efek musim dingin

kenyataan menunjukkan saat ini saya memasuki musim dingin alias winter. ya, inilah winter pertama saya di Jepang. alhamdulilah saya tidak tinggal di daerah utara yang saljunya pasti ampun-ampunan. Tsukuba tempat saya tinggal ini relatif jarang bersalju , palingan hanya 3 kali dalam setahun. Beda dengan Hokkaido, Sapporo tempat surganya para peselancar ski, katanya karena kualitas saljunya bagus. Bagaimana ya kok bisa ngukur kualitas salju? apa diayak dulu dihitung diameter partikelnya gitu. ow never mind, nggak penting lah itu, toh saya nggak bisa ski juga. hehe.

sedikit cerita saja mengingat kemarin ada teman yang bilang mau tinggal di daerah yang ada saljunya. saya langsung menggeleng pasti, dan bilang ogah. di Tsukuba saja yang relatif nggak bersalju saya sudah sengsara saat winter datang. saya memang tidak menghadapi salju, namun jangan tanya angin yang berhembus di sini. inilah efek dari letak Tsukuba yang seperti lembah dengan Tsukuba-san (maksudnya gunung Tsukuba). Awal-awal memasuki winter, saya sering salah kostum, kadang jaket kurang tebal, nggak pake penghangat leher, atau sepatu bukan yang hangat. Efeknya, yah jangan ditanya akhirnya seperti postingan saya disini. Namun, lambat laun saya belajar menyesuaikan diri kalau winter itu dresscode nya harus seperti apa dan bagaimana.

sedikit catatan saya sebagai penduduk asli musim tropis ke negara empat musim ini. mungkin buat anda-anda sekalian yang belum pernah merasakan, pasti akan berdecak kagum, wah enak dong bisa liat salju. kalau yang gila fashion pasti akan bilang, kan coat dan boot nya keren-keren saat winter. kalau yang gila makan, akan bilang makanannya pasti enak tuh yang anget-anget spesial. tapi berikut pendapat saya.

sebagai perbandingan, ada beberapa poin yang harus kita cermati tinggal di negara empat musim seperti saya sekarang.

1. Butuh pengeluaran ekstra untuk home utilization
Jangan ditanya berapa tagihan listrik saya selama winter ini, yang jelas berkali-kali lipat. Hal ini disebabkan nyalanya heater terus menerus, baik air heater, electric heater, atau blanket heater, plus kotatsu (ini meja jepang modeh lantai yang ada penghangatnya dan kita bisa menghangatkan kaki kayak Nobita itu loh). Oh ya kalau air hangat, karena saya pakai gas untuk penghangat air, maka nggak masuk hitungan listrik. Tapi tetep aja pengeluaran untuk monthly fee of utilization ini berat sodara-sodara.

2. Pengeluaran ekstra untuk diri.
Mulai dari baju, yang tentunya berganti jadi jumper atau sweater, coat, syal, sampai sepatu model boot, sarung tangan, kaos kaki dan printilannya. Memang sih sekarang sudah banyak toko-toko yang murah, tapi kan mules kalo gaji anda harus ludes demi yang beginian sementara nggak bisa dipake di kampung halaman, kecuali anda mau spa pake coat bulu naik angkot di Bogor, dipersilahkan.. Oh ya, belum selesai itu baru baju, belum nih perawatan kulit, karena suka atau tidak kulit kita yang terbiasa lembab, berminyak malah sampe bisa ngegoreng telor ceplok kalau saya, harus dikasih pelembab, entah itu muka, tangan kaki dan sebagainya. Bisa saja sih dicuekin, tapi buat saya pribadi, kulit mengelupas itu perih jenderal apalagi kalo pas ambil wudhu. Juga bibir yang senantiasa sensitif dengan kekeringan. Mau tidak mau suka tidak suka lipbalm selalu dibawa kemana-mana.

3. Ekstra jaga kesehatan.
Yang ini pasti sudah jelas dan nyata, perubahan suhu drastis buat kita yang terbiasa bermandikan matahari sampai gosong pasti butuh penyesuaian. Oleh karenanya makan cukup dengan gizi seimbang, dan asupan yang lengkap menentukan kesehatan kita. Kalau lalai sedikit, dokter dan obatlah jawabannya.

4. Ritme kerja dan istirahat.
Akan aneh untuk sadar waktu musim panas matahari betah berlama-lama di langit sampai jam 9 malam, sementara musim dingin jam 4.20 saya sudah bisa melihat langit merah. Apakah fakta ini berimplikasi pada jam kantor?, Oh tentu tidak, tetap jam kerja sesuai dengan aturan.8.30-17.15. Malah kalau saya kadang selalu pulang lebih larut.Otomatis badan yang secara reflek kalau gelap merasa agak lebih lelah juga kurang bergairah bekerja padahal hari masih jam 4.30 misalnya. Satu lagi yang paling susah buat saya adalah adaptasi bangun tidur. Selama musim dingin ini matahari biasa baru menyapa pukul 6.30 sampai 6.45, yang berarti subuh buat saya itu pukul 05.05. Tahukan anda, bangun pagi di musim dingin dengan godaan tetap di bawah selimut yang hangat itu adalah sulit sekali..

Nah, demikian pendapat saya tentang kehidupan musim dingin ini. Mungkin warga negara penduduk tropis suka lalai, betapa nikmatnya punya waktu siang dan malam yang sama sepanjang tahun. Betapa menyenangkannya mengenakan berbagai model baju yang nyaman tanpa harus lihat website prakiraan cuaca di pagi hari untuk menentukan pakai baju apa hari ini biar nggak kedinginan. Kalau untuk berlibur sih saya setuju lah, but for staying good…err maybe I will reconsidere..

Lets enjoy the winter..:)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s