we are the alien

gambar di ambil dari https://i1.wp.com/s3.amazonaws.com/l.thumbs.canstockphoto.com/canstock0295249.jpg

It started with a decent saturday birthday party of my Indonesian friend and several of her coworkers and classmates. A quite decent because it held in her apartments with a few tasty delicious home-made menu and several closest friend which are accidentally or event meant to foreigner in this country.

There we were, celebrating her something years old, blew out the candle by the kids, having a dinner, and also some kind of a chit-chat here and there. I was actually some kind part of that non-belonging- group since everybody seems to be had known one each other. But somehow, it would only took me several minutes to blend with them anyway, cause since we are in the same path, foreigner to this country.

Our conversation were of course started with our background, obligation, family not sort of special one. Until we have a same typical hilarious topics concerning the way of the native people in this country’s attitude. Suddenly we started to feel the same way of handling how to react to the native citizen here. We all felt awful about the border that we could not pass to get through most of them. One little thing cross in mind that now I feel that I am not alone.

I do not have any right to judge the way people live here with their characters and their habits, but somehow as one of my acquaintance said..we are just like an alien here. An alien that almost have no similarity to the way of native people live. Such a funny terms I guess, but I think it is quite true.

But again, I was thinking, would these foreigner even think it so if they should stay in my country? Would I be as same as the native citizen here in that “alien’s” point of view?

And I think I know the answer already…..
#foreigner

what PhD students should do…

well..ini bukan menggurui, sama sekali bukan, justru ini menegur diri sendiri yang belakangan sepertinya kendor semangat..

ya…saya kendor semangat..karena ini dan itu..yang pasti hanya alasan belaka. karena tak seharusnya saya begitu. hasil percakapan dengan salah satu teman negeri jiran adalah bahwa seorang PhD student berada pada titik terendah dalam kegiatan riset suatu grup. yah, bagaimana tidak, kalau profesor hanya akan memberikan secuil dari keseluruhan proyeknya kepada si murid ‘PhD’. bahkan, dulu waktu sama-sama ikut workshop, banyak PhD student pun yang merasa “we are the bottom line of the research chain-food”..haha, terdengar sangat tragis..apalagi saya..dengan kondisi dibayar dengan jam kerja 9 jam sehari, 4 hari seminggu kenyataanya sering kali di kantor hingga malam dan tak pernah absen dari kantor di hari kerja bahkan kadang hari libur, ah well..bukan itu masalah sebenarnya …semua juga begitu kok? bukan begitu bukan? 😀

my point is…seberapapun tingkat pendidikan anda, kalau label student atau murid ada pada diri anda, yah sesungguhnya anda hanyalah murid. titik. maka seyogyanya berlakulah seperti murid. yang harus membaca-dan membaca. mencoba memahami paper demi paper. mencoba meresapi keluhan sensei atau bos atau atasan . mencoba memperbaiki hubungan dengan staf di kantor mungkin. yang juga harus menulis..*Ya Tuhan yang ini sumpah saya selalu merinding*. student pun harus paham kalau dirinya berperan untuk memperkaya ilmu pengetahuan bagi dirinya sendiri dann atasannya :D, jadi kalau sudah bersusah payah memahami paper atau jurnal tiba-tiba si bos minta hal yang sudah susah payah anda pahami itu diboikot oleh teman atas perintah bos..*ow this is such a screw, but happen sometimes* …tersenyumlah..dan ingatkan diri sendiri jangan menjadi bos yang seperti itu di kemudian hari

another thing to do for PhD students, mencoba berdamai dengan lab, data-data dan komputer. karena kalau mereka tidak disayangi sepenuh hati segenap jiwa meskipun hasil tidak memuaskan, maka meminjam istilah coelho, all universe will fight against you…dan buatlah prestasi, in someway take anyone’s attention that they will look on you in a very good positive way..and don’t forget to ask if you don’t know..mungkin secara teori PhD adalah jenjang terakhir pendidikan, dan karenanya sebagian orang berpendapat yang sudah punya gelar PhD alias doktor itu pasti orang-orang hebat. padahal, kurun waktu tiga tahun belum tentu memberikan kita banyak informasi. dan opini saya pribadi, semakin tinggi ilmu yang anda pelajari, maka semakin banyak ketidaktahuan anda, karena anda terfokus pada satu titik saja. bahkan seorang profesor pun harus tetap berani bertanya untuk memperkaya dirinya dengan ilmu. does it sound idiot? maybe for the first five minutes yes..but absolutely not for the rest of one’s life.

and the last thing that PhD students should also do is…GET A LIFE out there…talk to God, have fun while you were studying, take a walk, learn by the nature, read the any other people’s face during the weekend, have a chat, watch movie, get shopping, and read PhD Comics..its good for your health…

this note is absolutely for my self

hidup itu

Saya masih ingat dunia saya runtuh seketika sewaktu mendengar orang yang saya cintai, kagumi, dan banggakan pergi menghadap Sang Khalik. Seketika itu juga saya meyakini semua tidak akan pernah sama tanpa beliau. Namun, seketika itu juga saya yakin haqqul yakin bahwa beliau ada di seberang sana tersenyum bangga kepada putrinya ini. Dengan segenap keberanian dan keyakinan kalau hidup itu terus berjalan, saya mencoba hari-hari menyiksa yang menurut saya yah memang harus dilalui. Tak mudah memang, sangat teramat sulit bahkan. Jiwa ini terasa sepi, hampa padahal saya berada di tengah kerumunan banyak orang. Sebagian otak saya ingin maju memandang hidup, namun sebagiannya memaksa ingin kembali ke momen kehilangan itu. Perlahan tetapi pasti, saya coba bersahabat dengan keadaan. Saya yakinkan diri kalau sudah saatnya saya kembalikan yang tidak pernah saya miliki kepada pemiliknya. Saat itu pula semua beban perlahan mulai terlepas dari pundak ini. Dan setelah itu pula saya rasakan dengan keiklasan, hidup saya menjadi lebih mudah.

