graduate school of research institute

Berawal dari seringnya saya dapat pertanyaan seputaran kerjaan kantor dan kuliah, dan seiring hampir 365 hari saya di Tsukuba, maka postingan saya yang ini sedikit banyak akan bercerita tentang “evolusi” saya di tempat kerja dan kuliah saya sekarang.

Saat ini saya sedang mengikuti program doktoral yang diselenggarakan oleh National Institute for Material Science (NIMS) Tsukuba Japan. Status saya di kantor milik pemerintah ini adalah sebagai Junior Researcher.  Salah satu syarat untuk diterima sebagai NIMS Junior Researcher adalah saya harus tercata sebagai mahasiswa doktoral di salah satu universitas yang memiliki kerja sama dengan NIMS antara lain

1. Universitas Tsukuba
2. Universitas Hokkaido
3. Universitas Kyushu
4. Universitas Waseda

Mengapa NIMS butuh kerja sama dengan universitas tersebut?
Karena NIMS hanya lembaga penelitian, yang tidak berhak memberikan gelar. NIMS hanya memfasilitasi para mahasiswanya untuk melakukan riset tentunya yang bersesuaian dengan projek NIMS itu sendiri. Oleh karena itu NIMS melakukan kerja sama dengan Universitas tersebut guna dapat melegalisasi para mahasiswa yang sedianya bekerja untuk NIMS namun tetap mendapatkan gelar dari lembaga pendidikan formal. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, biasanya staf peneliti dari NIMS juga memiliki lab atau setidaknya berafiliasi dengan universitas tersebut dengan nama labnya. Sebagai contoh, saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa Hokkaido University yang letaknya di utara Jepang, sementara profesor saya sendiri yang kebetulah bekerja di NIMS dan berkantor di NIMS Tsukuba yang letaknya hanya sekitar 45 menit dari Tokyo.  Contoh lain : ada salah satu rekan mahasiswa Indonesia yang juga tercatat sebagai mahasiwa Universitas Tsukuba yang jaraknya hanya 10 menit naik mobil dari kantor dan juga bekerja di NIMS. Intinya, selama kami berada di bawah naungan kelompok penelitian (research group) yang juga berafiliasi dengan universitas-universitas tersebut hal ini kerap kali dilakukan tanpa membatasi jarak antara NIMS dan universitas tersebut.

Seperti halnya karyawan di kantor pada umumnya, saya pun menerima gaji tentunya yang sesuai dengan standar NIMS Junior Researcher. Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kantor? Apa yang kami kerjakan?
Biasanya para professor memiliki topik riset yang bersesuaian dengan projeknya di NIMS. Nah,  sebagai bentuk simbiosis mutualisme, para NIMS Junior Researcher  in imengerjakan projek kantor sekaligus dijadikan bahan thesis kami untuk meraih gelar. Projek seperti ini biasa disebut Graduate School of Research Institute. Kalau di beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Swiss, nampaknya hal ini bukan barang baru. Justru, pengalaman saya berkunjung ke Max Planck Insitute of Reseach beberapa tahun silam lah yang membuka mata saya akan adanya simbiosis mutualisma antara lembaga pendidikan dan penelitian ini, seperti bisa dilihat di sini, di sana dan di situ

