Sesaat setelah PhD….

Sebenarnya, judul di atas agak kurang relevan dengan postingan saya karena jelas-jelas kurun waktu 1.5 tahun tidak lagi bisa dianggap sesaat. Walaupun harus diakui, makna sesaat itu bisa relatifkan, ya iya 1,5 tahun dibandingkan dengan satu abad lah sesaatlah itu jadinya. Namun, setelah selesai dapet gelar pi-ec-dih…(honestly, agak berat sekali nulisnya seberat tanggung jawab yang diberikan di gelar itu), saya memang pengen menulis tentang apa yang saya alami, karena sebgaian besar fase hidup yang saya lalui kebanyakan saya tulis. Syukur-syukur kalo dibaca orang lain,kalo menginspirasi apalagih,  tapi kadang untuk dibaca sendiri saja di tahun-tahun kedepan pun saya bisa senyum-senyum sendiri sambil mikir….wow, i had that kind of a feeling and thought those days..

 

So here we go…

First and foremost, there is nothing soo soo special about having your PhD (walaupun saya tahu PhD is not for everybody) bahkan banyak orang yg nyinyir sering bilang gak perlu lah sekolah tinggi-tinggi, apalagi di luar negeri, nanti balik-balik juga ke Indonesia hilang semua  idealisme (edisi penyinyir perantau). Others will say : masak udah PhD ilmu begituan kagak tahu (edisi AlbertEeinstein, dengan PhD you should know anything, really people?). Edisi inovator lain lagi : buat apa punya PhD kalau ilmunya gak kepake dan bisa diaplikasikan lagi ke masyarakat, Indonesia udah kebanyakan doktor, tapi tetep gak maju-maju, kita butuh inovasi, inovasi dan inovasi dari berbagai disiplin ilmu, bukan lagi menara gading yang maunya di lab melulu.(hakjleb-hakjleb-hakjleb…I got stabbed on my chest for this kind of nyinyir that made me so nervous about my future career), atau ini nih edisi nyinyir favorit saya versi emak-emak pi-ec-dih: ” percuma pi-ec-dih, tapi nyerahin pendidikan anak sama pembantu, anak ditinggal kejar karir, bla bla bla bla” (yassalam, langsung delete comment nih yang beginian) …

PhD atau doktoral atau S3 atau apalah itu, setahu saya adalah jenjang formal pendidikan terakhir yang bisa ditempuh seseorang. Ibaratnya, kalo dalam perjalanan dan kita naik bis, ya PhD adalah tempat pengisian bahan bakar terakhir sebelum sampe ke tujuan. Lah, tujuannya apa dong? ya itu mah tergantung tujuan hidup anda, bisa karir, bisa keluarga, bisa uang, bisa fame, atau bisa kematian. Yang jelas PhD bukanlah tujuan hidup, dia hanyalah tempat formal terakhir mensupport mesin anda supaya bisa terus berjalan dalam mengarungi perjalanan hidup anda. Jadi jaman-jaman saya masih sarjana lugu-lugu gak ngerti apa-apa gitu, apalagi kalau habis diskusi sama pembimbing akademis (PA) dan si PA bilang gak tau, saya pasti kesel. Gimana sih kok PA kagak tau alur penelitian saya, dia kan pi-ec-dih…doktor…masa ngerjain penelitian yang dikasih ke saya nggak tau. sekarang saya jadi ngerti si PA gak bakalan ngerjain penelitian ini kalo udah tahu. Namanya juga research..re-and search…So please buat penyinyir tipe Albert Einstein , ketahuilah..semakin seseorang mendalami ilmunya, maka hal-hal yang dia ketahui akan makin terbatas pada yg menjadi subjek penelitiannya. Tapi jangan salah, kerangka berpikirnya akan menjadi lebih luas ketimbang orang-orang yang berpikir tepiannya saja. Jangan anggap pi-ec-dih tahu segala, wong saat ngerjain thesis ndilalah bacaan favoritnya ya yang sesuai tema penelitian, bukan apa-apa biar cepet kelar (kalau hobi mah jangan ditanya ya, macam novel mah pasti masih kebaca). jadi kalau situ tanya hal yang sini enggak pernah kerjain, biar kata nyerempet-nyerempet, mohon maap, pi-ec-dih ini akan bilang maaf saya nggak tau (honesty never fail people, remember that).

