1433 di negeri sakura

Ied mubarrok!! Mohon maaf lahir batin, duh udah seabad nggak menulis bikin saya merasa bersalah dan bodoh. Iya, jarang menulis bikin bodoh  buat saya bukan buat orang lain tentunya. :). Kadang saya bingung untuk memulai lagi menulis di blog ini, karena kadang suka malu sendiri kok isinya hanya curhat doangan, nggak mutu, meaningless, jadi saya sibuk nyari bahan postingan yang agak berkelas sedikit. Tapi hal itu selalu saja bikin saya males posting, gatot, karena kebanyakan mikir. So instead I am being productive by try to think productively, I hold back my will to become procastinating. Sama aja bohong, so,biarlah isi blog ini mengalir apa adanya, nggak kebanyakan mikir . 🙂

Jadi tahun ini, saya kembali merasakan Ied Mubarrok di Jepang. Tapi tiga kali berlebaran di sini itu aseli nuansanya beda-beda. Mungkin ini nikmatnya yah, blessing in disguise kalo kata di film-film. Kalo di kampung halaman kan cenderung  yah begitulah lebaran, as always, heuheu. Tapi di sini saya merasakan hal yang berbeda.

Apa yang beda?? 

Sebelumnya saya mau cerita tentang Ramadhan saya 3 tahun di negeri yang relatif tidak mengenal agama ini. Dari tiga tahun disini walapun masih terbilang singkat, saya merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai masyarakat minoritas. Kebalikan dari para muslim di Indonesia yang tentunya mayoritas. Saya merasakan bagaimana kita harus pandai menjelaskan poin-poin penting kenapa saya beragama, kenapa saya berpuasa di tengah musim puanas terik tak terkira, bagaimana orang tidak begitu peduli tentang ajaran agama yang kita anut. Yang penting behave like the value here, that is all really matters. Namun demikian, justru saya belajar banyak dari kondisi minoritas di sini, yang saya tahu saya  diberi kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama saya di sini, tanpa harus merasa terancam, tanpa harus merasa takut. Dan orang-orang di sini tak akan tanya apa agama saya bila saya ingin melakukan sesuatu, tapi cukup dengan apakah semua undang-undang sudah saya patuhi, apakah saya menghormati orang lain, apakah juga saya tidak mengganggu orang lain. Terkait dengan achievement, saya diajarkan, yang penting kita berkarya, dan karya kita bermanfaat buat masyarakat banyak, tanpa dilihat apakah agama kita. Saya pun jadi belajar value yang dipegang di sini sangat Islami walau mungkin mereka sangat tidak mengenal Islam secara detil.

Lalu, apakah nilai keislaman tak lagi penting buat saya?

Justru sebaliknya, melalui Ramadhan yang saya lewati 3 tahun, saya lebih merasa kedekatan pada Sang Khalik. Setiap Ramadhan selalu memberikan maknanya sendiri buat saya di sini. Ramadhan tahun pertama, sungguh berat, jauh dari anak dan suami kali pertama, harus adaptasi dengan kultur, belum punya teman dekat yang paham kondisi saya. Akibatnya saya paksakan menciptakan kondisi seperti di Indonesia, banyak nonton televisi Indonesia demi menciptakan kondisi Ramadhan yang sama.

Ramadhan kedua, saya merasa inilah titik balik terpenting dalam hidup saya, It’s my U turn to God, I supposed. Seorang teman memberikan link ceramah Ramadhan preparation dari luar Indonesia yang jauh sekali dari apa yang pernah saya dapat di Indonesia sekian puluh tahun. Ramadhan ini adalah momen terdekat yang pernah saya dapatkan dengan Sang Pencipta. Sepertinya Ramadahan inilah hubungan hablum minaulloh saya diperbaiki. Dalam kesendirian yang memaksa saya untuk bertahan di tengah hiruk-pikuk jadwal ngelab dan musim yang tetap puanas ( bahkan ada di puncak musim panas), di tengah rindu yang sudah sangat mendera bahkan kadang bikin rasio saya nggak berjalan normal lagi karena jauh dari anak-suami, saya merasa sangat dekat dengan Sang Khalik. Sebagian besar saya tuangkan ceritanya di sini.

