Sesaat setelah PhD….

Sebenarnya, judul di atas agak kurang relevan dengan postingan saya karena jelas-jelas kurun waktu 1.5 tahun tidak lagi bisa dianggap sesaat. Walaupun harus diakui, makna sesaat itu bisa relatifkan, ya iya 1,5 tahun dibandingkan dengan satu abad lah sesaatlah itu jadinya. Namun, setelah selesai dapet gelar pi-ec-dih…(honestly, agak berat sekali nulisnya seberat tanggung jawab yang diberikan di gelar itu), saya memang pengen menulis tentang apa yang saya alami, karena sebgaian besar fase hidup yang saya lalui kebanyakan saya tulis. Syukur-syukur kalo dibaca orang lain,kalo menginspirasi apalagih,  tapi kadang untuk dibaca sendiri saja di tahun-tahun kedepan pun saya bisa senyum-senyum sendiri sambil mikir….wow, i had that kind of a feeling and thought those days..

 

So here we go…

First and foremost, there is nothing soo soo special about having your PhD (walaupun saya tahu PhD is not for everybody) bahkan banyak orang yg nyinyir sering bilang gak perlu lah sekolah tinggi-tinggi, apalagi di luar negeri, nanti balik-balik juga ke Indonesia hilang semua  idealisme (edisi penyinyir perantau). Others will say : masak udah PhD ilmu begituan kagak tahu (edisi AlbertEeinstein, dengan PhD you should know anything, really people?). Edisi inovator lain lagi : buat apa punya PhD kalau ilmunya gak kepake dan bisa diaplikasikan lagi ke masyarakat, Indonesia udah kebanyakan doktor, tapi tetep gak maju-maju, kita butuh inovasi, inovasi dan inovasi dari berbagai disiplin ilmu, bukan lagi menara gading yang maunya di lab melulu.(hakjleb-hakjleb-hakjleb…I got stabbed on my chest for this kind of nyinyir that made me so nervous about my future career), atau ini nih edisi nyinyir favorit saya versi emak-emak pi-ec-dih: ” percuma pi-ec-dih, tapi nyerahin pendidikan anak sama pembantu, anak ditinggal kejar karir, bla bla bla bla” (yassalam, langsung delete comment nih yang beginian) …

PhD atau doktoral atau S3 atau apalah itu, setahu saya adalah jenjang formal pendidikan terakhir yang bisa ditempuh seseorang. Ibaratnya, kalo dalam perjalanan dan kita naik bis, ya PhD adalah tempat pengisian bahan bakar terakhir sebelum sampe ke tujuan. Lah, tujuannya apa dong? ya itu mah tergantung tujuan hidup anda, bisa karir, bisa keluarga, bisa uang, bisa fame, atau bisa kematian. Yang jelas PhD bukanlah tujuan hidup, dia hanyalah tempat formal terakhir mensupport mesin anda supaya bisa terus berjalan dalam mengarungi perjalanan hidup anda. Jadi jaman-jaman saya masih sarjana lugu-lugu gak ngerti apa-apa gitu, apalagi kalau habis diskusi sama pembimbing akademis (PA) dan si PA bilang gak tau, saya pasti kesel. Gimana sih kok PA kagak tau alur penelitian saya, dia kan pi-ec-dih…doktor…masa ngerjain penelitian yang dikasih ke saya nggak tau. sekarang saya jadi ngerti si PA gak bakalan ngerjain penelitian ini kalo udah tahu. Namanya juga research..re-and search…So please buat penyinyir tipe Albert Einstein , ketahuilah..semakin seseorang mendalami ilmunya, maka hal-hal yang dia ketahui akan makin terbatas pada yg menjadi subjek penelitiannya. Tapi jangan salah, kerangka berpikirnya akan menjadi lebih luas ketimbang orang-orang yang berpikir tepiannya saja. Jangan anggap pi-ec-dih tahu segala, wong saat ngerjain thesis ndilalah bacaan favoritnya ya yang sesuai tema penelitian, bukan apa-apa biar cepet kelar (kalau hobi mah jangan ditanya ya, macam novel mah pasti masih kebaca). jadi kalau situ tanya hal yang sini enggak pernah kerjain, biar kata nyerempet-nyerempet, mohon maap, pi-ec-dih ini akan bilang maaf saya nggak tau (honesty never fail people, remember that).

