Romadhon kedua di negeri Sakura

disclaimer : tulisan ini secara nyata dan utama ditujukan buat saya pribadi, segala kekhilafan yang ada di dalamnya adalah bagian saya sebagai manusia biasa, tempat salah dan lupa.

Alhamdulilah kembali merasakan nikmatnya bulan Romadhon.  Thank God. Rasanya masih terngiang betapa di akhir Romadhon tahun lalu sebegitu sedih dan gembira campur aduk jadi satu mengingat Romadhon sudah berakhir. Nasehat yang kerap kali terdengar saat itu adalah akankah tahun depan dipertemukan kembali dengan bulan mulia ini? and yet, God gave me the answer…Thank You, dear Lord.

Sekadar berbagi cerita tentang Romadhon saya di negeri sakura ini. Alhamdulilah sudah menjadi Romadhon yang kedua jauh dari keluarga tercinta, negeri tercinta dan tentunya hidangan Romadhon khas negeri sendiri. Rasanya?
Campur aduk tak menentu, ada senangnya, dan kebanyakan sedihnya, hehe..Tapi alhamdulilah tahun ini saya mulai terbiasa dengan keadaan ini.

Saya tidak mau berbagi tentang bagaimana saya menjalani hari-hari saya di sini, di tengah musim panas yang mendera tanpa peduli apakah puasa atau tidak, periode puasa yang mencapai 16 jam sehari, dan segala hal yang berhubungan dengan perbedaan yang saya rasakan ketika saya menjalani Romadhon di negeri sendiri. Buat saya itu adalah atribut yang masuk ke dalam pikiran kita, terolah sedemikian rupa, dan dikaitkan dengan perbedaan yang sekian puluh tahun saya sudah terbiasa.

Yang justru menarik dari Romadhon kali ini adalah maknanya yang kian mendalam untuk saya pribadi. Kalau tentang kesendirian rasanya hampir banyak orang juga yang sendirian menjalani puasa ini. Tapi, kalau hikmah dari kesendirian ini yang mungkin belum tentu semua orang bisa tahu. Nah, saya mau berbagi tentang itu. Hikmah kesendirian saya di negeri ini.

Tahun lalu, saya masih kaget dengan kesendirian saya ini. Jadi saya berusaha membuat segalanya as same as it used to be. Saya berusaha nonton acara televisi Indonesia yang sekiranya memang langsung terasa beda saat Romadhon tiba. Saya berusaha untuk minta ditemani dan menemani saat berbuka puasa tiba. Tapi entah kenapa tahun ini rasanya saya malas melalui ritual itu. Ada dorongan dalam diri yang berkata sepertinya bukan itu Romadhon yang memberikan keberkahan dan keindahan.

Tahun ini, saya coba sesuatu yang berbeda, mulai dari yang kecil. Seperti, saya tidak lagi nonton televisi Indonesia, yang menurut saya ini menurut saya loh, program Romadhonnya sudah mengalami nilai pergeseran dari dakwah menjadi serba komersil. Dari dulu saya pun sudah agak malas nonton televisi, kecuali ada satu dua program yang saya rasa penyampaian pesannya bagus dan cukup menghibur. Sebagai pengganti , seorang teman memberikan link untuk ceramah-ceramah baik mengenai Romadhon, atau tafsir Al Qur’an seperti yang ada di …atau yang ini

Selain itu tahun ini pun saya coba untuk lebih gembira, lebih semangat, lebih bersyukur atas karunia Ilahi yang sudah begitu banyak pada saya. Di tengah panasnya suhu Tsukuba ini, saya berusaha untuk berujar that I do entire of this only for Alloh, the Rob of mine, the mercifull who is very close within inside our own vine.

Lalu? So? An then?
Subhanaulloh, untuk saya, mungkin seperti baru setitik..hanya setitik cahaya yang Dia kirimkan sudah cukup membuat kesedihan saya berangsur pergi, menjauh menghilang. Apalagi jika Dia memberikan seberkas cahaya yang terang benderang untuk sisa hidup? akan seperti apakah kebahagiaan yang kita terima? And that was what I am wondering.

Saya ambil contoh kecil, yang sangat kecilll sekali.
Saya masih ingat, saya ini yang sekolah SMP nya notabene sekolah Islam, belajar Quran dan Hadist, belajar sejarah Islam yang saya benci saking susah dihafal, kalau sudah mendengar ceramah yang isinya baca Alquran, resapi maknanya, bla bla bla bla…dalam hati saya pasti cuma berujar, iya iya saya baca. tapi kenapa sih Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab? susah kali, saya kan bukan penutur bahasa Arab..kali lain saya diyakini AlQuran itu mukjizat yang nyata dari Rasululloh SAW..dalam hati saya berujar, mukjizat dari mana sih? Al Quran aja bahasanya kayak gitu, satu ayat ke ayat lain loncat-loncat, susah dipahami, lebih keren juga mukjizat Nabi Ibrahim misalnya, yang tak terluka seujung kuku pun ketika dilumat api, atau Nabi Musa misalnya yang bisa membelah laut sedemikan luas, atau Nabi Isa misalnya yang bisa membangkitkan orang dari kubur. Dimana letak kemukjizatan AlQuran? saya tidak mengerti….

