dan aku pergi

dan ternyata dingin belum beranjak pergi ketika kaki ini menginjak Tsukuba. bahkan kini rasanya dingin itu kian menusuk ke dalam tulang tanpa ampun. memang tidak separah belahan utara Jepang seperti Hokkaido, namun entah kenapa hari ini dingin itu lebih menggerogoti saya. mungkin karena kali ini dingin itu tersimpan rapat dalam lubuk hati saya terdalam. menjalar ke seluruh vena dan arteri memperpanjang rasanya hingga tarikan nafas saya terasa berat di hidung.

dan saya telah pergi. ribuan mil jauhnya dari tempat yang saya sebut rumah saya selama ini. bukan karena rumah kecil saya yang belum segenap 365 hari saya tempati, walaupun sudah ada coretan khas anak saya di dindingnya. tapi jauh dari rumah tempat cinta dan kasih saya dapat dan berikan.

sudah berminggu-minggu lalu saya membayangkan hal ini. jauh, sendiri, tanpa sang belahan hati.berminggu-minggu lalu juga saya takut menghadapi perpisahan saya dengan anak dan keluarga tercinta.sungguh, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa saya di kala saya benar-benar harus meninggalkan mereka. saat itu pun saya sudah menangis sejadi-jadinya.

dan kemarin, 30 maret 2010, saya benar-benar pergi meninggalkan orang-orang terkasih dalam hidup saya. ternyata semua tidak seburuk yang saya bayangkan, saya bhkan masih dapat melihat tawa anak dan suami saya tercinta. walaupun tak dapat dipungkiri, air mata ini tak kuasa untuk dibendung.

kini saya sendiri, hanya bermodalkan koneksi kabel untuk mencari apa yang saya sebut dengan rumah. tempat saya mencurahkan semua tangis dan tawa selama ini. tempat saya mendalami makna menjadi seorang dewasa, ibu dan istri.

ah sudahlah , saya jadi shallow mellow..semangat..saya datang hari ini untuk menjemput mimpi…..

as my facebook status today: And when my tears fall, he wiped those with his stare as if saying : “Dont Worry Bunda, we’ll be OK, and coming up to you soon”. And the moment I realized I left my halfsoul to a place where I recall as home.

rindu setengah mati

kalau dipikir bahasan kali ini akan menye-menye tentang cinta, tepat sekali.tapi jangan salah bukan cinta lawan jenis, eh alawan jenis juga deng, maksudnya bukan cinta saya sama suami, atau mantan pacar *loh?*, tapi rindu setengah mati saya pada Bapak saya yang sudah berbeda alam itu.

salah satu hal yang saya syukuri dengan keadaan saya sekarang ini *in which juga kadang menjadi alasan untuk tahu, kenapa sampai sekarang Alloh belum kasih rezeki untuk beli mobil sendiri* adalah menikmati perjalanan dalam kendaraan umum di Jakarta *catat ini* yang aneh bin ajaib itu. Mulai dari ketidaknyamanan, keterlambatan, kepenuhsesakan, pengemis, dan pengamen. Buat yang terakhir, kadang saya menikmatinya dengan sangat, kalau suaranya lagi bagus dan musiknya enak di denger. pernah itu kapan ya, ada pengaman yang..*walah, jadi nyimpang*.

Cerita soal pengamen ini, kadang mereka jago juga membuat emosi teraduk-aduk seperti habis nonton pilem three idiots yang hanya diputar di PP di jakarta, pasalnya mereka suka menyanyikan lagu yang bikin saya entah kenapa langsung menjadi mellow mewek di pagi hari yang cerah ceria dengan keadaan kendaraan penuh, tapi ini air mata sudah mau tumpah *yeah I am absolutely soooo lady*. ada satu lagu yang ampuuh banget membuat saya luluh lantak, biar bagaimana pun keadaan saya saat naik kendaraan umum itu. Oh bukan lagunya De nasib yang rindu setengah mati, tapi lagunya Ebbiet G. Ade yang judulnya ‘titip rindu buat ayah”..*ketauan banget kalau umur dan generasi nggak bisa bohong 😛

