Balada Esak dan media…..

Dua hari terakhir ini banyak sekali pemberitaan mengenai susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii (Esak). Bermula dari keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan tuntutan pengacara David Tobing yang meminta hasil penelitian IPB mengenai susu formula yang terkontaminasi bakteri tersebut diumumkan kepada masyrakat. Namun, berdasarkan konferensi pers yang digelar oleh MenKominfo dengan mengundang BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) serta Kementerian Kesehatan, hingga pagi ini tidak ada informasi satu merk susu formula pun yang disebutkan oleh institusi tersebut seperti ringkasan yang saya baca di sini. Akibatanya masayarakat pun mulai resah, apalagi setelah ditambah embel-embel dari media yang biasanya suka “mengompori” mulailah tudingan pemerintah tidak becus, tidak perduli, dan tidak perhatian dengan kesehatan masyarakat. Spekulasi bahwa, pemerintah hanya melindungi produsen dan perekonomian yang berpihak pada industri susu formula dan mengesampingkan masa depan para generasi penerus bangsa pun berkembang marak. Setidaknya itu yang saya lihat dari status teman-teman di jejaring social dan laporan televisi yang mengundang partisipasi masyarakat melalui telepon, sms, dan lain-lain.

Bermula dari hasil penelitian Dr. Estuningsih yang dimuat dalam laporan penelitian yang tercantum di laman milik Institut Pertanian Bogor, yang menyatakan 22% dari susu formula yang dijadikan sebagai sampel pada kurun waktu 2003-2006 untuk isolasi bakteri Esak memberikan hasil yang positif. Lebih lanjut dalam itu disebutkan, peneliti berhasil mengisolasi 12 isolat bakteri yang enam diantara positif mengeluarkan enterotoksin. Publikasi secara ilmiah laporannya ada di Journal Food Protection volume 62. Sayang saya ndak punya akses ke jurnal itu. Pertanyaannya, mengapa susu formula yang digunakan sebagai sampel? Jawabannya karena pada produk-produk kering dan bersih seperti itulah biasanya Esak tinggal, hidup berfoya-foya dengan nutrisi yang terkandung dalam susu formula. Pertanyaan kedua, apa sih enterotoksin yang dimaksud? Enterotoksin adalah racun yang dapat dikeluarkan oleh Esak begitu bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh. Biasanya toksin ini bisa langsung menimbulkan efek incidental atau saat itu juga, dengan gejala pusing-pusing, mual, muntah bahkan samapai diare sekalipun *penulis sendiri sudah pernah mengalami enterotoksin dalam kurun waktu setengah jam setelah menyantap makanan *. Selain itu, dari beberapa hasil penelitian dikabarkan juga, toksin yang dikeluarkan oleh Esak dapat menimbulkan meningitis dan beberapa infeksi lain khususnya pada bayi yang baru lahir sampai berumur 28 hari, bayi premature, dan bayi dengan system imunitas yang rendah.

Kalau saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda dan itulah yang mau saya bagi di sini.
1. Kalau melihat hasil penelitian IPB , saya tanya dengan salah satu rekan yang juga bekerja di IPB yang secara kebetulan juga mengerjakan penelitian tentang Esak. Hanya saja, peneliti yang melaporkan hasil penelitian itu berasal dari Departemen Patologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, bukan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan yang justru biasanya meneliti tentang seputar pangan. Agak heran juga, kok bukan diambil alih oleh ITP? Teman saya menjawab, karena tujuan awal bukan untuk analisis keberadaan Esak di sufor, akan tetapi sang peneliti justru ingin mengisolasi Esak untuk karakterisasi. Kalau kebetulan ketemunya di sufor, karena memang produk kering seperti sufor, dan makanan pendamping ASI itu rentan terhadap kontaminasi bakteri Esak. Sebetulnya hal ini sih sering kali terdapat di dunia penelitian, saat kita berkelut dengan hipotesis a, justru kita tidak bisa membuktikan hipotesis tersebut, tetapi malah mendapatkan informasi lain yang berguna. Lalu apa implikasinya? Menurut hemat saya, wajar kalau IPB tidak mau membuka susu formula mana saja yang terkontaminasi Esak, karena memang dari awal yang dikerjakan peneliti FKH itu bukan untuk mensurvey, atau menganalisis sejauh mana kontaminasi Esak di dalam sufor. Akan tetapi hanya isolasi Esak di dalam sufor. Saya pernah melakukan isolasi bakteri, dan cara yang saya lakukan biasanya analisis sampel random. Kebanyakan pun biasanya isolasi yah dengan menggunakan sampling secara acak. Perlu diketahui, untuk melakukan penelitian, harus dirumuskan tujuannya terlebih dahulu, baru kita menentukan metodologi untuk melakukan penelitian dan pada akhirnya baru mengolah data dan melaporkan penelitian kita. Menurut hemat saya lagi, IPB adalah lembaga pendidikan dan penilitian independen yang tidak punya kepentingan untuk melaporkan penelitian kepada pihak manapun sekiranya hasil penelitian tersebut tidak dalam koridor tujuan yang sama.