Tenyata, oleh Alloh SWT butuh waktu lebih dari 15 tahun bagi saya untuk sadar how miraculous my holy Quran is. AlQuran yang menjaga ajaran-ajaran agama pendahulu dan menyempurnakan ajaran agama itu menjadi ajaran Islam. AlQuran yang isinya 6666 ayat itu ternyata punya bahasa yang sangat indah. Yang susunan kata-katanya tak bisa ditiru oleh manusia sekalipun.Yang isinya mencakup sejarah dahulu, yang isinya bila dituliskan manusia tersebar luas kemana-mana terpelihara sekian ribu tahun hingga kini, dan AlQuran yang memuat segala bukti-bukti nyata science yang kemudian baru terungkap beberapa puluh bahkan ratus tahun kemudian oleh ilmuwan-ilmuwan lain. Dan yang paling menarik buat saya adalah Al Quran, diturunkan oleh Muhammad, seorang ummi, yang tidak bisa baca dan tulis. Logikanya, bagaimana bisa orang yang nggak bisa baca tulis bisa menuturkan bahasa sastra yang indah yang punya sekian banyak ilmu pada masa itu belum diketahui? Atau mengandung sejarah yang si penutur nya sendiri (Muhammad SAW) nggak punya referensi dan nggak bisa baca? Dan dalam 23 tahun perkembangannya oleh Rosululloh SAW, Islam sudah menjadi agama yang tersebar sedemikan pesatnya di seluruh penjuru dunia.
Lalu apa reaksi kita? Oh ya udah lah ya. Toh udah tadarrus. Toh udah dibaca. Sama kan? Lah, terus tidak diamalkan? Jadi AlQuran itu cuma untuk dibaca, yang kadang2 dibaca artinya juga nggak? Itu kan bahasa dialog kita dengan Tuhan? Apa nggak kepengen kita hidup dibawah cahayaNya? dilimpahi keberkahan dan rahmatNya? Bagaimana bisa menaati semua perintahNya lah wong perintahNya aja saya nggak ngerti? Nah mangkanya habiskan waktu untuk mengkaji AlQuran. Buat saya bukankah itu kunci jawaban hidup? Kenapa pelit amat menghabiskan waktu buat membaca dan mengkaji ajaran hidup? Sementara kita sibuk apdet status fesbuk dan twitter, nonton tayangan gosip ini dan itu. And if you really care, only you really care to know the inside meaning of the tremendous holy Qoran is you will amazed of everything.

May Alloh forgive us for all of that.

Romadhon itu berkah untuk orang-orang yang beriman, sebagaimana tertulis dan termaktub dalam kitab. Tapi sejauh mana kita mau digolongkan sebagai orang yang beriman? Romadhon itu mulia, seperti yang dikatakan Rasullulloh SAW. Tapi sejauh mana kita ingin menganggap bulan ini mulia? Hanya sekadar menahan makan dan minum? Sementara berbagai nafsu mulai dari nafsu berbuka, (ehm saya tuh), nafsu ngomongin oraang, ( yah saya lagi tuh), nafsu belanja ngabisin THR tanpa peduli di dalamnya ada hak anak2 yatim orang miskin, dan sodara2 kita yang kelaparan di somalia (nah yang ini mungkin kurang saya karena saya nggak dapet THR, eh curcol), nafsu mengumbar amarah lewat status fesbuk, twitter, plurk dan lain-lain (nah, saya lagi ini)…

Mari perbaiki diri, dekatkan diri pada Ilahi, ingatkan diri senantiasa untuk bersyukur, peduli terhadap sesama, tahan semua amarah, emosi, dan embel-embelnya. Mungkin kita bisa mencari excuse pada diri kita atau orang lain atas semua tindakan kita di bulan Romadhon ini, tapi Alloh , Sang Maha Tahu tak bisa dikelabui dengan excuse itu. Dia bahkan tahu segala niat dan keinginan terdalam yang tak pernah kita ujarkan sekalipun kepada orang-orang yang kita percayai.

So on behalf of my loneliness here, far away from my dearest son, husband, mom and very amazing family, I thank Alloh who always been accompanied me, in every breathe that I take, every blink of an eye that I made, and ever beauty screen of life that I see. For that I am sure, I was and would never be alone..

Advertisements

2 thoughts on “Romadhon kedua di negeri Sakura

  1. Mungkin karna terbiasa puasa senin-kamis jadi tidak terasa 16 jam nya itu,mungkin karna sudah terbiasa sendiri jadi tidak perlu ditemani tapi allah selalu ada di dekat kita sis,,apapun yang dilakukan dan diniatkan usahakan membawa semangat untuk diri sendiri dan yakinlah orang” terdekat yang ada jauh dari sana pasti merasakan apa yang seorang ate rasakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s