Here is my after PhD stories

Nah, kembali ke ide awal tulisan saya, at least reminder buat diri saya sendiri, kalo-kalo saya lupa di kemudian hari, saya mau bertutur tentang bagaimana sesaat setelah PhD. Mungkin cerita macam saya ini banyak miripnya sama perantau-perantau yang lain, jadi enggak istimewa-istimewa amat…(saya juga enggak pinter-pinter amat, lulus PhD aja alhamdulilah, pake tepat waktu juga sujud syukur). Tapi kalo bermanfaat buat yang muda-muda (haish yang muda yang bergaya), Insha Alloh saya senang dunia akhirat. Perlu diketahui, saya sekolah doktoral atas biaya sendiri, jadi tidak ada keterikatan dengan beasiswa manapun, entah pemerintah Jepang apalagi pemerintah Indonesia, so I am free as a bird to fly. Walaupun, sedikit banyak saya tidak bisa pungkiri dana pemerintah Jepang yang digelontorkan pada kantor saya selama PhD (NIMS yang merekrut saya sebagai junior researcher sehingga saya bisa menyisihkan gaji tidak hanya buat zakat, infaq dan shodaqoh tapi juga buat S3. It helps me a lot to get me through my dreams. Kebetulan lagi saat tahun terakhir saya pi-ec-dih, suami baru saja masuk program master, sehingga kami sekeluarga harus tetap di Jepang hingga program doktoral suami saya kelar (please don’t ask me for how many years again?). Suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus di Jepang, its a family deal between us. Sejujurnya, balik ke Indonesia pun saya belum jelas juga mau apa, karena masih pengangguran (thanks to LIPI that already rejected me twice, back then before my PhD started, enough is enough my friend). Saya juga belum ada niatan (at least sampai sekarang) untuk ikutan yang namanya jadi PNS, thanks but no thanks. Akhirnya, mengikuti kaidah umum yang berlaku setelah mendapatkan gelar pi-ec-dih, maka berusahalah saya masuk jenjang persiapan karir akademia atau institusi riset yakni : post doctoral. Untuk anda-anda yang belum aware sama status ini (yah agak beda tipis lah dengan status galau kalau di dunia abege jaman sekarang), post doctoral di negara-negara yang memiliki riset maju biasanya di desain untuk mempersiapkan para peneliti maupun akademisi sebelum mereka beneran jadi peneliti atau dosen misalnya. Biasanya postdoc ini diberi kesempatan mendisain proposal dan  penelitiannya sendiri, mengatur arah penelitian, bahkan ada beberapa postdoc yang memberikan ruang hingga mengatur budget penelitian. Harapannya : mereka yang sudah melewati postdoc bisa lebih matang dan siap berada di posisi peneliti maupun akademisi. Sesuai namanya ya, postdoc harus punya ijazah doktoral (kendati dari segelintir yang saya apply, di Tsukuba dan Tokyo cuma satu-dua kantor saja yang minta kopi ijasah doktoral). Sistemnya sih peneliti kontrak lah, tentu fasilitasnya juga berbeda dengan peneliti tetap. Berbeda dengan PhD, postdoc tak menyediakan gelar (capek kali ngejar gelar mulu), dan tidak memungut biaya (yang ada kita digaji, yah lumayan lah daripada lumanyun).

 

Singkat cerita, di bulan-bulan terakir menjelang kelulusan, saya mulai melebarkan sayap saya dengan mengirimkan lamaran postdoc ..iyah lamaran kayak orang kerja gitu. Supervisor PhD saya sebenarnya sudah wanti-wanti, katanya saya telat sekali hingga tiga bulan menjelang kelulusan belum dapat posisi postdoc (well, in Jepang you should know at least what would you do for the next three months from now). Tapi sejujurnya saya masih bingung saat itu karena masih menanti jawaban apakah paper saya di terima atau tidak, jadi yah semua serba mendadak. Lamaran pun dikirim, entah berapa puluh, karena terbatas harus tinggal bersama keluarga saya pun memilih lowongan postdoc yang ada di Tsukuba dan Tokyo (entah kenapa memilih Tokyo, yang jelas sudah hopeless dengan segala penolakan dari berbagai institusi penelitian di Tsukuba, yang katanya science citynya jepang). Sekadar tips kali-kali ada rekan di Jepang yang sedang mencari postdoc bisa ditengok ke sini, (my suggestion, use japanese version instead of english, dont worry you have google translate everywhere don’t you?), atau yang ini kalau mau cari postdoc di Tsukuba. Lalu dari sekian pulah surat lamaran yang dikirim berapa puluh yang merespon? Proudly said, almost 90 % of them response, ……with rejection letter..(:D). Hingga saya berada pada suatu titik yang membuahkan pikiran, am I that silly? Belum puas dengan penolakan itu, saya dapat lagi penolakan dari program Japanese Sociaty for Promotion Science Postdoctoral Fellow ( mungkin kalau yang di luar Jepang bisa juga coba ini untuk program postdocnya).

 

Tapi tidak semuanya berbuah negatif, akhirnya ada juga satu grup penelitian di Tsukuba yang merespon positif memanggil saya untuk interview dan disandingkan dengan seorang kandidat lainnya (terharu..:D), hasilnya? …jreng-jreng…saya pun tidak dipilih…(another 😀 :D)…Jangan ditanya, saya pun sempat down, merasa apakah tiga tahun yang sudah saya lalui sebegitu sia-sia hingga hampir 6 bulan lebih saya jadi pengangguran di negeri orang  (tapi maaf ada status yang tidak lepas, dengan bangga akan saya bilang saya juga seorang Ibu; camkan ini penyinyir wanita karir, camkan!!!!) bingung tak tentu arah. Belum lagi kami mendapat tagihan pajak yang sangat besar karena di tahun sebelumnya saya memiliki penghasilan yang cukup signifikan. They do not really care that I am jobless at that time. The only thing matter is  get the job and pay the taxes. Lalu?

