ibu, jaga lisanmu!

bicaralah secukupnya, karena Tuhan hanya menciptakan satu mulut untukmu, namun perbanyaklah mendengar, dengannya Tuhan sediakan dua telinga

kira-kira begitu isi quote yang pernah saya dengar. dan hari ini pun quote itu terdengar lagi. saya mendapatkan ilmu hari ini. tentang bagaimana doa seorang ibu akan menjadi sangat mustajab karenanya. tentang bagaimana seorang Ibu menjadi sekolah untuk anaknya.

Ibu, mahluk yang ditinggikan derajatnya dibandingkan Ayah, begitu kata ajaran agama saya. tanpa mengkesampingkan peranan seorang Ayah yang juga amat besar, lisan seorang Ibu adalah cermin bagi anaknya. jadi, jangan harap anak akan bicara baik-baik kalau kita, si ibunya tidak memperdengarkan kata yang baik. jangan kaget kalau anak suka bicara dengan nada tinggi kalau di rumah kerap kali yang didengar adalah ibu yang suka mengomel dengan nada dasar “si” yang ini gue banget..

ah, saya bangga…sejuta, semilyar, setrilyun kali bangga jadi ibu. walau dengannya badan saya mekar, tidur saya berkurang, jam menonton film favorit tidak ada, waktu dengan suami tersita, penampilan tidak sexy lagi haha emangnya pernah, *ambil kaca*..sungguh saya bangga sekali..

dan betapa jauh lebih bangganya saya, begitu hari ini beberapa ilmu diwariskan kepada saya yang mengatakan doa ibu adalah keridhaan Tuhan..seketika ibu berucap Tuhan pun mengiyakan, dan sedetik batin tersirat Tuhan pun menyetujui..bahkan tanpa kata itu terucap terlebih dahulu..dan betapa saya menyadari semua itu saat selalu terngiang doa Ibunda tercinta untuk saya, sehingga saya seperti sekarang.betapa kasih yang tak terbalas telah diberikan Ibunda hingga kini masih saja memberikan jiwa dan raga hanya untuk anak dan cucu kesayangannya

dan saya tercabik-cabik, mengingat kerap kali saya sering marah kepada anak, kerap kali saya minta anak saya untuk mandi, tapi kok yo ibunya belum mandi. tak jarang juga saya diluar batas kesabaran dengan segala kelelahan pulang kerja, saya emosi dengan anak..sungguh, rasanya ingin saya lakban saja mulut ini kalau hal-hal demikian saya ingat. dan betapa menyejukkannya saat saya mendengar teman-teman saya di sini bisa menjawab semua perkataan anaknya dengan lemah lembut, seolah menunjukkan kasih ibu yang terdalam.dan betapa bencinya saya begitu menyadari anak saya ribuan mill jauhnya tak lagi mendengar perkataan bundanya yang seharusnya menyejukkan ini secara langsung..dan betapa sedihnya mendengar ibu yang dengan gagahnya membentak dan menghardik anak di dekatnya..padahal andai dia tahu, separuh jiwanya pergi saat jarak memisahkan raganya dengan buah hati tercinta..

untuk Harvy : maafkan bunda untuk tidak ada di sisi mu saat ini, maafkan bunda untuk ucapan yang menyakitkanmu selama ini, maafkan bunda untuk tidak memberikan kasih dan kelembutan yang harusnya kamu dapatkan…semoga Alloh masih berbaik hati memberikan ruangnya di muka bumi ini untuk mempertemukan kita, nak..seluruh rasa rindu ini hanya untuk kamu ..
untuk Ibu : seandainya bisa kuberikan hidupku untuk kebahagiaan yang telah kau berikan, akan kulakukan, walaupun aku dan Tuhan tahu, tak akan pernah cukup ..

*saat kerinduan anak dan ibu berada di puncak*

teruntuk bumi dan isinya

foto milik istockphoto

harusnya postingan ini terbit kemarin pas dengan hari bumi, tapi apadaya koneksi internet aneh *bisa juga aneh dimari*, jadi ya baru diterbitkan hari ini…

Salah satu hal yang selalu ingin saya lakukan dari dulu adalah tinggal di luar negeri. Kenapa? Bukan karena sok-sok an pengen ngeksis di luar Indonesia ya, wong di kampung halaman ajah nggak ngeksis kok. Hehe.Tapi buat saya, tinggal di Indonesia itu sangat nyaman (diluar penghasilan ya?) dan meninggalkan zona kenyamanan itu perlu dilakukan di dalam hidup supaya kita bisa terus mencari dan mensyukuri nikmat yang telah dianugerahkan oleh Sang Maha Kuasa pada kita. Jadi tidak melulu mengeluh dan menggerutu tentang hal-hal yang diluar kendali kita, karena akan ada momen saat kita menyadari kalau yang kita miliki selama ini ternyata sudah merupakan karunia.

