idul fitri di negeri sakura

tak terasa sudah hampir 6 bulan saya di negeri ini. Ramadhan pun sudah saya lewati, ah rasanya cerita tentang Ramadhan di negeri sakura seorang diri saja bisa menghabiskan beberapa postingan. tetapi mungkin yang paling berkesan adalah cerita di malam terakhir Ramadhan, yakni malam takbiran seperti yang sudah saya suarakan di sini.

oleh karena itu, lebih baik saya cerita soal idul fitri saya saja. hampir 30 tahun idul fitri tidak pernah sekalipun saya lewatkan tanpa kehadiran keluarga besar di Indonesia. satu-satunya momen idul fitri yang berbeda adalah 10 tahun silam saat sehari sebelum idul fitri, bapak saya kembali ke pangkuanNya. sungguh, itu adalah saat tersulit dalam hidup saya kala itu.

namun, ternyata Tuhan pun berkeinginan agar saya belajar bagaimana memaknai hari raya umat muslim di seluruh dunia itu dengan kesendirian dan kesederhanaan. karena malamnya saya sudah mellow shallow, akhirnya saya putuskan untuk sholat Iedul fitri di Sekolah Repiblik Indonesia Tokyo (SRIT), yang memakan waktu tempuh kira-kira hampir 2 jam dari Tsukuba, bukan di mesjid Tsukuba yang hanya 2 km dari rumah saya. Kali ini sengaja saya gunakan bus dari Tsukuba Senta, sekalian ingin jalan-jalan tentunya. Seperti umumnya kota satelit, pagi hari saat tepat idul fitri, hari kerja masih berlaku (jum’at) jadi tetap saja saya temui macet di jalan tol penghubung Tsukuba dan Tokyo.

Tergopoh-gopoh mengejar gelombang kedua sholat Ied di SRIT yang jatuh pukul 09.00, saya sampai di stasiun Meguro pukul 8.35. jujur saja, saya nggak tahu dimana itu SRIT, tadi bermodalkan GPS dari henpon tekad bulat membaja ingin berjalan kaki dari stasiun ke SRIT. Baru keluar stasiun, saya sudah melihat rombongan banyak orang Indonesia, yah ciri-cirinya gampang lah, pakai baju koko, pakai jilbab, dan seterusnya. Akhirnya, saya pun bergabung dengan mereka, dan menggunakan bus untuk sampai di SRIT. walhasil, waktu tempuh 1.5 km hanya butuh 5 menit dengan bus.

Sesampainya di muka jalan menuju SRIT, sudah banyak terlihat warga muslim yang sudah melaksanakan sholat Iedul fitri di SRIT di gelombang pertama. Ah sungguh deh, yang ini , mirip banget Indonesia. Benar kata teman saya di twitter, sholat saja di situ untuk merasakan suasana Ied seperti di Indonesia. Saking banyaknya sampai susah masuk ke Balai Indonesia. Alhamdulilah, saya masih dapat tempat di shaf perempuan. Begitu duduk, akhirnya saya sempat menikmati takbir, langsung dari pengeras suara. yah seperti yang bisa ditebak, saya langsung menitikan air mata. Di Indonesia pun setiap takbir sebelum sholat Ied saya selalu menangis, apalagi ini jauh di negeri orang dari keluarga tercinta. entah ada kekuatan apa dalam takbir itu. mungkin sesuai dengan artinya “Alloh Maha Besar” seperti tanda pengkhultusan dan perendahan diri di hadapan Ilahi, sehingga diri ini merasa kecil dan tak pantas berbuat yang macam-macam selain beribadah kepadaNya.

Selesai sholat, saya dan teman kenalan pun bergerak menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia yang letaknya kira-kira 2 km dari SRIT. Oh ya, sempet ketemu juga dengan mantan bos di sini, akhirnya kita malah foto-foto. ah yang ini lucu sekali kalau bisa saya ceritakan. Sesampainya di KBRI, wuah ternyata pihak KBRI sudah siap sedia dengan masakan jamuan khas lebaran, ketupat, sayur rebung santan, telur pindang, sambel goreng ati, ayam goreng dan kerupuk udang. Ya Alloh, sungguh nikmatt sekali. Mungkin begini ya rasanya para fakir miskin di Indonesia yang nggak mampu buat ketupat dan segala panganan jodohnya itu. Ah, saya jadi tersentil. Nanti kalau ada kesempatan Ied di Indonesia lagi, saya harus pastikan seluruh tetangga baik yang merayakan atau tidak mencoba ketupat buatan saya *eh maksudnya buatan Ibu saya :),
dan sekonyong-konyong lagi saya malah bertemu dengan kakak kelas di IPB dulu. Duh, sungguh deh serasa di rumah, bisa bicara tentang banyak hal yang pernah dilalui bersama.

Singkat cerita, saya beranjak dari KBRI, kali ini saya bertekad tidak langsung pulang ke Tsukuba, melainkan mau sowan ke daerah Otsuka. Menurut kenalan saya, di Otsuka ini banyak penduduk Jepang yang beragama Islam. Para Imamnya pun banyak yang hafizh Al-Qur’an kendati mereka juga muallaf. Dan akhirnya saya pun sampai di Otsuka. Namun, walapun pusat muslim bagi penduduk Jepang, tetap saja Mesjid Otsuka ini kecil, malahan lebih besar mesjid di komplek rumah saya di Bogor. Tetapi, begitu masuk, rasanya kok adem gitu. Banyak sekali saya lihat muslim dari berbagai negara, Jepang, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Jordan, India, dan negara-negara Afrika sekalipun. Ah, mereka pun menyambut ramah. Kebetulan saya datang saat matahari sedang di tengah bayangan. Saatnya kami para muslim harus sholat dzuhur. Alih-alih sholat dzuhur, saya malah ikut sholat Jum’at pertama kali dalam hidup saya. Wow…what a very religious experiment I had here..

Ah, mungkin cerita Idul Fitri saya, ini jauh dari mewah, indah, semua yang serba baru, keramaian yang selayaknya dikumandangkan di Indonesia, dan segala ritual yang sudah menjadi kebiasaan Idul Fitri ala Muslim. Namun, Tuhan selalu punya maksud dan itikad baik buat semua hambaNya. Justru di tengah keramaian ini, saya merasakan kehadiranNya, saya bisa sedemikian mudahnya menangis saat namaNya disebut, saat membaca kitabNya, dan saya bisa berdamai dengan segala kekurangan dan kondisi yang ada pada saya. Mungkin, inilah maksud fitri yang sebenarnya. Fitrah kembali kepadaNya, ikhlas, sabar dan bersyukur atas segala karuniaNya..

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga Alloh menghimpun kita kembali ke dalam golongan yang dicintaiNya di hari akhir nanti”

Advertisements

4 thoughts on “idul fitri di negeri sakura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s