We need to do our things, not get our things done

Ceritanya saya lagi jenuh dengan data-data kerjaan kantor dan anemia yang tak berkesudahan ini meminta saya istirahat sejenak dari semua itu. Maka jadilah saya nulis lagi di halaman blog yang usang ini. Itung-itung bikin memori menjelang tahun terakhir di Tsukuba dengan cerita-cerita yang yah gini dan gitu deh.

Karena penat, saya mau cerita yang ringan saja soal orang tua dan kontribusinya terhadap pendidikan anak di Tsukuba tentunya berdasarkan apa yang saya alami. Kebetulan anak saya ikut klub bola di sekolahnya, dan sesuai aturan setiap tingkat harus ada orang tua yang menjadi koordinator untuk klub bola . April depan anak saya masuk kelas 3, singkat cerita saya diminta jadi koordinator ortu untuk klub bola kelas 3 (tolong jangan dianggap prestasi anggap aja yah gak ada orang lagi hehe). Nah, sabtu kemarin, para orang tua yang menjadi koordinator kelas ini berkumpul, ngadain rapat tahunan gitulah, bikin Laporan pertanggung jawaban kayaknya, dan sekalian harus menjelaskan tugas-tugas pada koordinator baru yang akan mulai April depan. (Bisa dibayangkan ya, saya baru akan menjabat April depan tapi sudah diajak rapat dari Februari , ini emang Nippon style banget deh).

Waktu berangkat ke tempat rapat, saya sempat bersungut-sungut dalam hati, ya ampun ini para orang tua, tak tahukah mereka ini teh hari libur, enakan juga di rumah, leha-leha (baca ; urus laundry, belanja mingguan, dan tidur siang kalo bisa). Rajin amat sih harus rapat jam 9.30 pagi (percayalah ini musim dingin, yang akan sangat nikmat untuk bangun siang, stay under duvet, atau cuddling with kiddos). Begitu sampai di tempat rapat, saya  terkejut karena ternyata para koordinator bola  untuk tahun ini udah rapat duluan , yang entah dimulai rapat dari jam berapa, kayakya sih jauh lebih pagi dari 9.30. Mereka datang dan rapat lengkap kayak rapat di kantor, bawa laptop, tablet, dll dengan berbagai dokumen. Padahal ini cuma klub bola yang notabene ekstrakulikuler sama sekali nggak menyangkut pendidikan formal anak-anak di sekolah anak saya. Giliran kami-kami para pengurus tahun depan masuk, kami cuma dibriefing oleh pengurus tahun ini  tentang tugas-tugas yang harus kami lakukan selama setahun kedepan. Oh saya lupa menyebutkan, jangan harap rapat dengan bahasa Indonesia ya, bahasa Inggris aja boro-boro ada (ya gak mungkin juga sik karena saya satu-satunya orang asing di kumpulan orang tua itu). Jadilah saya terbata-bata mengikuti apa yang mereka katakan dalam bahasa Jepang, rasanya..yah maknyus lah ngerti di awal, sedikit di tengah, paham di akhir (ini rumus saya memahami bahasa Jepang, hihi). Tapi alhamdlulilah saya dapet briefing dari ortu kelas 3 yang pernah tinggal di Amerika jadi semua dokumen yang dia serahkan ke saya berbahasa Inggris (sasuga, prok prok prok, jangan salah sulit loh dapetin dokuen berbahasa Inggris dari kumpulan orang Jepang). Tentunya si Mr X tetep bicara dengan bahasa Jepang yag was wis wus dan saya cuma ooo, haai, naruhodo, wakarimashita. Tapi harus saya akui dokumen yang dia terjemahkan dari bahasa Jepang itu sudah memuat segala informasi yang dibutuhkan. Dan tahukah anda, saya duduk di rapat itu hanya 15 menit setelah itu kami diperbolehkan pulang, sementara pengurus tahun ini  tetap melanjutkan rapatnya. Demi 15 menit kami harus merelakan sabtu pagi saat libur tiba. Belum lagi siang harinya adalah jadwal latihan bola, yang kembali para orang tua harus piket, mencuci seragam, menyiapkan keperluan latihan, siap sedia kalau ada anak yang cidera, dll. Tak jarang pula di hari Minggu orang tua harus menemani sang anak ikut pertandingan, kalau sudah begitu kami harus rela menjemput anggota tim yang lain karena parkir di lapangan tempat bertanding terbatas untuk sekian mobil. Tak jarang para orang tua ini `waza-waza` membawa tenda, bench, dan keperluan lainnya lah jika ada pertandingan. Semua itu dilakukan di hari Sabtu-Minggu. Padahal tentu anda tahu kan ritme kerja orang Jepang di hari Senin-Jumat yang mungkin bisa sampai rumah jam 8-9 atau bahkan lebih larut. Oh sebagai informasi tambahan, di rapat itu disebutkan pertemuan bulanan koordinator akan diadakan, lalu akan ada general meeting, ada ini ada itu, bla bla bla. A little bit menyita waktu libur lah (baca; mendokusaiiiiii). Pernah juga senior dulu malah tergabung ikutan POMG di sekolah anaknya, dan dia sangat terkejut betapa para orang tua ini cukup ikut andil dalam urusan sekolah. Enggak usah lah ya saya sebutkan berapa kali mereka rapat dalam setahun, membuat flyer-flyer yang setiap hari hampir selalu dibawa anak saya pulang, terus in charge terhadap beragam acara sekolah sedemikian rupa (ingat tidak ada janitor atau pun penjaga sekolah di sekolah publik di Jepang). Jadi another bit of mendokusai bagi para pelaku, but did they do that? yes they did.