sudah sepuluh tahun semenjak kepergian Bapak saya tercinta. Kadang begitu besarrr rasa rindu saya sama Bapak. Sampe terlalu menyesakkan untuk diingat, dan semua rasa sepertinya tertahan di dada setiap kali teringat beliau. Kadang saya iri, sungguh seiri-irinya melihat teman sebaya yang masih bisa cerita ” babe gue, or Bokap gue bla..bla..bla…*apalagi kalau ada teman yang dihantarkan ke jenajang pernikahan dengan sang ayah. haduh, sungguh dulu waktu akad nikah dengan suami * ya iyalah maau akad nikah sama siapa lagi* air mata saya sudah meleber mengingat seandainya Bapak saya ada di situ melihat putri terkecilnya sudah mau jadi wanita.

Seluruh keluarga saya tahu, saya ini anak Bapak, yang di alem-alem kalau orang jawa bilang. Seluruh keluarga juga tahu, kalau ucapan saya bisa meluluh lantakan hati Bapak yang sekeras batu, sikap Bapak yang sangat patrilineal, dan kekhasan orang tua Jawa jaman dahulu. Usia saya dan Bapak itu terpaut cukup jauh, sekitar 47 tahun. Tapi saya selalu ingat, cuma saya yang setiap sore, atau saat masih kecil dulu suka diajak jalan-jalan naik vespa kesayangannya itu. Bapak lah yang setia mengantarkan saya ke dokter, dokter gigi, ambil rapot sekolah, bahkan kadang-kadang beli sepatu di toko Bata *ini tempat favorit Bapak*, dan selalu orang yang dimintai pendapat untuk buat takjilan di sore hari kala bulan Ramadhan. Bahkan, dulu Bapak pula yang nganterin saya survey lihat tempat buat UMPTN dan daftar kuliah di IPB Darmaga nun jauh dan panas itu. Dan seringnya kami hanya berdua, tanpa Ibu. Setiap kali kami berada dalam perjalanan itu, kami sebenarnya tidak banyak bicara, hanya sekali dua kali kata terucap, tapi entah kenapa seperti orang yang lagi jatuh cinta sudah chemically bounded begitu.

Dulu Bapak pernah bilang, selagi Bapak masih hidup, kamu harus sekolah yang bener, kamu harus beda dengan saudara-saudara mu yang lain, supaya bisa ngangkat derajat orang tua dengan ilmu kamu itu. Berhubung masih bau kencur, biasanya saya cuma ngangguk-ngangguk tanpa banyak kata kalau di nasehatin begitu. Dan semua janji itu terbukti. Dengan seluruh jiwa raga nya, pengorbanan yang sangat besar sudah beliau lakukan untuk kami, saya dan seluruh anak-anaknya. Hingga ajal menjelang dalam keadaang yang sangat ..ahh…susah saya gambarkan di sini.

Saya tahu, Gusti Alloh sudah sangat berbaik hati kepada saya dengan seluruh takdir yang sedang saya jalani ini. Mungkin juga dengan takdir untuk mengambil kembali Bapak dalam suatu kecelakaan parah di awal tahun 2000. Saya juga tahu Gusti Alloh punya maksud tertentu, mengapa Bapak tidak pernah melihat putri kecilnya ini lulus sarjana seperti yang suka dia banggakan begitu dulu tahu saya diterima di universitas negeri, Bapak tidak melihat putri kecilnya ini menikah dengan menantunya yang baik hati dan memberikan padanya tambahan cucu yang sehat, cerdas, dan menggemaskan. Bapak tidak pernah melihat semangat saya yang menggebu pingin sekolah lagi tanpa biaya sendiri sampai ke jenjang tertinggi dan ternyata diberikan jalan sama Ilahi. Tapi saya yakin, di suatu tempat Bapak saya tahu kalau ankanya mencintai beliau segenap hati, walau tanpa banyak kata dan rasa rindu setengah mati.

untuk Bapak, sepuluh tahun ini saya rindu………….

