its me versus the news

Saya ingat sekali dulu, waktu masih di kampung sana kerap kali jadi commuter, naik kereta ke tempat kerja. berangkat pagi-pagi, bersama para commuter yang lain, berpacu dengan waktu, melawan segala kemacetan,keramaian, dan hangat..*panasnya* sinar matahari. Di tengah-tengah segala rutinitas itu, saya menghabiskan waktu selama hampir 1.5 jam dengan membaca koran. Entah kenapa, saya suka sekali membaca koran pagi di dalam kereta atau di dalam bus yang saya naiki. Mungkin rasanya jadi up to date banget kalau tahu apa yang terjadi hari ini di negeri saya tercinta. Walaupun yah, isi beritanya sudah bisa ditebak, yang nggak jauh-jauh dari kritik terhadap pemerintah, berita korupsi, opini yang hampir selalu berada dalam kondisi oposisi pemerintah, dan jawaban-jawaban dari pemerintah yang kadang kala bikin saya geleng-geleng kepala. Sungguh, membaca koran pagi itu, buat saya seperti menonton sinetron yang kini ramai di televisi nasional kita, dengan aktor yang itu-itu aja, dan alur cerita yang relatif sama, proses zoom in zoom out aktor, dengan kerap kali iklan di sana dan di sini.
Tapi, saya tidak bilang koran pagi itu tidak pernah menampilkan berita bagus, kadang kala senang juga kalau ada berita yang menggambarkan keberhasilan negeri ini dan segelintir penduduknya dalam meraih prestasi, atau sekadar info IPTEK yang saya suka, atau lagi sekadar godaan iklan atas gadget terbaru. Yah seperti itulah gambaran koran pagi buat saya. Kadang menyenangkan, tapi lebih banyak menjemukan, membosankan. Bukan bosan terhadap kertas korannya, tapi bosan terhadap isinya. Tapi saya tidak menyalahkan sepenuhnya pada tim penerbit koran-koran yang saya baca. Bukan. Masalahnya mungkin memang itulah kejadian yang sesungguhnya terjadi, di negara saya tercinta, Indonesia. Masalah yang selalu hampir saja sama, tanpa ada kejelasan akhir, seperti sinetron yang kerap kali berulang tema, berulang-karakter, masih untung kalau pemainnya beda, ini kadang-kadang pemainnya sama. Tapi, apakah masih tetap masyarakat kita suka sinetron? Jawabannya pasti anda lebih tahu, kalau nggak, kenapa juga hampir semua sinetron tayang di jam-jam primetime saat keluarga bisa menonton bersama?

Lalu, kecenderungan pun berubah saat saya mulai tinggal di Tsukuba. Mungkin kalau koran-koran yang saya baca saat itu bisa saya beli juga di sini saya pun akan beli, langganan istilahnya. Mau dibaca atau nggak kek tetep aja kalau udah langganan at least saya nggak ngerasa ketinggalan informasi. Begitu di Tsukuba, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus baca koran via internet. Berbagai macam jenis koran sekarang rasanya sudah punya sistem online, jadi mau di mana pun kita berada, bisa lah untuk tahu apa yang terjadi di Indonesia. Apalagi, sekarang banyak sekali laman-laman informasi yang berlomba menyampaikan berita dalam waktu sangat singkat. Tagnya sih akurat, benar atau tidaknya, saya sendiri tidak begitu percaya dengan laman yang satu itu.

Tapi, apakah saya masih merasakan kebahagiaan dan kesenangan tersendiri dengan membaca laman-laman berita nasional tadi di pagi hari? Mohon maaf, jawabannya tidak, justru saya makin tidak suka. Karena dengan berada jauh dari negeri saya tercinta, dan tahu kondisi Indonesia justru saya merasa sedih. Sedih yang luar biasa. Ajaib kalau istilah alaminya. Laman-laman itu kerap kali jadi momok yang menakutkan buat saya karena kian hari saya makin bingung akan seperti apa negara saya kelak? Harus berbuat apa saya buat negara saya? Kenapa hal tersebut bisa terjadi?

Entah apakah ini semua karena over exploited, atau memang kondisi yang sebenarnya, kerap kali baca berita pagi hari itu bikin kepala saya sakit, kerja nggak enak, susah memimpikan masa depan, dan ahh banyak hal-hal negatif lain. Saya rindu, akan berita yang menyejukkan, berita yang membanggakan, dan berita yang menggembirakan. Mungkin, mengapa masyarakat kita lebih suka pemerintah orde baru dibandingkan dengan pemerintahan saat ini adalah karena saat itu setidaknya satu masalah mereka di pagi hari berkurang, dengan tidak melihat realitas dan terkubur dalam headline-headline keberhasilan negara. Entah itu benar atau tidak.

Buat saya, bukan lagi masalah korannya siapa, atau bicara tentang siapa, siapa yang salah, dan mengapa hal itu bisa terjadi? Buat saya, dibutuhkan keberanian yang nyata untuk membaca koran nasional kita yang kian hari beritanya kian ajaib. Sekali lagi saya tidak mendiskreditkan koran sebagai objek, justru saya mempertanyakan, apakah memang berita baik,menggembirakan, membanggakan tentang Indonesia sudah sebegitu sulitnya dicari? Atau memang berita yang seperti itu tak lagi menimbulkan sensasi? Kalau sudah begitu, saya pilih nonton acara kuliah subuh saja sebelum kerja…

Advertisements

One thought on “its me versus the news

  1. Yayaya,just what Ive told ya before..feel ya baby.. Now I prefer not to read online newspaper, I got new from twitter.. And it still gives bad impact tough! *miris.mengelus dada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s