Perspective

Hari ini saya melewati lagi 19 Agustus kesekian dalam hidup. Tidak ada kegiatan spesial buat saya pribadi entah karena sudah terlalu bebal rasa dengan segala momen kebahagiaan perulangan. Tapi untuk hati sendiri, biasanya saya memaknai dengan berusaha menemukan apasih platform kemajuan diri selama satu tahun belakangan. Apa yang membedakan saya di tahun kemarin dengan saya di tahun ini. Contohya, 19 agustus 2010 menjadi sangat berkesan karena saya merasakan keterikatan yang lebih dengan Tuhan. Setahun berikutnya, saya merasakan kesepian yang begitu menggigit dalam hidup sehingga saya menyadarai orang-orang di sekitar saya sangat berperan dalam menjaga irama hidup ini, dibawa senangkah, sedihkah, nyamankah, atau apalah. Sementara , 19 Agustus 2012 saya belajar, bahawa keluargalah tempat dimana hati saya berlabuh, tempat kebahagiaan saya bermuara, dan tempat saya bersyukur jauh dibandingkan kepemilikan terhadap materi apapun….

Lalu bagaimana dengan tahun ini?

Tahun ini, saya belajar lagi tentang perspective, cara pandang. Dengan umur saya yang kesekian tahun anggap aja 23 lah biar sama-sama enak, saya belajar untuk punya berbagai perspective dalam melihat suatu masalah. Contohnya, kapan itu di media sedang heboh-hebohnya kasus penyiraman yang dilakukan narasumber kepada narasumber lain pada acara talkshow..live di televisi swasta Indonesia. Nah, sewaktu rekamannya sudah nongol di twitter, mulailah kicauan kontra pelaku penyiraman bertebaran dimana-mana. Saya sempat lihat sendiri dan agak terperangah melihatnya, tapi ujug-ujug langsung sesumbar seperti halnya teman-teman di berbagai media sosial, saya diam, mencoba berpikir bagaimana rasanya jadi orang yang menyiramkan air itu. Rasionalitas saya mengajak saya berpikir, pasti ada alasan, mengapa dia melakukan hal itu. Pun tetap saja saya tidak menyetujuinya. Belakangan, mulailah bertebaran video tandingan yang menonjolkan perilaku si korban yang disiram, yang agak aneh juga perkataanya menurut saya. Dan mulailah bertebaran di fesbuk, ihwal si korban yang tadinya dielukan sebagai korban tersakiti jadi pihak yang memprovokasi. Pun, sekali lagi saya tekankan, i have no a cent at all on that water sprout.

Kasus lain yang hangat banget adalah soal Mesir yang dianggap melakukan pembantaian terhadap rakyatnya sesungguhnya saya ngeri bahas ini takut dikeroyok, apalagi dianggap liberal, tapi ya biarin aja deh suka-suka orang. Seribu persen saya tidak mendukung hal itu, dan sangat berduka untuk semua korban yang jatuh. Tapi sikap saya tak semata-mata menutup mata terhadap sumber-sumber berita dari kedua belah pihak. Saya tidak mau disupplai informasi hanya dari pihak ihwanul muslimin saja misalkan, or tamrod saja. Setiap kali ada isu yang diangkat ke media massa, hal yang pertama saya lakukan adalah, berusaha tak memihak, supaya logika dan hati saya terlatih untuk berpikir. Saya tak serta merta ikut mencibir, kalau teman-teman mencibir. Apalagi kalau saya harus memenuhi status fesbuk atau twitter dengan kata-kata yang ah tak sekalipun saya ingin anak saya dengarkan. Dan yang paling saya sayangkan adalah kemudahan orang-orang di sekitar saya terutama yang memenuhi newsfeed atau timeline dengan gambar-gambar korban penuh darah akibat bentrokan itu dan.. Ahhh..Saya tidak bilang IM salah atau benar, absolutely big No, No.. My heart lies with the sorrow of entire victims. Maksud saya disini adalah, sebelum kita memihak, berkoar a, b , c, d sudahkah kita membaca, mencari informasi dengan seksama, mendengar dari kedua belah pihak, berpikir logis tanpa memutuskan keberpihakan tanpa memiliki ilmu atau pengetahuan tentang itu?

Mengutip perkataan teman di salah satu timeline, akan saya katakan yang benar itu benar, dan salah itu salah, kendati dia satu suku, agama ras, atau golongan. Tapi, darimana kalau saya tahu itu benar dan salah? Sejujurnya saya akan bilang saya tidak tahu.. Tapi saya berusaha mencari tahu, saya berusaha belajar tidak dengan satu sumber, tidak dengan berpikir yang saya yakini benar memang benar adanya, tapi dengan logika dan hati yang disinkronkan.

Here, let me take you to a simple example….

Pernah dengar kan cerita bagaimana orang buta mendeskripsikan seekor gajah? Tanpa bermaksud mendiskreditkan kemampuan orang buta melihat. Orang buta A hanya memegang belalai gajah maka selamanya dia akan berpendapat gajah itu panjang. Orang buta B hanya memegang paha gajah, maka selamanya dia akan berpendapat gajah itu besar, tanpa tahu bagaimana hidung si gajah. Orang buta C hanya memegang gading gajah, maka selamanya dia akan berpendapat, gajah itu keras, tak berdaging.Tapi kalau kita melihat gajah secara keseluruhan, kita sadari gajah punya segalanya yang dideskripsikan orang buta A, B, atau C.

Jadi, itu oleh-oleh saya di 19 Agustus kali ini. Ages make you wiser and mature indeed.

So, let’s be wise, let’s use our logic, free our side, and let our heart consider…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s