rindu setengah mati

kalau dipikir bahasan kali ini akan menye-menye tentang cinta, tepat sekali.tapi jangan salah bukan cinta lawan jenis, eh alawan jenis juga deng, maksudnya bukan cinta saya sama suami, atau mantan pacar *loh?*, tapi rindu setengah mati saya pada Bapak saya yang sudah berbeda alam itu.

salah satu hal yang saya syukuri dengan keadaan saya sekarang ini *in which juga kadang menjadi alasan untuk tahu, kenapa sampai sekarang Alloh belum kasih rezeki untuk beli mobil sendiri* adalah menikmati perjalanan dalam kendaraan umum di Jakarta *catat ini* yang aneh bin ajaib itu. Mulai dari ketidaknyamanan, keterlambatan, kepenuhsesakan, pengemis, dan pengamen. Buat yang terakhir, kadang saya menikmatinya dengan sangat, kalau suaranya lagi bagus dan musiknya enak di denger. pernah itu kapan ya, ada pengaman yang..*walah, jadi nyimpang*.

Cerita soal pengamen ini, kadang mereka jago juga membuat emosi teraduk-aduk seperti habis nonton pilem three idiots yang hanya diputar di PP di jakarta, pasalnya mereka suka menyanyikan lagu yang bikin saya entah kenapa langsung menjadi mellow mewek di pagi hari yang cerah ceria dengan keadaan kendaraan penuh, tapi ini air mata sudah mau tumpah *yeah I am absolutely soooo lady*. ada satu lagu yang ampuuh banget membuat saya luluh lantak, biar bagaimana pun keadaan saya saat naik kendaraan umum itu. Oh bukan lagunya De nasib yang rindu setengah mati, tapi lagunya Ebbiet G. Ade yang judulnya ‘titip rindu buat ayah”..*ketauan banget kalau umur dan generasi nggak bisa bohong 😛

sudah sepuluh tahun semenjak kepergian Bapak saya tercinta. Kadang begitu besarrr rasa rindu saya sama Bapak. Sampe terlalu menyesakkan untuk diingat, dan semua rasa sepertinya tertahan di dada setiap kali teringat beliau. Kadang saya iri, sungguh seiri-irinya melihat teman sebaya yang masih bisa cerita ” babe gue, or Bokap gue bla..bla..bla…*apalagi kalau ada teman yang dihantarkan ke jenajang pernikahan dengan sang ayah. haduh, sungguh dulu waktu akad nikah dengan suami * ya iyalah maau akad nikah sama siapa lagi* air mata saya sudah meleber mengingat seandainya Bapak saya ada di situ melihat putri terkecilnya sudah mau jadi wanita.

Seluruh keluarga saya tahu, saya ini anak Bapak, yang di alem-alem kalau orang jawa bilang. Seluruh keluarga juga tahu, kalau ucapan saya bisa meluluh lantakan hati Bapak yang sekeras batu, sikap Bapak yang sangat patrilineal, dan kekhasan orang tua Jawa jaman dahulu. Usia saya dan Bapak itu terpaut cukup jauh, sekitar 47 tahun. Tapi saya selalu ingat, cuma saya yang setiap sore, atau saat masih kecil dulu suka diajak jalan-jalan naik vespa kesayangannya itu. Bapak lah yang setia mengantarkan saya ke dokter, dokter gigi, ambil rapot sekolah, bahkan kadang-kadang beli sepatu di toko Bata *ini tempat favorit Bapak*, dan selalu orang yang dimintai pendapat untuk buat takjilan di sore hari kala bulan Ramadhan. Bahkan, dulu Bapak pula yang nganterin saya survey lihat tempat buat UMPTN dan daftar kuliah di IPB Darmaga nun jauh dan panas itu. Dan seringnya kami hanya berdua, tanpa Ibu. Setiap kali kami berada dalam perjalanan itu, kami sebenarnya tidak banyak bicara, hanya sekali dua kali kata terucap, tapi entah kenapa seperti orang yang lagi jatuh cinta sudah chemically bounded begitu.

Dulu Bapak pernah bilang, selagi Bapak masih hidup, kamu harus sekolah yang bener, kamu harus beda dengan saudara-saudara mu yang lain, supaya bisa ngangkat derajat orang tua dengan ilmu kamu itu. Berhubung masih bau kencur, biasanya saya cuma ngangguk-ngangguk tanpa banyak kata kalau di nasehatin begitu. Dan semua janji itu terbukti. Dengan seluruh jiwa raga nya, pengorbanan yang sangat besar sudah beliau lakukan untuk kami, saya dan seluruh anak-anaknya. Hingga ajal menjelang dalam keadaang yang sangat ..ahh…susah saya gambarkan di sini.

Saya tahu, Gusti Alloh sudah sangat berbaik hati kepada saya dengan seluruh takdir yang sedang saya jalani ini. Mungkin juga dengan takdir untuk mengambil kembali Bapak dalam suatu kecelakaan parah di awal tahun 2000. Saya juga tahu Gusti Alloh punya maksud tertentu, mengapa Bapak tidak pernah melihat putri kecilnya ini lulus sarjana seperti yang suka dia banggakan begitu dulu tahu saya diterima di universitas negeri, Bapak tidak melihat putri kecilnya ini menikah dengan menantunya yang baik hati dan memberikan padanya tambahan cucu yang sehat, cerdas, dan menggemaskan. Bapak tidak pernah melihat semangat saya yang menggebu pingin sekolah lagi tanpa biaya sendiri sampai ke jenjang tertinggi dan ternyata diberikan jalan sama Ilahi. Tapi saya yakin, di suatu tempat Bapak saya tahu kalau ankanya mencintai beliau segenap hati, walau tanpa banyak kata dan rasa rindu setengah mati.

untuk Bapak, sepuluh tahun ini saya rindu………….

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

from Ebiet G. Ade-titip rindu buat ayah-

Advertisements

9 thoughts on “rindu setengah mati

  1. U already make him proud ate..
    It’s so toching..
    Menyelam dalam kerinduan seorang
    Putri terhadap ayahnya..
    Keep pray for him and me too
    Best regard for ur father;)

  2. U already make him proud ate..
    It’s so toching..
    Menyelam dalam kerinduan seorang
    Putri terhadap ayahnya..
    Keep pray for him and I will pray for urfather too
    Allah sll ada disamping ayah lo te;)

  3. Sama, saya juga sedang berupaya keras untuk dibolehkan Tuhan punya montor sendiri. Dengan montor itu saya punya cita-cita mulia agar bisa menjalan-jalankan anak-isteri dengan nyaman tanpa kerepotan naik angkot. Juga biar bisa jalan-jalan lebaran di kampung tanpa harus repot dan bingung cari montor carteran yang telah habis dibooking hehheehhe.

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  4. ahhh..jadi inget bapak saya. hiks…hikk..saya juga anak bapak:(.pasti bapakmu sangat bangga dengan apa sudah elo capai sejauh ini Te. tetap semangat & berdoa terus untuknya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s