Sesaat setelah menjadi istri dan ibu, saya pun menjadi lebih melankolis. Takut kehilangan keluarga kecil saya, takut meninggalkan dan ditinggalkan mereka. Padahal, sudah jelas termaktub dalam Kitab-Nya bahkan diri ini pun bukan milik kita. Tugas kita hanya menjalani hidup ini sesuai dengan ajaran agamaNya. Sering sekali saya dan suami terhenyak, merasa kalau kami saling memiliki, bahwa kamilah yang memegang penuh kendali terhadap anak kami yang lucu, tampan dan pintar itu. Tetapi alhamdulilah, ada rasa getir saat kami merasa kalau kami terlalu mencintainya. Rasa takut kalau rasa cinta ini berlebihan sehingga kami tidak menyadari kalau kami bukan pemegang kendali. Kami hanyalah tempat penitipan barang yang ibaratnya selalu ada di bagian depan supermarket. Pelangganlah pemegang barang yang dititipkan. Kami hanya bertugas menjada barang itu, hingga tidak rusak, lecet, ataupun hilang. Demikian pula, Tuhan lah pemilik setiap jiwa kami. Dan atas setiap keadaan yang telah, sedang dan akan berlaku pun, kami berusaha meridhai yang diberikanNya pada kami.

Hidup itu hanya suatu fase. Fase yang harus kita lalui. Suka atau tidak, pahit atau manis, indah atau buruk, senang atau susah, kaya atau miskin, sehat atau sakit, hidup itu anugerah. Seberapapun pahitnya jalan yang Dia berikan, satu hal yang harus disadari hanyalah ucap syukur kepadaNya. Setiap kita memiliki satu titik, yang tentunya berbeda-beda. Pertanyaan yang tersisa adalah, bagaimana kita menjalin garis menuju titik tersebut. Akankah kita lalui dengan terbata-bata tetapi penuh bangga sebagai mahluk ciptaanNya, ataukah kita terlalu larut dalam apa yang tidak kita miliki sehingga yang kita lakukan hanya sibuk mengeluh , atau kita sibuk mempertanyakan takdir Tuhan terhadap hidup kita?

Hidup itu terlalu singkat bila tidak dilalui dengan syukur dan keyakinan kalau Tuhan selalu bersama kita.
Sejumput kesedihan untuk adik tercinta yang saat ini sedang terombang-ambing. Semoga kau bisa melangkah maju.You are the captain now…May Alloh blesses you and your home always.

Bisa lihat klip nya disini

Mary J Blige—Each Tears–

There’s something that I want to say,
But I feel I don’t know how.
Until I just can’t hold it one more day,
So I think I let it out.

You’re on my mind more than I may show
You’re in my heart more than you may know
And the last thing that I want,
Is to you to fall apart.
Your future will be clearer,
I want you to remember.

In each tear
there’s a lesson, (there’s a lesson)
Makes you wiser than before (wiser)
Makes you stronger than you know (stronger)
In each tear (each tear)
Brings you closer to your dreams
No mistake, no heartbreak
Can take away what your meant to be…

We can’t change the things,
That we done, that’s in the past.
But fighting won’t get us anywhere,
So if you want, Here’s my hand…

Every night there is one thing I do
I bow my head and pray for you (pray for you)
And the last thing that I want,
Is for you to fall apart
you’re future will be clearer
I want you to remember

In each tear
there’s a lesson, (there’s a lesson)
Makes you wiser than before (wiser)
Makes you stronger than you know (stronger)
In each tear (each tear)
Brings you closer to your dreams
No mistake, no heartbreak
Can take away what you’re meant to be

You’re much more than a struggle that you go through
You’re not defined by your pain, so let it go…
You’re not a victim, you’re more like a winner
And you’re not in defeat, you’re more like a queen

In each tear
there’s a lesson,
Makes you wiser than before
Makes you stronger than you know (stronger than you know)
In each tear ( in each tear)
Brings you closer to your dreams
No mistake, no heartbreak
Can take away what your meant to be

In each tear (each tear)
there’s a lesson, (there’s a lesson)
Makes you wiser than before (wiser)
Makes you stronger than you know
In each tear ( Make you so much more)
Bring you closer to your dreams
No mistake, no heartbreak
Can take away what your meant to be

No no we can’t be held down
No no oh noo I I I can’t held down
You you you can’t be held down
We we we can’t be held down

Love

It makes you so much stronger (stronger)
It makes you so much wiser (wiser)
In each tear (in each tear)
And You so close to your dreams
No mistake, no heartbreak can’t take away you’re meant to be