A proverb once saying, sometimes you need to get two steps back to reach three step forwards. Dan sejujurnya itu pun terjadi buat saya. Dengan segala kerendahan hati, saya berusaha men-downgrade-kan value saya. Saat itu, tidak hanya postdoc yang saya incar, tapi juga researcher assistant. Mulailah saya hunting lagi pekerjaan yang notabene bisa dikerjakan oleh anak sarjana itu demi kelangsungan hidup keluarga kami. Disamping itu saya juga mulai serius belajar bahasa Jepang, tolong saya jangan dihakimi dengan berapa tahun tinggal di Jepang tapi tidak bisa bahasa Jepang? You dont know how its like to have a family and a PhD in some non english country..Dan..alhamdulilah, akhirnya saya diterima sebagai asisten di Tsukuba University. Walaupun harus saya katakan, lab yang menerima saya ini jauh sekali dari bidang ilmu yang saya miliki. Tentu ada skill yang membuat boss saya tertarik menyewa saya (except for the fact she said; its kind of bit difficult to find technician in Tsukuba…its a chance for you Tsukubian ),  tetap saya merasa I do not belong here. Tapi, mengutip kata Dan Ariely, a fail life is unexamined one, maka tidak mungkin saya melewati hal-hal yang bisa saya pelajari di Lab yang baru ini. Kebetulan bos saya perempuan , beliau punya dua orang teknisi lain yang juga perempuan, dan seorang teknisi yang juga seorang peneliti di grup penelitian lain (please do not ask me the detail). Happy to say that they are Japanese that only speak Japanese, and no foreigner there except… me..:). Hal ini berkebalikan dengan lab saya sebelumnya yang notabene semua mahasiswanya foreigner dan bos-bosnya Jepang and we use english for our daily basis. Well, you can guess, not only learning to improve my LC MS-MS skill (please dont ask me what it is,its not so important though), I also learned to communicate in Japanese on daily conversation..(lap keringet di dahi). Susah? Iya pake banget… tapi bisa? alhamdulilah..bisa tergagap-gagap. Jadi, anda bisa bayangkan betapa merasa terasingnya saya, di lingkungan yang baru, dengan tema penelitian yang baru dan bukan gue banget tapi ya bolehlah…ditambah lagi dengan bahasa baru…So what do they make me be? A learner…a never ending learner..saya belajar berusaha “pera-pera” (jago) di bahasa Jepang, dan juga saya dapat role model baru in which Ibu Bos yang mengencourage saya untuk dapat posisi postdoc. Supaya anda tahu, memiliki posisi tinggi seperti sensei dan peneliti di Jepang itu tidak mudah, apalagi kalau anda wanita. Ibu Bos ini termasuk 2 dari 60 staf yang ada di fakultas Life and Environmental Science yang berkelamin wanita. Selama 7 bulan bersama ibu bos, tentu saya dapat pengalaman berharga soal encouragement. Alhamdulilah juga, les Jepang yang tadinya dilakukan agak-agak setengah hati itu mulai menebarkan hasil di pekerjaan pertama saya pasca pi-ec-dih.

Finally, awal musim semi tahun ini, saya pun diberi kesempatan memasuki dunia postdoc. Sebuah grup penelitian yang bekerja di bidang pengembangan vaksin (yang ini cita-cita banget), bersedia menempatkan saya sebagai postdocnya. Up to now there is not much that I can tell except try again and again and again, until you get it. Do every single effort that you consider need to be done. And appreciate every single step that you should pass on. Dulu waktu saya masih pi-ec-dih student, saya sering ke lab sabtu minggu, sambil bertanya-tanya, is it worth it? Now, I am positively saying it all worth it. Your hardwork, your  stay up late at night, your rejection letter from your paper reviewer, your bills, your language class. Speaking of that language class, I should let you know that in my institute now, we only have 3 foreigners  among nearly 60-70 staffs, and I am the only one in my group, all of the people talk in Japanese including in our journal club and progress report meeting, and they talk all of research language in Japanese  (well..well..well…they said sho ga nai..nothing else that I can do, take it or leave it). Saya percaya, semua yang telah saya lalui membentuk saya hingga saya di posisi ini. Is this the end?Is this my success? Nope dude, far more to go. Saya tidak bisa bicara banya tentang postdoc saya karena baru satu semester terlalui. Yang jelas, saya belajar dunia baru yang saya sukai. Saya belajar lagi tentang melakukan research yang baik dan benar, metodologi berpikir yang terarah, kesabaran tiada batas (sambil nelongso melihat kalender tunggu samplingratusan tikus saya  berbulan-bulan lamanya), dan masih banyak lagi. Just for an information; grup penelitian kami saat ini berusaha mengembangkan vaksin untuk penyakit tuberkulosis (TBC) dari virus. Penelitian si virus ini sendiri sudah memakan waktu 10 tahun lebih. Jadi untuk para penyinyir inovasi, we knew that our research is worthless without any implamantation key point. But somehow nature is not always move as rapid as the earth rotation.

Last but not least…Education is what people do to you, and learning is what you do to yourself..—Joi Ito—-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s