Lalu, bagaimana dengan program kuliah? Apa kami tidak mengambil kelas?
Untuk hal yang ini semua tergantung kebijakan profesor anda dan tingkatan pendidikan yang anda ambil. Kalau program doktoral biasanya tidak ada kelas, jadi akan langsung mulai dengan riset, dengan kata lain terjun bebas dalam kurun waktu sebulan dimulainya program. Saya sendiri hanya punya waktu dua pekan untuk mematangkan research plan saya. Saya ingat waktu saya datang, supervisor saya memaparkan secara global topik riset di grup kami. selanjutnya saya diberi kreasi mau mengerjakan apa dan bagaimana selama tidak menyimpang dari topik payung riset projek grup kami. Supervisor dan Professor saya hanya memberi waktu dua pekan buat saya mematangkan research plan *baca : sehari lebih dari 10 jam cuma baca paper dan paper dan paper*. Pada akhirnya, langsung saya diminta mempresentasikan apa research plan saya.
Berbeda dengan program doktoral, untuk program Master biasanya masih bisa mengikuti kelas di universitas. Hal ini tentunya berlaku untuk mereka yang berafiliasi dengan universitas dekat macam Universitas Tsukuba. Kalau afiliasinya jauh macam Waseda, Kyushu, dan Hokkaido, kayaknya nggak mungkin deh ambil kelas, secara butuh naik kereta at least 2 jam atau bahkan naik pesawat.

Lalu, bagaiman dengan biaya sekolah?
Berbeda dengan para penerima beasiswa seperti Monbukagakusho yang diberi fasilitas gratis sekolah dan tunjangan hidup, kami tidak punya kemewahan macam itu. Status kami yang karyawan kecil-kecilan ini memaksa kami untuk pandai-pandai mengatur gaji yang diterima tiap bulannya untuk membayar biaya sekolah di Jepang yang tentunya lumayan membuat kami mengencangkan ikat pinggang. Alhamdulilah, kadang universitas memberikan keringanan dengan diskon biaya sekolah. Selain itu kami juga harus membayar biaya masuk universitas yang yah lagi-lagi lumayan bikin geleng kepala. Untungnya lagi, kantor cukup berbaik hati memberikan pinjaman guna mengatasi hal ini. Dan alhamdulilah lagi, gaji kami dari kantor pun bolehlah dikatakan cukup untuk mengcover ini semua, tidak kurang maupun tidak lebih.

Apakah untung dan ruginya mengikuti program seperti ini?
Untungnya, menurut saya dengan mengikuti riset di lembaga penelitian, soal kendala biasanya tidak jadi masalah dibandingkan dengan universitas. Tentu saja proporsi anggaran riset dari pemerintah untuk lembaga penelitian seperti NIMS biasanya lebih besar ketimbang dana riset di universitas.
Implikasinya, selama ini saya merasakan kemudahan dalam mengakses semua reagen kimia, peralatan, bahkan sampai conference setaraf international pun sedikit longgar. Selain itu, biasanya suasana persaingan yang kental ala kampus tidak begitu kentara dalam program seperti ini. Maklum, sifatnya kan kantor, jadi persaingan justru tumbuh antar grup riset bukan internal grup riset. Buat saya sendiri,karena kantor saya ini 40%nya berisi orang asing, kendala tidak bahasa Jepang bukan jadi masalah, karena justru bahasa Inggris jadi makanan sehari-hari baik di lab ataupun di kantor. Namun, sebagai bentuk pertanggungjawaban saya kepada negeri ini, yah saya cobalah belajar bahasa Jepang. Hasilnya yah memang masih memalukan sih tapi daripada ndak sama sekali.
Kekurangannya, mengikuti program ini antara lain dari segi finansial memang butuh kerja keras ekstra untuk atur-atur uang, setidaknya setahun pertama. Memang mahasiswa juga dapat jatah bonus tiga kali dalam setahun menerima gaji lebih dari biasanya, tapi sekali lagi setahun pertama merupakan cobaan terberat untuk masalah finansial. Selain itu, iklim kampus biasanya kurang terasa bagi kami yang tercatat sebagai mahasiswa jarak jauh dari kampus. Segala sesuatu yang berhubungan dengan status keistimewaan kampus seperti dormitory kampus biasanya sulit diperoleh. Untuk urusan beasiswa, sejauh ini karena kebanyakan dari kami sudah memperoleh deduksi biaya sekolah, yah agak sulit mencari beasiswa lain.

Nah, demikian kehidupan sekelumit saya sebagai graduate school of research institute. Semoga menginspirasi teman-teman.

 

Advertisements

5 thoughts on “graduate school of research institute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s