2. Tentang peran BPOM dan Kemenkes.

Saya rasa, BPOM sebagai institusi pemerintah yang bertugas memastikan keamanan dan kesehatan obat dan pangan yang dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sayang saya nggak sempat Tanya-tanya rekan di BPOM sejauh mana sih kasus ini sudah ditangani oleh BPOM. Akan tetapi bersumber dari pengakuan Kepala BPOM Dr. Kustantinah bahwa institusi nya sudah melakukan cross check dengan melakukan penelitian setelah memperoleh informasi laporan temuan IPB untuk memastikan apakah susu formula yang beredar di masyarakat mengandung Esak pasca tahun 2008. Hasilnya, justru BPOM tidak mendapatkan satu isolate pun dari analisis sampel sufornya. Fakta ini bisa implikasi pada beberapa hal, satu bahwa memang pasca tahun 2008 tidak ada lagi sufor yang mengandung Esak, mengingat pada tahun yang sama Codex (salah satu badan standarisasi pangan international) baru memasukkan zero-tollerance untuk keberadaan Esak di dalam sufor. Kedua, mungkin memang metodologi sampling dan analisis yang dilakukan oleh BPOM dan FKH IPB berbeda, akan tetapi kita bisa lihat dari tujuan awalnya. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas bahwa untuk isolasi biasanya kita ambil sampel secara random, acak tidak representative, sementara saya yakin kalau BPOM menganalisa seluruh sampel yang beredar di pasaran sudah cukup representative. Ketiga, sangat wajar kalau ternyata tidak ditemukan Esak pasca 2008, karena industri susu formula pun pastinya sudah punya update tentang keluaran Codex terbaru dan sejatinya mereka berusaha mengikuti standar tersebut. Keempat, justru yang paling penting untuk diawasi adalah hasil penelitian BPOM karena hasil penelitian inilah yang memang didesain untuk mengetahui keamanan produk pangan . Kelima, sejauh ini saya setuju dengan sikap Kementrian Kesehatan, yang berusaha menetralisir keadaan dengan menjernihkan pikiran tanpa menggunakan prasangka prasangka yang nantinya berefek dengan keresahan masyarakat. Mengutip perkataan Ibu MenKes Dr. Endang Rahayu Sedyadiningsih, kalaupun dipublikasikan susu apa saja yang pada periode 2003-2006 yang mengandung Esak , apakah manfaatnya sementara hasil penelitian terbaru mengungkapkan tidak ada lagi Esak dalam 96 sufor yang beredar di pasaran.

3. Tentang produsen
Tanpa bermaksud membela produsen, wong saya juga tidak berkepentingan untuk itu, saya ingin berbagi pengetahuan saya kepada teman-teman. Saya pernah bekerja di industry pangan yang bergerak di bidan manufaktur rempah-rempah. Hasil akhir produk kantor saya saat itu adalah bumbu kering yang biasa kami ekspor ke USA. Jadi produk yang dihasilkan biasanya digunakan lagi sebagai ingredient bahan makanan, bukan panganan langsung seperti sufor. Akan tetapi untuk industry bahan tambahan seperti kantor lama saya saja sudah punya aturan kesehatan dan keselamatan yang ketat sekali. Dimulai dari Good Manufacturing Practices, atau cara-cara produksi manufaktur yang baik yang memuat persyaratan legislasi bagaimana melaksanakan industri berbasis pangan. Selanjutnya adalagi International Standar Organization yang juga memuat standar-standar produk atau proses produk industri. Kemudian masih ditambah lagi oleh HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang memuat analisa titik kritis yang penting untuk diperhatikan oleh industry pangan dalam meloloskan produknya. Kalau mau lebih lengkap bisa di search di google. Maksud saya adalah, akan tidak mudah bagi sebuah industri apalagi dengan produk susu formula bagi bayi untuk meloloskan produknya ke pasaran tanpa pengawasan mutu yang ketat. Setiap batch produk, biasanya bagian Quality Control harus selalu mengeluarkan Certificate of Analysis yang isinya memuat standar-standar yang digunakan industry tersebut dan membandingkan dengan hasil analisis lab yang dilakukan pada produknya sendiri. Jika, satu produk tidak lulus CoA, maka biasanya produk tidak akan dilepas ke pasaran. Nah, biasanya standar CoA ini pun bisa berubah sesuai dengan kemana kita mengacu, apakah Codex, Standar Nasional Indonesia (SNI) , FAO atau WHO sekalipun. Jadi untuk kasus Esak, wajar kalau periode tahun 2003-2006 masih ditemukan Esak di dalam sufor karena saat itu belum diterapkan standar zero tolerance untuk Esak. Namun, sejak Codex memasukan Esak ke dalam standarnya, maka adalah hal positif saat BPOM mengemukakan tak ditemukan satu isolate Esak pun di dalam analisis sampel sufornya periode pasca 2008. Maknanya, industry sufor di Indonesia, cukup update dan patuh pada standar yang berlaku. Perlu diketahui juga bahwa susu formula bukanlah produk steril menurt SNI, jadi sangat tidak mungkin mengharapkan susu formula out of contamination, karena jikalau begitu, artinya harus ada proses sterilisasi yang tidak hanya membunuh bakteri atau pathogen yang terkandung di dalamnya namun juga merusak nutrisi yang terkandung. Supaya anda tahu, kandungan nutrisi susu terbanyak adalah protein, sementara sebagian besar protein rusak pada suhu tinggi yang biasanya merupakan upaya sterilisasi, sehingga bisa jadi kalaupun susu steril tidak ada nutrisi di dalamnya. Lalu buat apa kita keluarkan uang untuk itu? Tubuh kita sendiri sudah punya system imunitas yang tangguh, jadi apapun yang kita konsumsi kendati tidak steril, bagian dari tubuh kita akan berusaha melawan mati-matian benda asing yang ikut bersama pangan yang tidak steril itu. Usahkah kita khawatir akan hal tersebut selama kita bisa menjaga system imun dengan baik?

