Tentang sebuah konsep

Beberapa hari terakhir ini beredar berita di sosial media tentang protes seorang kakak kepada Ibu Guru adiknya. Protes itu disebabkan oleh nilai PR matermatika sang adik yang saat itu sedang belajar konsep perkalian. Sang kakak protes karena si Ibu Guru menyalahkan jawaban perkalian yang sebenarnya memberikan hasil yang sama, selengkapnya mungkin bisa dilihat di sini . Namanya juga era sosial media, berbagai reaksi pun bermunculan, dari yang mendukung protes sang kakak di lembar PR si adik kepada Ibu Guru dengan asumsi perkalian 4 x 6 dengan 6 x4 akan menghasilkan bilangan yang sama yakni 24, Sementara, tak sedikit juga yang mendukung sang Ibu Guru dengan asumi bukan hasilnya yang dipedulikan, tapi proses dan konsepnya, makna 4 x6 itu tidak sama dengan 6 x 4.. Sejujurnya saya pun masih agak bingung sih menilainya. Belakangan teman saya yang notabene punya anak SD di Bogor pun ikut bilang, si Ibu Guru tidak salah karena kalau lihat di buku ya memang begitu ketentuannya. Dan tentu saja berbagai komen miring yang m bilang protes si kakak merupakan pencemaran nama baik terhadap Ibu Guru… (ehm, aduh keselek).

 

Saya pribadi tadinya sih berpendapat ah ini mah hal biasa cuma media aja seneng blow up, mungkin kurang berita, atau biar seru aja gitu. Saya malah agak salut ke protes si kakak, (yang tadinya saya pikir masih SD or SMP, ternyata mahasiswa jurusan Teknik apa gt saya lupa) ke si Ibu Guru. Justru buat saya hal lain yang menarik dari fenomena itu adalah keberanian dan kepedulian si kakak terhadap sistem penilaian si Ibu Guru terhadap adiknya. Saya punya sekelompok teman dekat yang beberapa di antaranya sudah memiliki putra/putri yang duduk di sekolah dasar. Karena kami cukup dekat, kerap kali kalau ada PR anak-anaknya, teman-teman saya ini sering sekali tanya melalui whats ap, ttg jawaban yang menurut kami benar untuk PR anak-anak mereka. Salah satu contohnya, kapan itu teman saya bilang, ada PR bahasa Indonesia kelas satu SD, yang soalnya berbunyi`Sesuatu tentang diri kita disebut…` Kami pun bergantian kasih jawaban, sambil ngomel itu pertanyaan absurd banget. Jawaban mulai dari jati diri, sifat, karakter semua digelontorkan. Beberapa hari pun terlewati kami, teman saya bilang jawaban yang tepat dari sang guru adalah ciri khas….(oh yeah you tell me). Kapan lagi teman yang lain bertanya, keponakannya dapat PR tentang budi pekerti. Pertanyaannya ; `Apabila adikmu memintamu menemaninya bermain, walaupun kamu sedang tidak ingin bermain kamu akan……` Dan lagi jawaban yang keluar pun mulai dr bilang ya, bilang tidak mau, bilang sibuk, bilang a b c d, sampai teman saya pun berkata jawaban yang benar adalah harus menemani adik bermain..(Jeng Jeng). Saya pun bersungut, kenapa harus menemani adiknya bermain padahal dia sedang tidak mood bermain, bukankah sang kakak punya hak mengutarakan yang dia inginkan/ tidak? Mengapa jawaban penolakan disalahkan padahal menurut saya justru melalui pertanyaan itu kita bisa mengajarkan anak, bagaimana menerima penolakan, bagaimana menolak secara baik, bagaimana menghargai pendapat dan kemauan orang lain, dan berabagai mengapa-mengapa lainnya. Tetapi, ketika saya tanya apakah orang tua keponakannya protes? Teman saya menjawab, tidak justru sang orang tua mendisain agar jawaban si anak benar, bukan lagi memperdulikan perasaaan sebenarnya. Intinya sang orang tua pun terima jadi. Teman saya yang lain malah jujur mengakui bahwa dia kebanyakan pasif saat rapat guru dan orang tua murid, padahal dia bete setengah mati dengan kurikulum 2013 yang baru ini.

Jadi alih-alih mikirin siapa yang benar, sang Ibu Guru atau si Kakak, respon pertama saya justru bilang bagus nih si kakak berani ngomong dan perduli. Di postingan lain, malah ada yang berkomentar, mangkanya kerjain PR sendiri jangan suruh kakaknya yang kerjain, saya pun sempat tersenyum miris, Kepedulian terhadap anggota keluarga kok dinyinyiri, apa memang tugas kita di sosial media itu cuma untuk nyinyir? (termasuk tindakan saya ini nyinyir..:))

 

