dengan suami dan anak, serta orang tua sementara waktu. Ah, sudahlah saya nggak mau membahas yang itu, takut mellow lagi seperti tangisan yang saya keluarkan barusan saat meninabobokan anak saya.
saat ini mendingan saya cerita tentang proses aplikasi saya, semoga bermanfaat dikemudian hari.

bulan oktober, selagi masih Ramadhan 1430 H, bos saya tiba-tiba menelpon malam-malam untuk tanya tentang keseriusan saya mau sekolah lagi di luar negeri, dan akhirnya keluarlah informasi seorang koleganya di Jepang sedang mencari Junior Researcher (JR) sekaligus mahasiswa doktoral. Singkat cerita saya langsung setuju, dan di bulan November 2009, saya dan kolega bos saya itu bertemu di Jakarta. Menindaklanjuti keseriusan saya, aplikasi formal pun dikirim, saya lolos seleksi administratif, dan harus mengikuti ujian seleksi di Tsukuba pertengahan Januari 2010.

Dua minggu lalu, saya datang ke Tsukuba yang sedang winter dengan suhu 3 derajat celcius *wow*, suhu terendah sesaat dalam hidup saya. Tsukuba jauhnya sekitar 60 km dari Tokyo, terkenal dengan julukan science city karena banyak sekali institusi penelitian di sana.

Hari pertama di Tsukuba, saya dijamu oleh kolega bos saya dan keluarganya, *ah, jadi kangen anak dan suami*.Hari kedua, saya presentasi tentang personal research accomplishment dan paper review di hadapan prospectus profesor saya dan beberapa senior researcher di institusi itu. Tanggapan mereka cukup welcome, meskipun banyak juga catatan yang saya terima dari sana sini, tapi whatever lah. Hari ketiga, saya dinyatakan lulus sebagai JR, tapi saya masih harus seleksi lagi untuk jadi mahasiswa Hokkaido University tempat saya akan tercata sebagai mahasiswa kalau lulus. Akhirnya, kami berangkat ke Sapporo tempat Hokkaido Univ (HU). berada dengan 1.5 jam perjalanan pesawat. Saya tak sendirian selama mengikuti seleksi itu, ada seorang aplikan lain dari Cina yang juga seorang manager di Sony China.
Hari ke-empat, Sapporo, utara Jepang dan saya akhirnya menginjakkan kaki di atas salju pertama kali dalam hidup dengan suhu -10 derajat celcius. Berusaha bertahan dengan dinginnya udara luar, saya lebih berusaha untuk mengsinkronkan hati, otak, dan mulut untuk mulai presentasi di depan perwakilan dari HU. Waktu 30 menit yang selama latihan di Tsukuba selalu berlebih, akhirnya pas juga untuk saya menyelesaikan dua sesi presentasi sekaligus tanya jawab. Pfuih, what a…. Alhamdulilah, saya lega, kendati belum tau hasilnya, tapi setidaknya I’ve done it.

Sembari meniti hujan salju *or should I say “badai salju”* yang membuat tangan saya yang sudah bersarung ini tetap kaku sehingga tidak bisa memijit tombol train ticket itu, saya mencoba bertahan. Migren pun datang, batuk pilek kembali menyerang. Koyo pemberian kolega si Bos pun nggak ngaruh *karena lebih panas koyo cabe made in Indonesia :)*..
Akhrinya , saya kembali ke Indonesia, dengan senyuman dari kolega si Bos dan prospectus profesor sayah.

Satu minggu berlalu, suatu siang di sebuah laboratorium di rumah sakit kanker di Jakarta, saya tertegun membaca email dari sang Professor yang menyatakan saya diterima, *kendati 3 hari sebelumnya Bos saya sudah dapat bocoran dari koleganya yang bilang “impressed” dengan presentasi saya…alhamdulilah..pencarian itu berakhir pula..

