Tuhan berbicara dengan sejuta bahasa

Maintain what you have is such a harder work to do than achieve it…

Mungkin seperti itulah kondisi blog saya belakangan ini, yang frekuensi menulisnya makin nggak jelas. Ide sebenarnya datang dan pergi sesuka hati, namun apadaya kedigdayaan jari ini mengetik selalu dikalahkan oleh rasa malas.

Tapi pagi ini saya berjuang untuk kembali menulis. Cause deep inside I know when I write, I read, I think and I try to digest what I’ve been through.

Entah kenapa saya ingin menulis tentang ini, tentang bahasa Tuhan. Perlu saya tekankan saya tidak bermaksud menjadi sangat agamis karena saya yakin tidak semua yang membaca artikel ini punya sepahaman dengan saya mengenai Tuhan, dan tulisan ini sama sekali bukan membangun superioritas atas kebenaran agama yang saya pilih. Oleh karenanya saya pakai istilah Tuhan ( dibandingkan 4JJI, in which I recalled my God so) supaya anda bisa merasakan maknanya sesuai dengan keyakinan anda.

Setiap diri kita pasti tahu, Tuhan tahu segala macam bahasa. Jadi sekiranya kita berdoa tidak perlu pakai bahasa yang hanya tertulis dalam kitab suci, semisal bahasa Arab bagi yang muslim, atau mungkin bahasa latin, atau bahasa Inggris sekalian, yah terserah deh bahasa apapun itu, yang jelas kita yakin dan kita paham Tuhan tahu maknanya.

Tapi kalau saya pribadi lebih percaya bahasa Tuhan tidak hanya sekedar yang eksplisit tertulis nyata dalam setiap doa yang kita rapalkan dalam rutinitas ibadah, ataupun dalam bisikan nyata saat kesendirian kita dengan Tuhan. Buat saya bahasa Tuhan itu lebih indah dan nyata secara implisit, seperti gejala, fenomena, ataupun teriakan mother nature dalam bentuk keindahan, keberhasilan, atau bahkan bencana dan musibah.

Seperti pagi ini, Tuhan mengetuk hati saya kembali lewat tangan seorang teman melalui akun twitternya yang memberikan link pada sebuah kajian tentang agama saya Islam dan Ego, nanti lain kali saya cerita tentang ini. Tepat pada saat sekian hari saya berusaha bertengkar dengan alter ego dan meredamkan emosi atas segala yang terjadi di luar kehendak saya. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya dari video kajian itu, Do What You’re Supposed To Do and let God decide the rest, and relieve the result, by then you’ll feel no more insecure anylonger. Secara tak sadar saya menangis, betapa Tuhan telah mengetuk hati saya untuk berbicara kembali padaNya. Betapa saya telah sombong untuk tidak mau tahu apa yang coba Tuhan sampaikan dengan saya sibuk merancang segala masa depan. However, that was one of my grateful, God talks to me through that video and through my friend who kinldy passed me and the link and that brother ( May Alloh gives you blessed as always).

Bahasa Tuhan di lain kali juga saya rasakan saat gempa yang melanda Jepang 11 Maret 2011, suatu kisah sendiri yang sampai kapanpun saya ingat selalu, dengan segala kedigdayaanNya Tuhan coba berkata yang sama sekali beyond our expectation. Jepang yang sudah sangat terkenal dengan penanganan gempa karena seluruh prefecturenya merupakan pertemuan beberapa lempeng, tetap saja kewalahan menangani musibah nasional ini. Jadi dalam analisis saya, itulah bahasa Tuhan lewat alam yang mencoba mencari keseimbangan untuk mengajak manusia agar mau lebih banyak berpikir. Terbukti setelah hampir 2 bulan setelah gempa berlalu tiga buah scientific paper langsung publish di Science seperti di sini.

Belum lagi masalah pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang hampir seluruh unitnya terpengaruh oleh tsunami yang melanda prefecture itu dengan parah. Mungkin ini bagian dari bahasa Tuhan agar manusia berhati-hati dengan yang digunakan, sebagai yang dilakukan Angela Merkel saat memutuskan untuk melakukan temporary shutdown pada 7 reaktor nuklir di Jerman seperti yang ini setelah balada bahaya nuklir mengancam bagian timur Jepang. Tanpa bermaksud menyinggung keberadaan PLTN ataupun badan nuklir international atau BATAN sekalipun, all I am saying that God challenge us to do more as the protector of the earth.

 

By the end,

As a part of those who believe in God, and it does not mean that i did no respect on whom did not believe in God, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, seberapa jauhpun kita meninggalkanNya. Dia selalu menjawab doa kita lewat berbagai bahasa, entah itu jawaban atas yang kita pinta atau pun kejadian kecil yang membuat kita berpikir untuk tahu inikah jawaban dari Tuhan. Lalu, siapakah kita yang tak lagi mau memahami bahasa Tuhan baik yang eksplisit maupun implisit? Sebegitu congkak kah kita berjalan di atas bumi yang dipinjamkanNya tanpa berusaha memahami makna dari bahasa Tuhan yang sedemikian indah itu? Atau sebegitu tak perdulikah kita pada Sang Khalik dengan segala macam bahasaNya sebagamana dia memahami berjuta bahasa hamba yang meminta padaNya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s