Nah kembali ke isu awal soal matematika tadi, hari ini kebetulan saya punya cerita yang hampir senada seirama dengan kasus tersebut. Sore tadi anak saya cerita, testnya di sekolah jelek, kebetulan tentang berhitung, dan sub bagian JAM. Katanya dia dapat nilai 20 dari 50, saya pun tersenyum, kenapa kok begitu? Lalu dengan sedikit bete dia meminta saya melihat hasil tesnya sendiri. Dan ternyata jawaban anak saya sama sekali tidak salah. Jadi anak saya yang kebetulan masuk sekolah di SD pemerintah di Tsukuba ini, sedang di tes untuk bisa menggambarkan kondisi jam. Dari 5 soal, hanya dua yang dia jawab tepat, dua, karena keduanya mencerminkan jam dalam tulisan, sementara soal yang dijawab salah adalah saat dia harus menggambarkan seperti apakah kondisi jam 2 , jam 7 dan jam 10.30 dari tulisan. Tugas anak saya sederhana hanya menggambarkan letak jarum panjang di angka 12 dan angka 6, tapi …`HANYA KARENA GARIS YANG DIBUAT KURANG PANJANG`, sang Ibu Guru pun menyalahkan anak saya. Di lain PR yang subjeknya adalah bahas Jepang, anak saya harus menulis dalam huruf Jepang yakni Hiragana dan Kanji dasar. Lucunya, saya sampai tidak bisa melihat kesalahan yang dibuat anak saya karena hasil koreksi Ibu Guru dengan tulisan anak saya hampir nyaris tidak berbeda, hanya sedikit lengkung dan sedikit kurang panjang. Tapi, saya pahami, mungkin untuk urusan huruf Jepang ini akan berakibat pada kemampuan si anak di kemudian hari mengenali Kanji yang beda satu -dua garis saja artinya jauh berbeda.   Continue reading

Sesaat setelah PhD….

Sebenarnya, judul di atas agak kurang relevan dengan postingan saya karena jelas-jelas kurun waktu 1.5 tahun tidak lagi bisa dianggap sesaat. Walaupun harus diakui, makna sesaat itu bisa relatifkan, ya iya 1,5 tahun dibandingkan dengan satu abad lah sesaatlah itu jadinya. Namun, setelah selesai dapet gelar pi-ec-dih…(honestly, agak berat sekali nulisnya seberat tanggung jawab yang diberikan di gelar itu), saya memang pengen menulis tentang apa yang saya alami, karena sebgaian besar fase hidup yang saya lalui kebanyakan saya tulis. Syukur-syukur kalo dibaca orang lain,kalo menginspirasi apalagih,  tapi kadang untuk dibaca sendiri saja di tahun-tahun kedepan pun saya bisa senyum-senyum sendiri sambil mikir….wow, i had that kind of a feeling and thought those days..

 

So here we go…

First and foremost, there is nothing soo soo special about having your PhD (walaupun saya tahu PhD is not for everybody) bahkan banyak orang yg nyinyir sering bilang gak perlu lah sekolah tinggi-tinggi, apalagi di luar negeri, nanti balik-balik juga ke Indonesia hilang semua  idealisme (edisi penyinyir perantau). Others will say : masak udah PhD ilmu begituan kagak tahu (edisi AlbertEeinstein, dengan PhD you should know anything, really people?). Edisi inovator lain lagi : buat apa punya PhD kalau ilmunya gak kepake dan bisa diaplikasikan lagi ke masyarakat, Indonesia udah kebanyakan doktor, tapi tetep gak maju-maju, kita butuh inovasi, inovasi dan inovasi dari berbagai disiplin ilmu, bukan lagi menara gading yang maunya di lab melulu.(hakjleb-hakjleb-hakjleb…I got stabbed on my chest for this kind of nyinyir that made me so nervous about my future career), atau ini nih edisi nyinyir favorit saya versi emak-emak pi-ec-dih: ” percuma pi-ec-dih, tapi nyerahin pendidikan anak sama pembantu, anak ditinggal kejar karir, bla bla bla bla” (yassalam, langsung delete comment nih yang beginian) …

PhD atau doktoral atau S3 atau apalah itu, setahu saya adalah jenjang formal pendidikan terakhir yang bisa ditempuh seseorang. Ibaratnya, kalo dalam perjalanan dan kita naik bis, ya PhD adalah tempat pengisian bahan bakar terakhir sebelum sampe ke tujuan. Lah, tujuannya apa dong? ya itu mah tergantung tujuan hidup anda, bisa karir, bisa keluarga, bisa uang, bisa fame, atau bisa kematian. Yang jelas PhD bukanlah tujuan hidup, dia hanyalah tempat formal terakhir mensupport mesin anda supaya bisa terus berjalan dalam mengarungi perjalanan hidup anda. Jadi jaman-jaman saya masih sarjana lugu-lugu gak ngerti apa-apa gitu, apalagi kalau habis diskusi sama pembimbing akademis (PA) dan si PA bilang gak tau, saya pasti kesel. Gimana sih kok PA kagak tau alur penelitian saya, dia kan pi-ec-dih…doktor…masa ngerjain penelitian yang dikasih ke saya nggak tau. sekarang saya jadi ngerti si PA gak bakalan ngerjain penelitian ini kalo udah tahu. Namanya juga research..re-and search…So please buat penyinyir tipe Albert Einstein , ketahuilah..semakin seseorang mendalami ilmunya, maka hal-hal yang dia ketahui akan makin terbatas pada yg menjadi subjek penelitiannya. Tapi jangan salah, kerangka berpikirnya akan menjadi lebih luas ketimbang orang-orang yang berpikir tepiannya saja. Jangan anggap pi-ec-dih tahu segala, wong saat ngerjain thesis ndilalah bacaan favoritnya ya yang sesuai tema penelitian, bukan apa-apa biar cepet kelar (kalau hobi mah jangan ditanya ya, macam novel mah pasti masih kebaca). jadi kalau situ tanya hal yang sini enggak pernah kerjain, biar kata nyerempet-nyerempet, mohon maap, pi-ec-dih ini akan bilang maaf saya nggak tau (honesty never fail people, remember that).

Here is my after PhD stories Continue reading