Saya terkejut, betapa para orang tua ini mendedikasikan waktu libur mereka demi hobi sang anak sedemikian rupa. Saya sempat bertanya pada salah satu orang tua, yang dia tahu sang anak hanya ikut klub untuk bergerak semata, supaya enggak keranjingan main game di dalem rumah, tapi sang ayah dengan suka rela menjadi koordinator seperti saya untuk tahun depan. Kalau anak saya jangan ditanya berobsesi kompulsif jadi atlet Liga Eropa (yah terserah kalo mau diaminin kalau enggak juga enggak apa-apa). Jadi waktu diminta jadi koordinator, yang demi anak yang keranjingan bola, masak saya enggak mau. Saya sempet diskusi sama suami, saya kagum sama semangat mereka ini. They do their things, not get the things done. Sama halnya dengan postingan teman di facebook tentang bagaimana anak-anak jepang dibiasakan piket menyediakan makan siang di sekolah, mulai dari ambil makanan, membagi-bagi makanan, membereskan makanan, bersihin kamar mandi, kadang menyingkirkan salju yang berserakan di jalan sekitar sekolah. Pernah saya tanyakan langsung ke anak saya, emang begitu bener di sekolah kalau waktu makan siang? Anak saya pun ringan menjawab, iyalah. We used to saw it and now we become part of it.

Saya jadi malu teringat kisah dua tahun yang lalu, saya dan beberapa teman berinisiatif mengadakan TPA untuk anak-anak kami yang muslim. Alhamdulilah, kawan-kawan yang memiliki keluangan waktu dan niat bersedia repot-repot jadi guru di TPA itu tanpa dibayar. Awalnya saya semangat dengan berbagai ide buat TPA, tapi belakangan pas diajak rapat pun saya malah enggak datang. Padahal yang untung kalau ada TPA kan anak sendiri, toh guru-gurunya bersukarela mengajarkan tanpa digaji. Kadang diminta saran pun saya diam seribu bahasa gegara dulu saat saya bersemangat minta pendapat dari para ortu yang lain hanya segelintir sekali yang ikut bersuara. Bisa dibayangkan kalau semua orang tua di klub bola anak saya juga pasif, hanya diminta manajer yang bertanggung jawab dijamin klub itu bubar dalam waktu dekat. Namun, alhamdulilah, para pengajar di TPA masih semangat sekali walopun saya sebagai orang tua ya gitu deh (maaf ya bapak ibu guru, insha alloh diperbaiki)

My bottom line, mungkin Jepang tidak berjaya seperti beberapa tahun belakangan, mungkin juga Jepang mulai redup kekurangan tenaga kerja. Tapi yang saya rasakan orang Jepang memiliki kebiasaan yang akan tetap menebarkan glory dalam hidup mereka, they do their things not get their things done, and they are proud of that. Mungkin saya ini termasuk orang tua yang merasa kewajiban saya hanyalah memasukkan anak ke sekolah, les a, b, c, d  yang mahal, lalu siap menerima keahlian anak tanpa ikut ikut campur dalam proses belajar mereka. Saya hanya ingin terima jadi anak saya pintar, sholeh, berbakat, sehat karena sudah diberi makan, disekolahkan, dileskan, masuk klub ini itu, tanpa saya tahu apa yg dimakan, apa yang diajarkan, bagaimana sistem lesnya, apa peran saya dalam setiap proses pembelajarannya? Saya jadi bertanya, jika setiap kita berkontribusi sedikit saja dari komunitas, entah itu sekolah, atau RT, RW atau profesional, akankah kita atau generasi kita berkembang menjadi generasi yang lebih baik? Dari seorang suster Jepang saya pernah dinasehati, negara kamu akan menjadi negara besar, mungkin tidak sekarang, tapi nanti saat anak kamu berada di usia produktif, karena kalian punya sumber daya manusia yang banyak, and they are priceless when they were driven to.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s