tentang berita duka

sudah hampir sepekan berita yang beredar di Indonesia berputar pada kepergian salah satu ustadz yang wafat dalam kecelakaan tunggal. Kepergiannya terasa mendadak karena almarhum masih sangat muda, terkenal sebagai ustadz gaul yang bisa menyentuh kalangan muda. Ditambah lagi keluarga yang ditinggalkan, istri yang cantik, anak-anak yang masih kecil, dan berjuta penggemar. Rasanya semua berduka tanpa terkecuali, ditambah lagi dengan embel-embel reportase media yang begitu menyeloroh dari pagi hingga malam hari,seakan haus sekali ingin melaporkan bagaimana kepergian sang ustaz meninggalkan luka yang begitu dalam tak hanya bagi keluarga tapi bagi para jamaah yang mencintainya.

saya sendiri hanya sedikit baca berita tentang kepergian almarhum sang ustadz. Yang saya tahu dari web salah satu kantor berita sang ustadz mengalami kecelakaan selepas memberikan ceramah pada satu taklim. Motor yang ditunggangi menabrak pohon yang mengakibatkan almarhum terhempas dari motor, luka di kepala dan lengan. Almarhum sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, namun karena kejadiannya dini hari, sulit mencari armada transportasi yang mengakibatkan kondisinya tidak dapat ditolong. Stop sampai disitu. Saya tidak melangkah lebih jauh untuk tahu keadaan keluarga yang ditinggalkan. Sempat sih seorang teman memberitahu bahwa salah satu stasiun televisi meliput proses sholat dan pemakaman jenazah. Hanya melirik sebentar, melihat kesedihan jemaah sewaktu sholat jenazah dan persiapan pemakaman. All I know, everyone loves him. That was a good fact.

Hari itu, semua orang bersedih terlihat dari status facebook, twitter dan mungkin path (soalnya nggak punya path), semua mengungkit kesedihan,kehilangan almarhum. Hampir semua teman memberikan ucapan belasungkawa, kesedihan mendalam, dan bayangan akan kondisi keluarga yang ditinggalkan. How could it be? Buat saya itu normal, tapi mulai tidak normal saat sudah diliput berhari-hari diungkit-ungkit, diputar-putar, dibahas terus menerus. Apalagi, the most annoying part adalah saat pihak keluarga mungkin yang paling terpukul kala itu adalah istri dari alamarhum diminta bercerita berpendapat ttg kepergian suaminya. Kenapa saya yang terganggu? Toh istrinya mau kok. Bukan masalah mau atau tidak mau, tapi mengorek kesedihan itu membutuhkan tenaga, membutuhkan keteguhan, dan membutuhkan air mata.

I am not saying that I truly understand the condition of the family. However, years ago I’d through all the same. Mostly the same. Ayah saya meninggal karena kecelakaan motor. Vespa tercintanya ditabrak sebuah mobil besar, mengakibatkan motor ayah terguling, dan terbakar. Ayah saya menderita luka bakar 80%, sempat sadar sehari lalu dioperasi karena kaki patah, dan sehari kemudian ayah pun pergi. Saya tidak pernah tahu persis kondisi sebenarnya, hanya sebagian yang saya pahami, bukan karena saya bodoh, saya tak perduli, tapi saya tidak mau tahu. Semuanya terlalu menyakitkan hingga saat saya menulis postingan ini pun laju desiran darah yang sama masih saya rasakan. Laju desiran darah 13 tahun yang lalu. Saat itu rasanya dunia mau kiamat, mau runtuh, dan mata ini tidak bisa berhenti menangis. Tapi saya lelah, saya bosan dengan air mata, saya ingin maju, ingin hidup ingin pergi dari rasa duka mendalam. Walaupun saya tahu tidak mudah untuk maju. Saya menghargai semua rasa duka cita, saya menghormati semua belasungkawa yang disampaikan karib kerabat, sahabat,dan teman-teman tercinta. Tapi saat itu rasanya saya hanya ingin diam, tidak mau diingatkan, tidak perlu dibesarkan dengan kata-kata. Those words will never bring my dad back. Not a single once. Saya tahu ayah saya bukan hanya milik saya seorang, beliau punya rekan-rekan, punya saudara, punya tetangga, jadi mereka pun berhak menunjukkan rasa belasungkawa mereka. Tapi akankah rasa itu sama? Akankah belasungkawa itu ada saat mereka kembali ke rumah, menjalani hidup seperti sedia kala?

Life is getting hard after dad is gone. saya masih ingat malam-malam itu, saat biasanya ayah masih di situ, duduk dengan menyeruput teh manisnya, bercerita tentang masa mudanya. Saya masih ingat betul bagaimana Ayah lah yang paling awal memulai hari, memakai kopiahnya, sarung dan baju koko untuk pergi ke mesjid. Saya pun kadang teringat bagaimana Ayah saya menumpahkan amarahnya bila sesuatu yang diluar kendalinya terjadi. Semua terekam baik dalam memori saya. Hingga detik ini. Saat-saat itulah yang sulit bagi kami yang ditinggalkan untuk maju, bagi kami yang kehilangan untuk tetap tersenyum, tanpa perlu diingatkan tentang rasa kehilangan itu sendiri. Rasa kehilangan itu mungkin ada, pada saya dan pada orang lain yang juga kehilangan Ayah. But those feelings are never be the same. You’ll never know how much does it hurt though you might imagining that. Then you’ll never point out how hard was life after my dad was gone? Not only because the economy of the family, but also about the person himself that no one ever replace him.

So what is my point?

Give the family a break. Give them time to groan. Stop sorry for them. Just give them time to get normal life again though life is never going be the same. Stop talking about them, because you’ll never know the feeling of those nights, when everyone is gone you truly miss them a lot. Sometimes, the left one is just tired to cry, so don’t push us to cry. We just want to have the sunlight back again, though we know this time, we miss one shadow.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s