UnaG ; when the “green-lantern” phase is just arrived

sudah nonton film “green lantern?”? iya itu film yang diangkat dari DC komik yang ,pemerannya si ganteng Ryan Renolds, menceritakan tentang superhero *yeah its all that hollywood can do* dengan kekuatan super bisa memancarakan cahaya hijau berpendar.


(source : http://uk.playstation.com)

Sewaktu nonton, hal pertama yang terlintas dipikiran saya adalah pasti yang menulis strip green lantern ini dulunya kerja di lab biologi molekular. Mengapa? Karena buat kami pekerja biologi molekular ini biasanya suka sekali menggunakan protein berpendar berwarna hijau (green fluorescence protein; gfp) sebagai penanda. Istilah kasarnya, gfp protein ini adalah senter saat kita harus berjalan dalam gelap. Nah, dengan bantuan si gfp ini biasanya kita bisa melacak dimanakah keberadaan senyawa target kita di dalam sel, dan berbagai fungsi lainnya. Tapi, bukan itu maksud saya menulis hari ini. Pernah terbayangkah oleh anda, kalau ternyata nantinya manusia bisa menjadi super gloomy hijau seperti Hal Jordan, si pemeran utama green lantern? No, I am not kidding, then I’ll tell you the news…

Pertengahan Juni lalu, grup penelitian yang dipimpin oleh Professor Atsushi Miyawaki dari RIKEN berhasil mengisolasi protein yang bisa memendarkan cahaya hijau dari belut Anguilla anguilla dan  Anguilla rostrata). Iya, belut Jepang yang justru larvanya ditemukan di daerah laut Filipina. Jadi, si belut bila diberi sinar berwarna biru akan memancarkan cahaya hijau seperti si green lantern.

Sebenarnya, protein yang berpendar ini bukan barang baru di dunia biologi molekular. Salah dua generasi pendahulunya adalah the most famous “gfp” yang berhasil diisolasi dari ubur-ubur Aequorea victoria, dan Ds Red protein (yang tentunya bukan warna hijau, tapi merah) yang berhasil diisolasi dari batu koral. Penemuan ini begitu spektakuler sehingga ketiga orang penemunya dianugerahi hadiah Nobel di bidang Kimia Tahun 2008, selengkapnya bisa baca di sini . Bagaimana tidak, setelah itu banyak sekali ekpserimen-eksperimen yang berkontribusi bagi dunia kesehatan menggunakan gfp atau Ds Red dalam pengembangannya. Namun, perlu digaris bawahi, kedua protein ini diisolasi dari organisme invertebrata yang tentunya memiliki kompleksititas jauh dibawah vertebrata secara umum, dan manusia secara khususnya.

Then here comes UnaG……

Nah, penemuan UnaG tentunya menjadi buah bibir yang cukup menghebohkan dunia biologi molekular. Hebtanya lagi, si UnaG ini hanya bisa bekerja  pada cell-line (yang biasanya diisolasi dari sel organisme vertebrata seperti manusia dan hewan). UnaG tidak cukup fungsional bila diekspresikan pada bakteri, menandakan, UnaG memiliki sistem kerja yang spesifik hanya ada pada mahluk vertebrata. Apa artinya? Artinya penggunaan UnaG pada dunia biologi molekular bisa merepresentasikan sistem kerja metabolisme hewan tingkat tinggi, yang tentunya banyak berbeda dibandingkan dengan bakteri atau organisme uniselular lainnya. Menguntungkan? Absolutely……

So…what does UnaG offer?

Nah ini dia yang bikin saya cukup tercengang waktu baca papernya. Si protein UnaG ini cukup unik, karena dia hanya bisa berpendar bila berikatan dengan bilirubin. Who is bilirubin? Another Hollywood actor? No no…Bilirubin adalah zat yang disekresikan oleh liver atau hati yang bila dalam jumlah berlebihan menjadi indikator penyakit liver. Bagi penderita hepatitis (seperti saya dulunya), dan bayi kuning (jaundice baby), kadar bilirubin dalam darah merupakan salah satu  indikator tingkat kesehatan. Biasanya, jika kadar bilirubin jauh di atas normal, maka kulit akan menunjukkan warna kuning. Selama ini, pendeteksian kadar bilirubin dalam darah dilakukan dengan metode spektroskopi menggunakan spektrofluorometer yang tingkat akurasinya masih rendah dibandingkan dengan spektrofluorometer, alat pengukur tingkat fluoresens (berpendarnya) senyawa. Berdasarkan penelitian ini pula, Miyawaki dkk mengklaim UnaG dapat bereaksi dengan bilirubin dan memberikan cahaya pendar wana hijau yang jauh lebih akurat dalam menentukan kadar bilirubin dalam darah. Reaksi yang terjadi dari bilirubin dan UnaG dapat diukur dalam kurun waktu 10 menit dan tetap stabil setelah 60 menit reaksi, suatu kurun waktu yang relatif lama bagi senyawa yang berpendar. Way to go, Sir….

Another bonus might be waiting…..

Miyawaki dkk sebenarnya tak hanya tertarik menjadikan UnaG sebagai aktor utama dalam dunia riset biologi molekular dan uji klinis pada dunia kesehatan. Hal lain yang menyimpan misteri adalah, UnaG dipercaya berperan besar pada tingkat ketahanan pergerakan si belut Jepang ini karena mampu melewati batas Laut Filipina hingga daratan Jepang.  UnaG diisolasi dari sel otot belut Anguilla japonica dari suplier di Osaka Jepang. Jadi bisa dibayangkan, si belut berkelana sedemikian jauhnya. Kendati masih terlalu dini untuk menyampaikan fungsi dan peran UnaG di dalam sel otot itu, namun nampaknya hal ini akan menjadi bonus tersendiri bagi penemuan UnaG. Satu hal lagi, saat ini Miyawaki dkk berusaha mengekspresikan si UnaG ke tubuh tikus..Mmmhh, another  glowing mice might be?

Oh..satu lagi ketinggalan…saya kurang tahu bagaimana melafalkan UnaG ini dalam boso enggres, might sound (Yunaji…or Yunaj..), tapi pertama kali baca papernya langsung saya melafalkannya seperti Una-ji… terdengar seperti unagi (bahasa jepang yang artinya : belut)…enggak penting juga sih dibahas, heuhue….jadi boleh pesen unagi satu buat buka puasanya mba??? 🙂

PS : You can have the original paper and picture over here

Advertisements

One thought on “UnaG ; when the “green-lantern” phase is just arrived

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s