Japan, where I am now

kembali ke judul yang saya muat di atas. sebelumnya mungkin ini hanya pandangan parsial saya saja. tetapi izinkanlah saya berbagi pandangan saya yang mungkin tidak benar 100% itu.
sudah lebih dari empat bulan akhirnya rekor bang Thoyib yang tidak pulang 3 bulan terpecahkan saya berada di Tsukuba ini. jauh dari suami, anak, orang tua dan negeri yang saya cintai Indonesia. perlahan saya mulai belajar tentang hidup dan kehidupan negeri sakura ini. sekadar cerita, waktu saya masih sma dulu saya ngefans banget sama negeri sakura ini. mungkin efek masih labil kebanyakan nonton dorama, jadi ya agak sedikit melankolis dengan kehidupan negeri matahari terbit.

akhirnya, begitu kesampaian, disinilah saya berusaha mencerna. entah ini perasaan sedih atau gembira, tetapi yang pasti ya, campur aduklah. adakalanya saya takjub bukan kepalang dengan budaya orang-orang Jepang. menurut saya mereka sopan setengah mati, selalu berkata manis, bertutur lemah lembut, bahkan kalau berbicara sampai sulit terdengar sangking pelannya. saya sering bilang sama bos di telepon ‘maap bos, suaranya nggak kedenger’.hehe.

tetapi, dibalik itu semua, justru saya merasa bingung, karena kerap kali juga kecewa dengan ekspresi baik lemah lembut itu. karena dalam kasus hubungan antar mahasiswa atau rekan kerja di kantor sering kali jadinya malah main belakang. memang sih sudah ada teman dari Indonesia yang bilang, orang Jepang itu akan berusaha setengah mati menjaga harmonisasi antara sesama, walaupun pada akhirnya akan tampak seperti blangkon, iya peci tradisional Jawa yang mulus di depan tapi menjendol di belakang. sungguh, saya tidak suka yang ini. teman rekan kerja pun sudah wanti-wanti agar kita harus senantiasa bisa membaca ekspresi bos apakah maksudnya senang atau sedih atau marah lah emang saya Paul the psychic? menurut hemat saya, kalau kita salah ya dikasih tahu dengan jelas tanpa embel-embel, dengan sopan kan bisa juga toh? sekali lagi ini menurut saya. bahkan kata guru bahasa jepang saya, orang jepang itu tidak mau bilang tidak (Iie, dalam bahasa Jepang) melainkan hanya bilang Cotto (ini bahasa kromo inggilnya tidak, yang artinya malah bisa sedikit, bisa sebentar, yah intinya menunjukkan penolakan deh)

perihal kedua, masih menyambung dengan perihal pertama, mungkin karena harmonisasi inilah anak-anak Jepang jarang ada yang menangis secara kencang dan keras, kebanyakan hanya menunjukkan muka sedih dan menangis tanpa suara kalau ada hal yang tidak nyaman. hal ini sudah terbukti pada anak teman saya yang asli Indonesia namun baru 10 bulan sekolah di sini. ceritanya, kami bertiga legi renang, eh karena sang anak nggak mau minjemin kacamata renang, sof lens teman saya jadi hilang di kolam renang. sang teman pun marah, eh si anak merasa bersalah, lalu ujuk-ujuk menangis outloud, dia hanya menunduk, seperti mau menangis yang tertahan. akhirnya saya coba menenangkan. padahal, kalau saya pribadi berpendapat, saya mau jadi sahabat anak, tempat anak berkeluh kesah, saya mau dipercaya dengan demikian saya bisa percaya dengan anak. nah, kalau anak saya sendiri nanti takut untuk menangis di depan saya, berarti dia tidak percaya dong sama ibunya ini?
*maap ini bahasanya mbulet*

