2 menit yang melelahkan

saya tidak bisa mengkategoerikan dengan tepat sebenarnya apa isi postingan saya kali ini. maklum sekali lagi karena saya bukan penulis seperti yang saya tuangkan di sini, jadi setiap kali saya menulis yah semua mengalir apa ada nya sesuai isi hati, kepala, dan keinginan jari untuk menekan keyboard.

semua bermula dari rencana saya dan bos yang memang suka mengatur segala-gala sedemikian rupa, sehingga menurut saya suka memilih jalan keluar yang ajaib *but it works anyway*. sore itu, sepulang dari lab, saya sudah janjian dengan Pak Bos di stasiun Depok lama untuk memberikan hasil pekerjaan hari itu, karena Pak Bos tidak ke Lab. Saya menggunakan kereta ekspress yang memang hanya berhenti sesaat di stasiun Depok itu, lalu melanjutkan perjalanannya lagi. Jadi, biasanya kalau saya dan Pak Bos janjian kasih hasil pekerjaan, saya hanya akan berdiri di pintu kereta, sementara pak Bos menunggu di peron, tepat di gerbong saya berada, dan begitu pintu terbuka terjadilah transaksi kami, *kok kayak jual beli apaa gitu*. hebatnya, pintu kereta kembali menutup kemudian berjalan lagi dan pak Bos pun menghilang dari pandangan saya tanpa berkata banyak selain menerima hasil pekerjaan sayah.

Sore kemarin, kami berencana melakukan kebiasaan itu lagi. Namun, sangat disayangkan Pak Bos terlambat menyambangi stasiun, walhasil mengingat pekerjaan hari itu penting untuk Pak Bos terima, saya terpaksa mengalah turun dari kereta dan menunggu Pak Bos datang yang hanya terlambat dua menit dari jalannya kereta yang saya naiki tadi.

Bercakap sebentar, Pak Bos pun pulang, sementara saya menunggu kereta ekspres berikutnya yang menurut jadwal akan datang 15-20 menit lagi. Sementara menunggu, beberapa kali kereta ekonomi dengan tujuan yang saya ingini melintas dan berhenti di stasiun itu. Namun, menurut saya, bunuh diri kalau saya paksakan naik kereta itu. Penuh, sesak, banyak copet, panas, pokoknya tidak kondusif.Jadi, saya tetap berencana menunggu kereta pakuan saya.

satu jam berlalu, tak ada kabar berita, kereta ekspress yang saya tunggu tak kunjung datang. sekitar jam 7 kurang seperempat, barulah ketahuan kalau ada kereta ekonomi yang mogok sehingga menghambat jalannya kereta lain di belakangnya, termasuk kereta pakuan saya. sebagai gantinya, PT.KAI menyediakan kereta ekonomi untuk tujuan tempat tinggal saya yang tadinya akan masuk DIPO.

berhubung sudah malam, saya memilih untuk menaiki kereta pengganti itu. sedikit ada rasa khawatir, takut penuh, sesak, bla-bla-bla, tapi karena perjalanan masih sekitar 30 km lagi, saya memilih untuk duduk manis di kereta.Dan ternyata firasat saya benar adanya. kereta ekonomi yangs aya tumpangi, keberangkatannya menunggu kereta ekonomi mogok yang sedang didorong kereta ekspres. Bayangkan, seluruh penumpang kereta ekonomi mogok itu tumpah ruah ke dalam kereta ekonomi sayah, Peluh, bau, sumpek, sampai saya berdoa pada Alloh, agar saya tidak mati kehabisan udara di alam kereta itu. Hebatnya lagi, PT KAI,  tidak menjalankan kereta “sumpelan” itu dengan segera kendati para penumpang sudah berteriak kepanasan kegerahan capek letih lelah. Malahan, kereta ekonomi itu harus menunggu keberangkatan dua kereta ekspress yang akan lewat..

AH…sedihnya jadi orang miskin di negeri ini. hidup hanya berhargakan tiket sekian ribu perak. tanpa udara, tanpa angin dan tanpa ketepatan waktu. sungguh, rasanya muak sekali dengan keadaan itu, bukan karena saya ada di dalamnya, tapi saya memikirkan dimana hak-hak orang kecil untuk mendapatkan transportasi publik yang layak. sedianya, saya selalu naik kereta pakuan, tetapi malam itu Tuhan berkehendak saya untuk melihat ke bawah, merasakan penderitaan mereka. *bayangkan kalau ada anak kecil yang digendong ibunya di dalam kereta sumpelan itu*, bayangkan lagi kalau anda lapar, haus tetapi ongkos di kantong tak cukup untuk membeli makanan, atau mungkin tak lagi bisa membeli makanan dalam keadaan yang tidak manusiawi itu.

tapi tunggu, …urgghhh,,,saya benciii…tidak jadi membela kaum papa…sungguh mereka juga tega terhadap hidup mereka…bisa-bisanya di tengah kepadatan itu mereka mengepulkan asap yang tebal…catat, semua lelaki di sekeliling saya merokok..dengan kandungan oksigen pas-pasan..

sungguh keterlaluan..mereka bahkan lebih memilih rokok daripada hidup, dan mereka menularkannya kepada orang lain termasuk saya. ternyata benar kata teman saya sepuluh tahun lalu.

“gue gak habis pikir, kenapa ya orang miskin yang sekolahnya pas-pasan masih sempet-sempetnya nambahin masalah hidup dengan merokok?”

Tuhan, saya tahu saya tidak sempurna, tetapi kalau malam ini saya terpilih jadi presiden republik ini, dengan kepenuhan hati saya akan mundur teratur. sungguh, tak tahu harus bagaiman mengedukasi penduduk negeri ini, berdisiplin, hidup sehat, teratur, dan menjaga lingkungan bersama-sama.sungguh, saat itu saya muak, dengan semuanya, yang papa yang kaya yang punya jabatan tapi tak menggunakan hak dan kewajiban sebagaimana mestinya, yang lupa bahwa hidup ini akan ada muaranya dimana semua yang dilakukan akan dimintai tanggung jawab..

dear Lord, please remind me that i do not live only for my self, but U created me to be the part of nature and human social life

Advertisements

2 thoughts on “2 menit yang melelahkan

  1. saya pernah dibilang jahat waktu saya berkata bahwa saya menyetujui kebijakan Fauzi Bowo yang akan menghilangkan hak askes buat mereka yang merokok.

    biarin. kalo mampu ngerokok berarti kan enggak miskin. ya gak usah punya askes. lha terus keluarganya? kalo dia peduli keluarganya, harusnya dia berhenti ngerokok.

    biarin jahat. bwek.

  2. Te, kadang g suka mkhayal..
    Kalau disekeliling merokok..I will smoke either.
    Akhirnya g sekeluarga komitmen antara
    G,suami dan anak.
    Salah satu anggota keluarga mereka..
    Kita kudu merokok jg.biar moral obligation de
    Qiqiqi..tega ga ya davin liat mommynya ngerokok hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s