kemerdekaan itu…..

Dirgahayu Indonesia…

Bangun pagi tadi, saya belum sadar kalau ini tanggal 17 Agustus. Maklumlah, di negeri orang, yang peringatan kemerdekaannya hanya di beberapa tempat, itu pun serba minimalis, semacam Kedutaan Besar RI di Tokyo atau Konsulat Jendral RI di Osaka misalnya. Selebihnya jangan harap liat umbul-umbul merah putih di mana-mana. Oh well, saya juga nggak mau ngomongin itu kok, soalnya saya nggak ikut upacara juga, karena baru hari ini masuk kerja setelah liburan musim panas seminggu kemaren, eh ini kok ngelantur ya..Mohon di maafkan..:P
Oh ya, kembali ke kesadaran saya bahwa hari ini adalah 17 Agustus. Kalau nggak liat cuap-cuap teman di jejaring social tuh, wah bener deh saya nggak sadar sekarang 17-an. Iseng-iseng saya liat isi twit teman saya satu-satu. Ada yang filosofis, membahas sejarah, ada yang skeptic, memandang kemerdekaan yang sudah 66 tahun ini kok tidak dirasakan kemerdekaannya, ada yang nganggep guyon, ada yang mengeluh karena nggak libur, ada yang heboh dengan segala atribut upacara kemerdekaan. Hihi, lucu sekali. Lumayan menambah wacana pola berpikir.

Nah, pada akhirnya saya bingung. Kalau saya, apa dong makna kemerdekaan buat saya?
Mhh, setelah berpikir sekian lama *ini lebay banget*, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan tentang kemerdekaan ini. Ini kemerdekaan ala saya loh ya. Menurut saya, hakikatnya manusia bukanlah mahluk yang merdeka.
Once they were born, they will never be free. Manusia yang terlahir ke dunia bukanlah mahluk yang merdeka, karena mereka menyadari ada kekuasaan yang sangat besar yang membuat mereka lahir ke dunia. Mbulet ya? Jadi begini, menurut saya, kalau kita tahu dan sadar penuh, kita ini manusia yang helpless dan memercayai ada suatu kekuatan yang lebih besar berkuasa atas kita, lalu apakah kita bilang kita merdeka, bahkan untuk diri kita sendiri? Sebagian besar orang menganalogikan kemerdekaan dengan kebebasan. Nah, saya kembali bertanya terutama pada diri sendiri, kalau kemerdekaan diibaratkan kebebasan, maka yang terjadi di dunia ini adalah chaos, dengan setiap orang bebas bertindak sekehendak mereka. Jadi, pada intinya apakah manusia itu merdeka?

Lalu , menurut kamu kemerdakaan itu apa?
Menurut saya kemerdekaan itu adalah pengalihan wewenang dari satu otoritas ke otoritas lain, otoritas yang lebih tepat. Sebagai contoh, saat Negara ini masih dijajah Belanda atau Jepang sekalipun, apakah mereka yang memiliki otoritas bangsa kita? Bukan toh? Yang memiliki otoritas bangsa ini adalah bangsa Indonesia sendiri. Tapi kan kemerdekaan Indonesia bukannya pengalihan wewenang secara sukarela dari penjajah ke bangsa kita? Jutaan nyawa melayang demi membebaskan bangsa ini dari belitan penjajah. Ya, itu betul sekali. Kemerdekaan yang kita miliki kita peroleh sendiri, dengan perjuangan lebih dari 350 tahun dari satu generasi ke generasi lain. Tapi…kalau menilik bahkan ke UUD 45 itu, tertulis..”Atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa…….”. Jadi, secara langsung ataupun tidak, para pendiri bangsa ini sudah menyadari dengan penuh, bahwa kemerdekaan ini adalah murni nyata pemberian dari Tuhan, Sang Pemegang Otoritas tertinggi. Bahwa segala daya upaya yang dilakukan pahlawan Nasional untuk membelenggu kita dari penjajahan tidak akan berujung pada kemerdekaan, selama Sang pemegang otoritas tertinggi, belum mengizinkan terjadinya pengalihan kekuasaan.