Billion of thanks that I want to express for my boss, who bring me up here *yang mungkin juga membaca blog saya ini*, who inspires me in what I did and do now, and who gives me a role model how to be a persistent person with honest and modest way…*makasih banyak ya Pak*

Also, million of thanks to my supervisors, Pak Dahrul, Ibu Dewi, Ibu Vanny, dan Ibu Welly..yang mengajarkan saya beragam cara untuk tetap tangguh, tak kenal lelah mengejar impian, dan tak pernah letih berusaha..Terima kasih banyak Bapak dan Ibu-Ibu..

And measureless thanks to My Beloved Husband and Son, yang selalu paham keinginan Bunda untuk terus mencari dan mencari…semoga perjuangan kita ini membuahkan hasil..dan Ibu, untuk semua pengorbanan yang tiada henti buat anaknya ini..* I LOve U Mom, and Ialways will*

Ini adalah awal dari pencarian saya, and there will be another story that might include tears and laugh…as life should be..

good news is not always a good one

Apa perasaan anda setiap kali mendapat kabar yang baik atau bagus alias good news? Senang bukan? Tentunya seperti itu secara keseluruhan kan. Tapi pengalaman saya beberapa kali baik yang saya alami sendiri maupun hasil curhat teman, rekan, keluarga atau siapalah, di balik good news itu biasanya ada hal-hal yang tidak baik. Maksud saya kalau terdengar berputar-putar, setiap kali kita mendapatkan kabar yang bagus, pasti akan ada efek yang tidak bagus juga, yang pada akhirnya akan kita rasakan.

Contohnya, waktu saya sedang sangat-sangat berharap sekali bisa dapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke negara antah berantah dimanapun itu. Setiap kali saya mencoba mengajukan lamaran untuk beasiswa, (karena saya bersikukuh tidak mau sekolah dengan uang sendiri disamping untuk pencapaian dan yang paling utama karena memang nggak ada dananya :D), setiap kali pula sejuta pengharapan biar aplikasi saya diterima, dan saya bisa meluncur ke negara entah berantah itu dan semua cita-cita saya bisa tercapai. Tetapi demi segala pengharapan yang beberapa kali itu pula harus saya tepis, karena berulang kali pula saya ditolak. Sebenarnya sih saya sudah persiapkan mental sekuat baja untuk hadapai penolakan ini, tapi ya tetap aja agak sepet bagaimana gitu kalo ditolak. Namun, giliran itu tiba, saat ada salah satu institusi yang mau menampung saya untuk jadi TKI, dengan segala kebahagiaan yang membuncah ini, saya juga sedikit sedih takut dan agak miris mengingat harus berpisah dengan si kecil untuk sementara waktu.

Atau, cerita lain, versi teman saya yang sangat berada dalam fase pencarian jati diri dengan segala daya upayanya untuk mencari tempat berprestasi (baca: kantor) yang sesuai dengan pengharapan. Maksudnya : gaji sesuai pengalaman, bisa sekolah, bisa berkarier, bisa tetap eksis, tapi bisa juga naik haji dengan gajinya itu, dan juga bisa ketemu jodoh. Yah, memang syaratnya rada banyak, tapi bagaimana lagi namanya juga kepingin, yah harus dihargai lah. Terakhir versi curhatnya adalah mau dapet kerja di multinational company yang bisa mengantarkan dia jalan-jalan juga kemana-mana. Dia juga sempat bilang demi mencapai tujuannya itu, dia sudah hunting kerja kesana kemari bahkan sampai ke instansi pemerintah segala (padahal dia kerap kali bersungut tentang kinerja karyawan pemerintah ini). Nah, berita terkini, dia diterima di sebuah perusahaan yang cukup kualified dengan bayaran double, eh ditambah lagi dia dapat tawaran juga untuk jadi pegawai negeri di tempat lain. Benar-benar kabar yang baik at least begitu kata dia di berbagai jejaring sosial. Tapi ternyata kabar baik itu pula tak selamanya baik karena kini dia bingung memutuskan akan kemanakan dia mengambil tempat kerja di kemudian hari kelak? Karena di satu sisi dia ingin bekerja di tempat yang memberinya bayaran double itu, tapi di sisi lain orang tuanya akan sangat senang kalau dia menerima tawaran di instansi pemerintah itu. Nah kan??