Here is my after PhD stories Continue reading

my equilibrium

akhir-akhir ini banyak sekali kejadian yang membuat saya sedih dan bete, sebete-betenya. salah dua penyebabnya nanti saya kasih tahu (insha Alloh ada pembelajarannya). kalau sudah begitu yang ingin saya lakukan cuma menumpahkan isi hati pada tulisan juga curcol pada suami, anak dan teman dekat, tentunya. karena sekarang saya dalam masa transisi (apalah ini transisi?), jauh dari hiruk-pikuk lab yang kadang saya rindukan, saya lebih banyak meluangkan waktu dengan membaca dan menulis. jadi jangan heran kalau saya mulai berkoar aneh-aneh di blog ini dan ini.

ternyata, memang betul kata Louise Pasteur, “fortune favors prepared mind“, setidaknya mengajarkan saya untuk menyiapkan segala sesuatu dengan kesungguhan, keseriusan, (kalau kata orang jepang, chanto-suru) sekecil apapun urusan itu. karena fortune atau keberuntungan lebih berpihak pada mereka yang memulainya dengan kesungguhan dan keseriusan. kalau lebih dalam lagi saya mengartikan fortune ini tidak semata-mata keberuntungan semata, jadi ada campur tangan Tuhan yang menjamah doa-doa kita.

so..what is my fortune anyway?

nah, sesuai sama judul postingan saya kali ini, my equilibrium, yang artinya kesetimbangan saya. setidaknya dalam satu bulan ini saya menghasilkan dua karya tulisan yang menunjukkan sisi kesetimbangan diri saya. tulisan pertama, saya ikut berkontribusi pada majalah 1000 guru, iya itu model majalah pembelajaran yang ditujukan bagi siapa saja dan dimana saja. sekilas, majalah 1000 guru ini terlihat sepeti jurnal-jurnal ilmiah yang memuat berbagai disiplin ilmu. ditambah lagi majalah 1000 guru sudah punya ISSN dari LIPI jadi cukup terakreditasilah. kali pertama saya baca, saya langsung pengen ikut kontribusi. bukan pengen numpang beken, apalagi minta bayaran, tapi karena ingin berbagi tentang apa yang saya tahu. tapi yah karena kesibukan (baca: kemalasan) yang membahana, barulah artikelnya yang masuk dalam rubrik kimia saya buat bulan ini. walhasil, dipublish deh..alhamdulilah, semoga ada manfaat. silahkan liat disini yaaa…

majalah1000guru-prot folding

 

 

tulisan saya yang kedua, berbalik 180 derajat dengan tulisan pertama. jadi, menyambut Ramadhan tahun ini, selfpublisher @nulisbuku membuat kontes kecil yang mengajak para penulis muda (ya ampun baca kata muda ini hati saya agak gimanaaa gitu?) buat berkontribusi bikin antalogi cerpen bertemakan kejutan sebelum Ramadhan. uniknya kontes ini bisa diikuti perseorangan, ataupun kolaborasi. @nulisbuku akan memilih 200 cerpen terbaik yang diterima untuk diterbitkan dalam antalogi  “Kejutan Terbaik Sebelum Ramadhan”. selain itu tentu ada 17 finalis unggul yang juga berujung pada cerpen terbaik. saya sih nggak pengen-pengen banget menang, lah saya cukup tahu diri nulis fiksi aja gak pernah kecuali di diari (eaa diari). tapi, saya pengen ikut karena saya pengen berbagi cerita pada dunia, tentang satu fase dalam hidup saya yang membuat saya terkejut di Ramadhan tahun 2000 silam. @nulisbuku bilang, mereka menerima 800 naskah yang harus mereka seleksi, harus pula mereka tentukan pemenangnya. dan tahukah teman, naskah saya masuk dalam 200 naskah terbaik…taraa..and another baby is being published again. mau liat cerpennya? silahkan diorder yaaa ke nulis buku di sini…cerpen saya ada di buku #4…@atetamala. oh ya saya nggak ambil profit loh, setiap pembelian buku ini akan disumbangkan untuk panti asuhan.

 

nah, hari ini saya belajar lagi tentang kesetimbangan hidup saya. adakalanya kita harus gembira, sukacita dengan gegap gempita, tapi dengan kewarasan dan kerendahan hati tentunya. dan adakalanya kita harus bersedih, menangis, menyesali tapi untuk mengingatkan diri harus ada hari yang lebih baik dari hari ini. our balancing mind, spirit and life are the compulsories to feed the needs. dan saya belajar juga, when you do it from heart with entire package of efforts, “it will shine”….with God helps…

 

so what’s next? as I said..we neet to put our step forward ….tunggu kejutan yang lainnya…:)

UnaG ; when the “green-lantern” phase is just arrived

sudah nonton film “green lantern?”? iya itu film yang diangkat dari DC komik yang ,pemerannya si ganteng Ryan Renolds, menceritakan tentang superhero *yeah its all that hollywood can do* dengan kekuatan super bisa memancarakan cahaya hijau berpendar.