Lalu, kalau kita ini bukan manusia merdeka, apa yang membelenggu kita?
Menurut saya, selama kita meyakini ada kekuatan yang besar, Yang Maha Besar , yang menentukan takdir manusia sedari lahir hingga ke liang lahat, maka di situlah letak kita memberikan kebebasan . Once we cried out loud into this world, at that time we already had known that we are not free. We are bound to the most ultimate power that created us. Limit us in the very obstacle, decide into what kind of nation we will be, and determined when it’s the time to come back to the owner. Mmhh, tapi lebih lanjut saya berpikir, tapi kan kita masih bisa berbuat sekehendak kita, sebebas kita mau. Iya, itu teorinya, tapi dalam prakteknya, apakah seluruh keinginan kita terpenuhi? Dan apakah seluruh keinginan yang terpenuhi itu membuat kita bahagia? Pada akhirnya, saya dan anda yang bisa menjawab sendiri. Mari Tanya hati kecil, jujur ke dasar hati yang paling dalam, are we doing the right thing for ourself?

Nah terus kalau kita terbelenggu dengan Tuhan, hidup kita ini buat apa?

Menurut saya, Tuhan itu Maha Bijaksana. Dia tidak meninggalkan umatnya sendiri melakukan hal-hal sekehendak mereka, tanpa memberikan aturan aturan yang nyata. I did not speak on behalf of my religion. Tapi saya yakin setiap agama dalam kitab sucinya memberitahukan bagaimana cara menata hidup, memberikan aturan-aturan agar hidup ini berjalan seimbang, tanpa chaos, tanpa riots. Kalau nggak percaya liat, pahami, dan resapi Kitab Suci Agama anda sendiri. If we know it for sure then we’ll know the answer why should we be on this world? In what terms are we now?

Oh, kalau begitu mending jadi orang yang agnostic ataupun atheis sekalian yah? Merdeka toh, nggak perlu tahu aturan2 hidup.
Nah, saya sempet mikir begini, tapi logika saya muter lagi. Kalau pun anda memilih jadi agnostic atau atheis sekalian, anda harus tetap terbelenggu dengan aturan-aturan, norma-norma, atau undang-undang kan? Entah itu aturan manusia, norma budaya, atau undang-undang Negara sekalipun. Lalu, dari segimana nya anda bilang merdeka? Dan kalau kita lihat antara setiap undang-undang dari satu Negara saja ke Negara lain itu punya takaran nilai yang berbeda. Dan ini menunjukkan lemahnya undang-undang yang dibuat manusia, terlalu banyak variable. Tapi kalau anda lihat undang undang yang dibuat Tuhan, at least sebagai muslim saya bisa bilang sebagian besar undang-undang hidup kita adalah Alquran yang isinya sama di berbagai belahan penjuru dunia. Dan…sebagai bandingan, saya hidup di negeri yang kebanyakan penduduknya hanya memercayai Tuhan sebagai simbolik belaka, tanpa memahami kehadiran Tuhan, yang patuh dengan undang-undang yang dibuat oleh negaranya, tapi anda pasti tahu berapa angka bunuh diri setiap tahunnya di Jepang? Saat kita sudah panic, hidup tidak sesuai ekspektasi, undang-undang tak lagi menolong, kita jadi putus asa. Segala kebebasan tidak berarti apa-apa, karena pada intinya manusia bukanlah mahluk yang bebas, mereka butuh tempat bergantung.

Now…I come to my conclusion.. (ngelap keringet, ternyata panjang postingan kali ini)
Kemerdekaan yang sejati itu milik Tuhan. Karena Dialah Yang Maha Memiliki. Sementara manusia hanya pelaksana dari apa yang Tuhan kehendaki. Tapi, segala kehendak Tuhan itu sudah diatur sedemikian rupa agar membawa kebaikan buat kita, selama kita memenuhi aturan main yang sudah diciptakanNya. Itu sudah pasti. Satu lagi, setiap “kemerdekaan” adalah pengalihan kekuasaan kepada otoritas yang berhak. Dibalik pengalihan kekuasaan itu, tahukan anda tersimpan lebih banyak kewajiban untuk menjaga dan memeliharanya. Jadi, kalau Alloh sudah memberikan kemerdekaan kepada para pahlawan kita, yang sudah menempuh kewajiban mereka, membebaskan Negara ini dari belenggu penjajah, maka sekarang pengalihan kekuasaan itu ada di pundak kita. Pengalihan kekuasaan yang berujung pada pengalihan tanggung jawab. So it is our responsibility to maintain, to build, to develop, to have this country secure. Secure from any bad desire of human that will lead us nothing but to devastation. We don’t have to address the question to the government, but ask ourselves what have we done to our country besides yelling at them. So if our own nation had abused us, had been doing wrong to us, what have we done to make it right? And what will we do to make sure that condition would not happen to your child, next generation within 10-20-or even 50 years?

Advertisements

One thought on “kemerdekaan itu…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s