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

from Ebiet G. Ade-titip rindu buat ayah-

welcoming march!!!

1 Maret..2010…

ah, cepat sekali ya 2010 itu berjalan, tau-tau sudah di bulan ketiga..mari flashback dulu merenungi apa yang terjkadi 2 bulan kemarin..

skala international dulu…ada gempa di Haiti, Ryukyu dan terakhir Chille, dahsyat semua, rata-rata tergolong gempa besar di atas 6 SR.kalau ditanya keterkaitan antara semuanya, menurut saya mah yang hanya orang awam pasti ada, apalagi terjadi dalam kurun waktu yang berdekatan.seharusnya kita bersyukur ya, masih diberi kesehatan dan dijauhkan dari bencana macam itu

kemudian skala nasional..*sigh* sungguh saya sebenarnya nggak mau dan bener-bener malas kalau mengomentari keadaan negara ini. kurang tahu bagaimana caranya berkomentar tepatnya. tapi ini sudut pandang pribadi saya jadi biarkanlah adanya ya. entah kenapa saya mulai risih dengan gebrakan *kalau bisa disebut itu sebagai gebrakan* pansus century yang makin aneh dan nggak jelas arahnya itu. semakin hari semakin menggelikan saja, sampai beberapa hari ke belakang ini saya emoh baca koran guna melihat perkembangannya. pernah, ingin sekali rasanya menempatkan mereka pada posisi seperti saya terjepit di antara rebutan oksigen kereta itu seperti yang saya muat di sini supaya mereka paham, bangsa ini butuh pertolongan segera bukan tontonan adegan sana-sini yang tak kunjung jelas apa maunya.sekali lagi mohon maaf untuk mereka yang katanya mau mengusut tuntas kasus century itu, tapi masalah di negeri ini bukan hanya century..Bapak-bapak, Ibu-Ibu..

skala regional..euleuh yang ini keliatan maksa tapi ya, biarkan sajalah. akhirnya banjir juga, seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. seperti biasa lagi februari adalah bulannya banjir yang bersumber dari Ciliwung-Cisadane dari tempat bermuaranya pintu air Katulampa Bogor tempat saya tinggal. Jangan salah loh, beberapa tempat di Bogor juga banjir, alhamdulilah bukan tempat saya. Tetapi, menurut hemat saya lagi banjir kali ini relatif lebih mudah diprediksi ketimbang banjir-banjir tahun sebelumnya. *banjir kok diprediksi, mbok ya dihindari*

skala lokal, nah kalau yang ini ada cerita seru. dulu waktu saya masih gadis..*halah kayak lagu dangdut*, saya tinggal dengan Ibu dan kedua kakak saya di daerah Jakarta Pusat selama berpuluh tahun. Saat saya memulai hidup dengan suami tercinta, kami pindah ke Bogor dari rumah kontrakan satu ke rumah kontrakan lain dan akhirnya punya rumah sederhana sekali ini *yeay*. Kepindahan saya ke Bogor di tahun 2006 diikuti oleh ikutnya Ibunda tercinta di tahun 2007, menjelang kelahiran pangeran kecil saya, lalu disusul kakak perempuan saya yang ikut jadi kaum suburb di komplek perumahan saya ini. Nah, puncaknya minggu lalu kakak saya yang lelaki pun, ikutan memboyong keluarga ke rumah barunya di komplek saya ini.hahah..:). Jadilah kini, di awal maret 2010, nuansa kehidupan kumpulnya keluarga kami di Jakarta kembali terulang di Bogor..haduh ini urbanisasi massal ceritanya.

skala personal..nah, kalau yang ini, saya bingung mau mulai dari mana. yang jelas, bulan ini mungkin bulan terakhir saya sementara tinggal di Indonesia. akhir bulan nanti, saya sudah harus meninggalkan separuh jiwa saya ini ke Tsukuba. semua rasa campur aduk dalam hati. apalagi kalau lihat pangeran kecil saya itu..*mewek lagi deh*..doa saya dalam hati, Semoga Alloh memudahkan langkah saya dan keluarga di tahun ini.