4. Tentang konsumen.
Bukan saya tidak perduli sebagai konsumen, karena notabene anak saya pun hingga saat ini mengkonsumsi sufor kok. Akan tetapi, saya lebih ingin berpikir realistis dan preventif. Ketimbang melakukan intervensi terhadap produk lama, lebih baik kita focus saja kepada yang terjadi saat ini dan melakukan pencegahan agar hal yang ditakutkan tidak terjadi di kemudian hari. Sebagai konsumen yang baik, tetap kita harus mengkritisi kebijakan pemerintah dan upaya produsen dalam menyediakan produknya. Salah satunya lebih seperti cek tanggal kadaluarsa, catat batch produk atau nomor lot sekiranya ada kejanggalan pada produk, laporkan ke customer service produk yang bersangkutan supaya menjadi feedback bagi produsen itu. Selain itu, kita juga harus update tentang bagaimana mengkonsumsi produk dengan baik. Untuk kasus sufor, Depkes dan BPOM rasanya sudah mengeluarkan cara merekonstitusi sufor untuk sampai digunakan pada caregiver, seperti botol susu diseduh dengan air panas, cuci tangan sebelum menyiapkan susu, dan susu harus selalu dalam keadaan kering dan sebagainya. Jangan lantas kita sibuk mencari kesalahan tanpa berupaya menunjukkan kalau kita sudah melakukan yang terbaik sesuai dengan syarat yang dianjurkan. Satu hal lagi yang paling penting, jadilah konsumen yang baik, yang selalu menerima berita dengan akal sehat, mengolah, mencari sumber informasi yang akurat, reproducible dan dapat dipercaya. Jangan telan semua info mentah mentah dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia melalui internet.

My final word is that every human being of this world has their own role, then be the best at least in your own role.

Advertisements

4 thoughts on “Balada Esak dan media…..

  1. info yang bagus…

    saya bukan orang industri dan ga ada kepentingan2 amat juga di situ So, komen ini bukan untuk membela industri susu ya..

    Industri susu di Indonesia dan di belahan dunia lainnya sebenarnya sudah aware kok dengan isu Esak jauh sebelum
    ada kasus di Indonesia dan di dunia akhir-akhir ini (mulai ada recall sejak akhir tahun 90-an). Kasus infeksi Esak yang berakibat fatal pada bayi sudah diutarakan sejak tahun 1958!!

    Sejak itu, industri susu terus berbenah diri utk terus meningkatkan pengendalian/pengawasan di setiap lini produksinya; dan saya percaya dengan semakin majunya teknologi,akan sangat mungkin produk susu formula nantinya menjadi produk yang steril. Tapi ingat untuk saat ini produk susu formula BUKAN produk steril.

    Terakhir, kita ambil hikmahnya saja ya dr kasus yang “heboh” ini:
    – dari sisi produsen jelas mereka semakin meningkatkan pengawasan proses produksi susu formula (terbukti dari hasil analisis BPOM pasca isu ini muncul);
    – dari sisi pemerintah harus segera merumuskan manajemen risiko yang baik terkait penanganan susu formula di Indonesia;
    – dari sisi konsumen,harus menjadi konsumen yang cerdas dan bijak dalam memilih, mengolah dan mengkonsumsi semua produk pangan, termasuk pangan segar dan pangan olahan; serta cerdas dan bijak menerima hal-hal yang terkait dengan isu-isu mutu dan keamanan pangan.

    Nah satu lagi nih, media.. yang ini nih! gimana caranya ngerem info yang suka bikin berita jadi simpang siur *sigh*

    • betul sekali, bahkan sempet ngebrowse di PubMed, Canada juga lagi berbenah diri untuk rumusan legislasli masalah E.sak ini sampai 2010, jadi kalau kita juga masih riweh ya wajar, wong isu ini baru, justru caranya ke depan gimana, bukanya dikorak korek itu susu apa? penting gitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s