Dan sekarang mimpi saya itu kesampaian , alhamdulilah, walaupun ada resiko yang tentunya harus saya tanggung. Dalam pandangan saya, tinggal di Indonesia itu surga, dengan cuaca yang sangat melimpah ruah matahari (sampai kadang saya migren karenanya), makanan yang sangat variatif dan kaya rasa (dan sedikit njlimet ngebuatnya), beserta orang-orang yang sangat ramah dan menyenangkan. Namun, saya tidak bisa pungkiri kalau di satu sisi sangat membenci birokrasi negeri saya, tingkat kedisiplinan yang sangat rendah (yang saya juga termasuk di dalamnya), sampai kebersihan yang enggak banget di beberapa kota besar. Satu lagi, untuk muslim seperti saya, tinggal di Indonesia itu ya tidak memakan energy untuk memikirkan halal-haram makanan, kebiasaan beribadah,dan segala hal yang terkait di dalamnya. Tetapi saat saya berada di luar Indonesia, saya harus berpikir ekstra kalau mau menyantap hidangan, juga kalau mau beribadah, dan sebagainya. Kerap kali pun harus menjelaskan kenapa saya menggunakan pakaian seperti ini.

Being internationally commuted, dengan tanpa maksud menyombongkan diri, karena menurut saya itu hal yang wajar bagi kebanyakan penduduk di muka bumi ini, juga banyak membuka mata saya tentang bagaimana harus bersikap, beretika,berbicara, dan mengerti adat-istiadat si tuan rumah. Nah, disinilah hal yang perlu dicermati. Kalau saja setiap manusia bisa mengerti dan merasakan perbedaan yang sudah diciptakan dari sononya oleh Sang Khalik untuk keindahan, saya rasa tidak perlu ada lagi perang dan segala macam tingkah polah ekstrimis dengan kekaguman akan diri sendiri, agama sendiri, maupun bangsa sendiri. Menjadi komunitas internasional juga bukan mengagumi bangsa lain yang tentunya punya system dan teknologi yang jauh lebih canggih dari bangsa sendiri dan juga menjelekkan bangsa sendiri sedemikian rupa di depan bangsa lain. Menjadi komunitas internasional juga bukan cara untuk memamerkan kebahagiaan,kebanggan dan kekayaan karena telah menjadi pelawat di berbagai negara, menghasilkan uang yang berpuluh kali lipat di negeri orang, atau bahkan sudah mencatat prestasi di negeri orang mengalahkan penduduk setempat.

Buat saya, dengan menjadi bagian dari dunia, kita jadi berpikir bahwa kita tidak hidup sendiri di bumi yang makin renta ini. Bahwa ada kehidupan yang mungkin jauh lebih baik dan jauh lebih buruk dari yang kita alami hari ini. Bahwa ada kebudayaan yang mungkin kita pandang sebagai sesuatu yang tabu namun menjadi kemakluman bagi orang lain. Bahwa kita harus terbuka sedemikian rupa terhadap segala pandangan baik itu negative atau positif dari orang lain. Bahwa tidak selamanya negara kita benar dan tentu tidak juga negara kita selalu kurang dibandingkan negara lain yang lebih superior. Bahwa arogan bukanlah jawaban atas segala kekurangan dalam suatu kondisi.. Dan bahwa Tuhan telah menciptakan bumi dan mahluknya dengan sangat indah sehingga tak layak bagi kita untuk merusak keseimbangan di dalamnya. Tak sedikitpun….karena kita tak bisa mengalahkan hasil karyaNya..

Selamat Hari Bumi…………

ketika usia..ehm..merindukan cinta

sebelumnya mohon maaf, beribu maaf..apabila postingan saya yang ini akan terkesan menohok *yellow, bahasanya?*, anda-anda yang saat ini sedang dilema dalam mengharapkan cinta.

loh-loh?kok bicara cinta?

ya nggak tahu kenapa tiba-tiba pengen menulis hal ini akibat beberapa DM yang masuk ke saya di akun twitter.

curhat beberapa teman di berbagai media, membuat saya gatal ingin menorehkan sesuatu yang saya tidak tahu apakah akan membawa manfaat atau tidak di sini. Boro-boro membawa manfaat, mungkin juga buat sebagian orang yang baca, rada kesinggung, pengen muntah, atau merasa menjadi subjek saya. wah-wah bukan itu, sungguh bukan itu maksudnya, namun lebih kepada opini pribadi saya tentang usia yang semakin bertambah namun belum juga menemukan belahan jiwa.

entah itu karunia atau rahmat, atau apalah *yang jelas saya sangat bersyukur karenanya* saya bukan orang yang dikenai masalah seperti yang saya torehkan disini. beberapa teman, yang usianya relatif sama dengan saya justru terlibat dengan masalah ini. mengingat usia yang mulai menginjak sepertiga abad, mulailah teman-teman saya itu bergerilya setengah mati.karena status kok masih “quo” aja gitu, berbagai macam cara dilakoni, mulai dari ikutan kegiatan kerohanian yang juga dikhususkan buat para pemuda, kegiatan sosial yang juga diisi oleh pemuda-pemuda, minta dikenalin sana-sini sama teman, melirik rekan-rekan sekantor tapi ternyata beda generasi, juga melirik teman dalam satu lingkaran pergaulan tapi nggak nemu chemistry, sampai mungkin akhirnya pasrah bila orang tua mau memperkenalkan diri dengan anak kolega atau relasinya.