perihal ketiga, etos kerja yang tinggi sudah terkenal sejak dulu kala dimiliki oleh bangsa ini. untuk hal yang satu ini saya angkat tangan dua kaki dan angguk-angguk kepala kalau perlu. saya salut dengan cara mereka bekerja, semangat tanpa kenal lelah. seperti penjaja makanan, atau penjaga restoran yang suka teriak “Irashaimasse” *silahkan* dari mulai buka sampai tutup itu restoran. suaranya bisa terdengar sampe stadion, *entah ya stadion mana?*, belum lagi senyum, pelayanan, dan cara bersikap yang luar biasa ramah. saya pun kagum setengah mati dengan dedikasi para staf di lab yang kalau sudah bekerja ya total 100%. tapi entah kenapa saya juga sedih melihat banyak orang Jepang yang kalau bekerja seperti tak kenal dunia lain. pergi jam 9 pagi pulang jam 2 malam, terus menerus setiap hari. Kadang lupa mungkin ada anak dan istri yang menunggu di rumah. Kadang pula sabtu minggu, parkiran di kantor itu tetap dipenuhi dengan mobil-mobil.
ah, untuk yang satu ini saya bersyukur betapa agama saya mengajarkan untuk menikah, memiliki keturunan, memiliki kehidupan yang lain selain bekerja, bahkan agama saya sudah mencantumkan dalam Kitab suci untuk bekerja saat matahari terbit dan beristirahat saat malam mulai datang. dan saya rasa demikian pula dari segi kesehatan, bisa keram otak kalau setiap hari lebih dari 12 jam dipakai untuk bekerja.

perihal lainnya, ehm..nanti ya bersambung…

seperti cinta kami yang sederhana

saya tahu, Tuhan itu Maha Adil dengan segala kebesaranNya.

menurut saya, Tuhan selalu punya cara menunjukkan kepada hambaNya betapa
setiap masalah itu memberi makna pada hidup.
dan masalah juga pada makna orang yang kita cintai.
mohon saya diizinkan untuk berbagi tentang oarng yang saya cintai saat ini
dan semoga hingga akhir nanti.

saya mengenal suami saya kira-kira hampir delapan tahun silam.
awalnya, memang hanya teman biasa, sampai selang beberapa tahun, kami
mulai menyadari ada kebutuhan yang saling terisi dalam hubungan kami.

saya tidak bisa bilang suami saya romantis.
jangan harapkan dia datang memberi bunga, mengucapkan kata-kata mesra, apalagi
memberi kejutan. baginya, kejutan itu bermakna harfiah, yang artinya akan
membuat target menjadi benar-benar terkejut dalam makna yang negatif.

kadang, saya iri, terhadap kenalan, teman, saudara, atau siapapun yang
pasangan hidupnya bisa seekspresif mungkin, sejelas mungkin menebarkan kasih
sayang di antara mereka. tapi kadang saya juga heran, kalau ada pasangan
yang bisa mengumbar kemesraan untuk jadi konsumsi umum. tetapi entah kenapa,
saya selalu bersyukur saat orang lain mengeluh tentang perdebatan, cekcok,
atau mungkin perselingkuhan (naudzubillah) yang menimpa mereka.
sungguh, hingga saat ini Alloh masih sangat baik pada saya sehingga hal yang demikian
dijauhkan dari kami.

kadang, saya merasa hubungan kami terlalu datar, tanpa letupan emosi.
karena saya sadari penuh, saya adalah orang yang emosional.
dalam hampir empat tahun kami membina rumah tangga, rasanya perkelahian hanya berlangsung
kurang dari tiga kali. itupun selalu berakhir dalam kurun waktu kurang dari tiga hari.

ya, beginilah cinta kami. sederhana, sampai ke dasar hati.
tidak mengikat dan tidak memaksa, namun kami tahu, tak bisa untuk hidup sendiri.
kami sadar, kami mengikat janji di hadapan Ilahi dengan tekad akan bersama hingga akhir.
kami sadar, sebelum berusaha untuk menegur pasangan, kami akan berusaha berpikir
apakah diri ini sudah terlebih dahulu ditegur.kami sadar, bahwa kebahagiaan
adalah permainan hati, pikiran dan iman, sehingga hanya dibutuhkan suatu proses
untuk mengkultuskannya dalam kehidupan. kami sadar, bahwa berdiri bersama
sebagai leher dan kepala, membuat badan tetap tegak berdiri, menatap jalan, menoleh, mendongak
dan bahkan menunduk.
ya, kami sadari itu.

dan kini, yang terpenting adalah kami sadar, bahwa setiap desiran darah dan denyut jantung
kami diberikan oleh Sang Khalik untuk saling mencinta dan menerima, dengan sederhana.