Nah, Ramadhan kali ini, saya dengan segala kerempongan mengurus keluarga seorang diri berusaha bertahan kembali dengan panasnya terik matahari (bahkan pernah mencapai 38 C) , jarak rumah-daycare-kantor yang lumayan bila ditempuh dengan sepeda dan persiapan menulis manuscript ikut mewarnai hari-hari di bulan suci tahun ini. Herannya justru tahun ini saya merasakan nilai-nilai peran yang saya jalani pun sehari-hari adalah perwujudan ibadah bukti penghambaan saya kepada Ilahi. Rempong? tentu amat sangat…Lelah? Don`t ask, setiap hari saya butuh 15 menit untuk tidur siang di kantor, dan 15 menit untuk tidur sebelum tarawih, atau badan ini tumbang rasanya. (Jadi, sahabat dan teman-teman, berhentilah mengeluh hanya karena pembantu mudik lebaran, please, I deal with my son, cooking, house cleaning, laundry, research, writing, and cycling everyday here mostly alone, dan lebih banyak orang di Indonesia dan mungkin di belahan dunia lain yang hidupnya lebih melelahkan daripada kita, but they are alive, healthy, and happy..)  Ramadhan tahun ini kesempatan saya memperbaiki hubungan baik dengan sesama manusia rasanya kembali terjalin, sederhana tapi indah…(sempet juga hosting buka puasa di rumah dengan teman-teman Indonesia, kendati hanya segelintir orang, maklum apato saya guedeeee banget,dalam makna yang sebaliknya, hehe)

Lalu bagaimana dengan Iedul Fitri?

Ini menarik, sejalan dengan perbedaan makna Ramadhan tiap tahun selama saya di sini, Iedul Fitri pun kisahnya beda-beda. Hikmahnya pun apalagi. Tahun pertama lagi-lagi adalah tahun terberat. Saya ingat malam takbir, saya menangis sejadi-jadinya di apato saya yang kecil nan sumpek, rindu rumah, rindu Harvy, suami, Ibu, semua keluarga.  Saat iedul fitri pun saya cari suasana Iedul fitri seperti cerita saya yang ini , ikut sholat di sekolah republik Indonesia Tokyo (SRIT), ikut makan ketupat di KBRI, again seorang diri. Tentulah ketemu dengan beberapa orang Indo yang saya kenal, tapi yah tetep aja sendirian.  Hikmahnya, setidaknya saya tinggal di negara yang open housenya masih rame dengan orang Indonesia, dan  masih bisa makan ketupat gratis, hihi. Lalu, tetiba tahun kedua, banyak teman Indonesia senasib berdatangan. Yang saya maksud senasib itu, di sini jadi single lokal, karena anak, suami, istri ada di Indonesia. Untuk mengobati kegundahan teman-teman pendatang baru ini, saya bertekad ingin menyenangkan mereka, agar mereka tak merasakan kesepian yang saya rasakan di tahun pertama. Walhasil, kami pun berlebaran seperti di Indonesia, kunjung sana kunjung sini, dan saya pun mulai bisa bikin ketupat-plastik sendiri, walo dengan menu seadanya…hehe. Senang rasanya melihat orang yang posisinya pernah saya alami tak senelangsa saya dulu. Kali itulah saya bertekad baja, if  I feel bad of my circumstances, I will change it, if  its not for me but for those who had the same condition just like I had, so that they would not feel that much suffer. Alhamdulilah. It was fun…

Nah, tahun ini, jeng-jeng. kebetulan tahun ini lebaran bertepatan dengan liburan musim panas di Jepang. Jadi, banyak teman-teman Indonesia yang mudik. Walhasil, Tsukuba pun sepi dari teman-teman Indonesia. Namun, semangat saya tak patah. Hal yang pertama ingin saya lakukan adalah membahagiakan suami dan anak, karena ini adalah kali pertama mereka di luar Indonesia, momen yang pasti berat untuk mereka. Walhasil, saya paksakan nurutin keinginan suami yang pengen makanan khas lebaran. Seperti Ibu, entah dapet tenaga dari mana, tahu-tahu saya bisa bikin masakan yang biasa saya dan suami santap saat lebaran. Nggak tanggung-tanggung, porsi jumbo (sampai pada awalnya kami takut makanan ini nggak akan habis kalau hanya dimakan berdua, tapi hari kedua ketupat saya pun blas lenyap :P).

Senangnya sempet kedatangan teman Indonesia juga. Ah, ini mirip dengan open house rumah saat lebaran. Hikmahnya, I have my mom`s gene. It`s proven…(though kata suami masakan saya masih jauh di bawah Ibu, yeah masak dibandingkan dengan yang soo experience for years. get real?).. Dan, bonus lagi di hari lebaran itu saya dapet hadiah ulang tahun terindah…”Bunda-chan, otanjoubi omedetou”…begitu kata Harvy…Ah patience is always bitter but in the end it will be sweet though. 🙂

 

 

 

 

 

 

So there…my Ied mubarrok stories. Its pretty boring, much more subjective, and so bias. But so be it..:). Its the part of my days that I face through, part of  my out of comfort zone area, scene of the tiring days of my life. Days that I tried my best not to complaining (though its freaking darn hard), days that I tried to make the sky looked much brighter though its totally cloudy. Cause I knew a thing for sure. God is so generous on each of us, and our life is too freaking short to be complaining about.

Which is it, of the favors of your Lord, that you deny?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s