I might be wrong, karena sekali lagi saya tidak terlibat dalam situasi seperti ini. alhamdulilah, cobaan yang diberikan Alloh pada saya bukan hal yang seperti ini. Namun, tentu Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu tahu bagaimana mengukur kesetiaan hambaNya. Saya juga dikarunia masalah yang menurut saya dari dulu sampai sekarang kok ya nggak kelar-kelar ya? Sama seperti teman-teman saya itu, saya juga berusaha setengah mati mengatasi masalah yang dikaruniai Alloh buat saya. Usaha A sampai Z sudah saya lakoni. Terus dipikirin dari pagi hingga mau tidur tengah malamnya. Diskusi sama suami, berupaya cari jalan keluar untuk masalah yang saya hadapi juga saya lakukan. Namun, tak kunjung datang jawaban atas masalah saya itu. Sampai suatu ketika, suami pun bilang pada saya dengan kata bijaknya. *aih, bijak, kayak orang tua jaman dulu dong ya?*

Menurut suami saya, kalau menginginkan sesuatu itu, harus dipertanyakan lagi, apakah yang demikian itu baik untuk diri kita atau tidak? Tidak perlu kita minta Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, tapi justru pintalah kepadaNya apa yang sekiranya baik buat kita. Tidak perlu dipikirkan pagi, siang, sore malam untuk itu, tapi justru diupayakan berbagai cara dengan niat yang iklas untuk itu.

saya sempat merenung waktu suami saya bilang seperti itu. Mhhh…apa benar ya, selama ini saya terlalu mendikte Yang Kuasa untuk menentukan yang terbaik buat saya. Sampai-sampai di otak saya ini hampir hanya itu dan itu saja yang dipikirkan, tak ada yang lain? Lalu apa benar selama ini doa saya ikhlas dan tulus kepadaNya?

Perlahan, saya coba praktekan apa yang suami saya bilang. Semua saya tata ulang, semua saya rombak lagi, mulai dari doa, niat, usaha, dan juga hati saya terhadap hasil yang saya kerjakan. karena menurut saya, justru hati inilah yang paling penting di tata agar tidak menunjukkan sikap “terlalu” dalam mengharapkan sesuatu.
waktu pun berlalu, dan hasilnya???? oh tidak, semua masalah itu nggak hilang dalam sekejap. tapi setidaknya, sebagian dari usaha saya mulai membuahkan hasil. sedikit demi sedikit ada petunjuk buat saya menghadapi beban yang selama ini saya tanggung.

Nah, kembali ke urusan cinta-mencintaan itu. maafkan kalau saya berkata salah. tapi sekadar perenungan untuk anda-anda yang hingga saat ini belum menemukan tambatan hati, belum dipertemukan dengan tambatan hati maksudnya. mungkin perlu ditata ulang lagi, niat, usaha, tujuan dan cara anda dalam mencari “cinta” anda diluar sana. menurut saya, semakin kita mendengungkan masalah yang kita hadapi dengan manusia, justru semakin peliklah keadaaan yang akan kita jalani. karena manusia tidak bisa dijadikan tumpuan, harapan. justru, kalau mau curahkan saja semua keluh kesah anda padaNya, tanpa orang lain tahu. karena rasanya Dia akan lebih menjawab dengan caraNya yang indah dibandingkan dengan semua umat manusia di muka bumi yang sudah dari sononya di berikan Tuhan masalah sendiri-sendiri. mungkin juga perlu diingat, Tuhan tidak perlu didikte untuk menentukan kebahagiaan kita. Jadi misalkan cinta bertepuk sebelah tangan akan menagis ” Ya Alloh, kok usahaku tidak disambut sih?”, instead of..”Ya Alloh, kalau memang bukan dia untuk saya, tolong berikan yang lain yang lebih baik untuk saya”..

jangan lupa, buka mata dan hati lebar-lebar. I mean, jangan terlalu terpaku pada urusan hati, setiap ketemu kenalan baru, atau teman baru, atau punya chemistry terhadap seseorang yang baru, langsung membayangkan untuk bisa mendapatkannya. lebih baik, kenalilah “target” itu dengan wajar, apa adanya, tidak dibuat-buat, dan sederhana. rasanya, setiap orang kan tidak mau ya melihat orang yang dikasihinya hidup dalam kepura-puraan.

and, instead of wondering why “he/she” has not coming yet to your life, let’s have your life with happiness and gratefulness. karena saya percaya, “happines is your state of mind”, jadi kalau rasa sepi dan sendiri itu datang, hadapi saja dengan rasa syukur lain yang mungkin tidak dimiliki orang lain dalam hidup ini..

so, may you find your love in a beautifull way..

*DOH?berasa Mike Rose deh* 😀