fake it till you become it

 

kalau familiar dengan judul postingan saya , tandanya mungkin anda pernah nonton video TED talknya Amy Cuddy, seorang dosen Harvard Business School, yang meneliti bagaimana mengendalikan  gerak tubuh kita dari otak . Jadi ceritanya Amy Cuddy berpendapat, dari sisi psikologis anggota Kingdom Animalia memiliki body language yg merupakan manifestasi dari apa-apa yg dipikirkan. Semisal, saat mereka gembira akan membusungkan dada lebar, saat mereka sedih akan membungkukkan tubuh, saat mereka rapuh akan mendekapkan kaki dalam pelukan sendiri. It’s a natural thing of body language. Tetapi, Amy berhipotesis melalui penelitiannya, bahwa sebaliknya otak juga bisa diprogram oleh bahasa tubuh.  Hipotesis itu berawal dari pasca kecelakaan yg diderita Amy di usia belasan yg mengakibatkan turunnya IQ secara drastis (dia ini mahasiswa pintar, and her brain is a thing that she really proud of). Hingga hampir semua orang menyarankan dia untuk DO dari sekolah . But she just can’t reap her dream away. Sampai akhirnya dia diterima di Princeton, dan tetap dia merasa paling bodoh sekelas. Hingga suatu hari dia hampir putus asa dan sudah bilang mau keluar dari kuliah saja. Tapi supervisornya punya keyakinan berbeda, dan menyemangati Amy supaya tetap melanjutkan kuliah. Sang supervisor pun bilang, “You are supposed to be here, tomorrow you will talk in front of the class, and pretend that you know any details about the topic they were discussing about. Just fake it, fake it till you make it”. Yet, after years and years passing by through up and down of course, Amy got her goals.

Berbekal cerita itu, saya mau berbagi pengalaman, yang menurut saya slogan dosennya Amy (and Amy revised it to Fake it till you become it, apa bedanya nonton aja TED talknya seru kok).. I feel what they are cheering about. Jadi begini ceritanya,

Bagi anda yg baru datang ke Jepang dengan pengetahuan bahas Jepang 0, tenang saja I’ve been there, done that and I was happy by that (at that time :D). Saya tahu rasanya bagaimana desparate tiap baca email kanji semua, saya tahu bagaimana kesalnya tiap terima surat gak paham ini penting apa enggak. Saya sebel setiap mau ke rumah sakit usaha ampun-ampunan supaya si suster atau dokter ngerti. Saya bahkan sempet sungkan kalau mau belanja dan tanya-tanya ke mbak or mas pramuniaganya. Apa? Ya ya saya paham. Ini negara maju kok yo ra iso boso Inggris ini piye toh? gitu kan pasti? Tapi mbak, mas, kakak, teteh, bapak, ibu, saran saya pertama ikhlaskan saja. Lah ini negara mereka kok, suka-suka mereka kalo gak mau pake bahasa Inggris. Lah wong mereka gak banyak butuh bicara Inggris. Kalau tahun pertama anda masih enggak terima itu, saya sarankan mulailah terima kenyataan yg ada dan berbahagialah dengannya. Tapi kalau ada rencana anda tinggal lebih lama di Jepang mulailah berbenah dengan kemampuan bahasa Jepang anda. Apalagi kalau ada orang lain yang mengandalkan kemampuan anada (baca ; anak, istri, or suami).  Continue reading