Suara Pagi

Tadi pagi, saya tetiba teringat blog saya dan entah kenapa hati saya berujar, saya harus menulis lagi di blog yang mungkin hampir karatan ini. Mungkin pula karena saya haus menulis, hal yang sepertinya sudah lama saya tinggalkan.

Sesuai judul, saya mau cerita tentang bagaimana saya mencintai suara pagi (tapi hal ini tidak serta merta mengukuhkan saya sebagai orang yang suka bangun pagi loh). Empat tahun di Jepang, dan kelamaan mengurus segala seusatu sendiri memaksa saya untuk bangun pagi, dan beraktivitas. Sebelum keluar rumah melakukan aktivitas itu adalah saat-saat tersibuk, yang saya rasa Ibu-Ibu dimanapun sangat memahami kalimat saya itu.  Tapi, begitu suami berangkat ke lab/kampusnya, anak sudah didrop di sekolah/daycare tibalah saat sendiri buat saya menyusuri jalan dengan sepeda yang menurut saya momen terbaik di pagi hari. Enaknya tinggal di Tsukuba (entah kota lain di Jepang ya, apalagi Tokyo yang terlalu padat menurut saya sampai kurang oksigen buat nafas, sekali lagi menurut saya), karena daerah ini merupakan daerah pemekaran, desain tata kotanya menurut saya unik. Pedestrian dibuat cukup banyak dan besar, sisi kanan kiri biasanya masih bisa ditemui semi-hutan dan perkebunan. Bahkan di salah satu apartemen yang dulu pernah kami tinggali, terdapat satu jalan taman yang menghubungkan stasiun dengan bagian utara dan selatan kota sepanjang 5 km. Namanya saya jalan taman, otomatis sepanjang jalan itu banyak sekali pepohononan rindang yang tumbuh, macam Sakura. Wah kalau sudah musim semi, saat-saat melintasi jalan taman ini begitu romantis, karena di bawah sakura yang berterbangan, angin musim semi yang bersahabat rasanya itu seperti…ah tak terbayarkan deh. Ditambah lagi kadang jalan taman ini dibuat naik turun seperti bukit (karena kontur jembatan yang menyebrangi jalan), jadi kadang-kadang yah agak berkeringat sehat tapi capek gitu lah. Hehe. Moment terbaik melintasi jalan ini adalah saat kontur jalan turun, saya akan berdiri di atas pedal sepeda sambil merasakan angin musim semi yang menggugurkan sakura. Dijamin, walaupun seharian tadi kerja lab bikin bete, hasil nggak jelas, seketika semangat kembali di recharge.

pemandangan dari jendela dapur

pemandangan dari jendela dapur

photo 2

a moment of cloud at the office

photo 3

musim gugur

Itu satu sisi Tsukuba yang ramah, tentu ada sisi lain yang tidak ramah, macam mobil seliweran dengan kencang bikin deg-degan.Kadang kalau musim panas enggak banget untuk bersepeda karena panasnya aduhai, spf 50 UV protector pun rasanya tembus kulit. Tapi hari ini yang sebenarnya masih dalam rangka musim panas, cuaca lumayan bersahabat. Oh ya, kami sudah pindah rumah, dan saya sudah pindah kantor dan sayonara pun sudah terucap pada si jalan taman kenangan itu. Rute baru saya kali ini lumayan agak jauh, masih sekitar 3-4 km sih tapi daerah yang saya lewati agak gersang. Tapi setiap kali saya berusaha mencari nilai positif dari apa yang saya alami, semua menjadi lebih indah. Rute saya kali ini menyempatkan saya menikmati semak-semak, padang ilalang, kebun terong, kebun labu yang sedang berbuah indah. Harumnya pun berbeda sekali dibandingkan saat saya melintasi daerah pemukiman. Sambil mendengarkan `Human`nya Cristina Ricci, kembali saya menikmati momen-momen indah di pagi hari sepeti saat melintasi jalan taman yang dulu. Ada perasaan yang menyejukkan yang tidak akan tergantikan walaupun saat itu kita melintasi dengan mobil semewah apapun.

Nature brings some soul in you, and by that you will feel God is real and He is close.

Have a blast friday.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s