(source : http://uk.playstation.com)

Sewaktu nonton, hal pertama yang terlintas dipikiran saya adalah pasti yang menulis strip green lantern ini dulunya kerja di lab biologi molekular. Mengapa? Karena buat kami pekerja biologi molekular ini biasanya suka sekali menggunakan protein berpendar berwarna hijau (green fluorescence protein; gfp) sebagai penanda. Istilah kasarnya, gfp protein ini adalah senter saat kita harus berjalan dalam gelap. Nah, dengan bantuan si gfp ini biasanya kita bisa melacak dimanakah keberadaan senyawa target kita di dalam sel, dan berbagai fungsi lainnya. Tapi, bukan itu maksud saya menulis hari ini. Pernah terbayangkah oleh anda, kalau ternyata nantinya manusia bisa menjadi super gloomy hijau seperti Hal Jordan, si pemeran utama green lantern? No, I am not kidding, then I’ll tell you the news… Continue reading

dan nyamuk pun bernyanyi

picture was taken from http://www.google.com/imgres?q=treehopper+membracidae&um=1&hl=en&client=firefox-a&sa=N&rls=org.mozilla:en-US:official&biw=1024&bih=578&tbm=isch&tbnid=Z4ZX_-6NeMinPM:&imgrefurl=http://rhamphotheca.tumblr.com/page/26&docid=p95LnNRNK5gSlM&w=500&h=345&ei=xU9JTrsd4-uYBa3anPMG&zoom=1&iact=hc&vpx=265&vpy=158&dur=372&hovh=128&hovw=171&tx=137&ty=101&page=12&tbnh=128&tbnw=171&start=161&ndsp=15&ved=1t:429,r:1,s:161

(gambar diambil dari sini )

Pernah dengar nyamuk bernyanyi? Saya pernah, terutama kalau tempat gelap, udara agak lembap dan hangat, dan terutama kalau kita belum mandi karena penglihatan nyamuk tidak setajam binatang-binatang lainnya. Hasil browsingan saya mengatakan kalau dalam jarak 10 meter, nyamuk banyak melihat “black-dot” atau titik hitam antara mata satu dengan mata yang lainnya. Oh ya sekadar mengingatkan, nyamuk itu punya mata faset, atau mata majemuk. Jadi matanya banyak gitu. Tapi, sebaliknya dalam jarak kurang dari 3 meter, mereka bisa merasakan kehadiran kita dengan menggunakan sensor panas yang terletak di dekat antena. Nah, sensitivitas ini meningkat seiring dengan meningkatnya kelembapan. Makanya, kalau badan kita dalam kondisi lembap, seperti belum mandi dan tinggal di daerah tropis , si nyamuk ini sering kali bernyanyi di telinga kita bukan?

 

Well, anyway ini bukan inti tulisan ini. Yang menarik, hari ini saya baru menemukan satu link di reader saya tentang bagaimana nyamuk ini jatuh cinta. Iya, jatuh cinta. Tapi ibarat cinta itu buta, justru sangat berpengaruh pada nyamuk. Continue reading

kalau di lab itu ngapain aja?

Jadi begini, saya sudah menanamkan ini sejak lama  dalam to-do-list saya *baca : target yang harus kesampaian tapi belum  juga*, tapi yah belum kesampaian juga, intinya nggak usah dibahas deh ujung-ujungnya juga pasti kebilang saya sok sibuk, gak punya waktu bla-bla-bla..

Salah satu target to do list saya itu punya blog sendiri tentang apa yang saya kerjakan supaya bisa dibaca orang awam yang tidak punya pengetahuan science kayak saya. Intinya kepikir mau buat blog yang isinya agak ilmiah tapi popular begitu, biar masyarakat *baca: temen-temen yang baca blog saya ini* sedikit terbuka wawasannya tentang ilmu yang saya tekuni.

Lah , emangnya kamu tuh nekuni apa sih?

Nah, kalo ditanya begini jujur aja saya bingung jawabnya, soalnya ilmu saya campur-campur, gado-gado gak puguh *yang penting enak lah ya kalo pun gado-gado juga*. Saya banyak belajar biokimia khususnya protein, tapi saya juga sedikit paham mikrobiologi, biologi sel, dan baru mau belajar imunologi.

Penting gitu dishare ke khalayak ramai?

Buat saya pribadi mah penting-penting aja, secara dengan menuliskan saya jadi banyak baca, banyak riset untuk bahan tulisan, dan dengan menuliskan kembali ilmu saya secara popular tentu enggak semudah saya menjelaskan kolega lab saya kan yang sudah paham apa itu western blot, immunoprecipitation, pulldown , clonning, dsb *mohon dipahami itu bukan ongol-ongol ya sodara-sodara jadi jangan membayangkan makanan kalo saya di lab ngerjain itu semua 😀 *. Kalau buat yang baca blog saya merasa penting yah syukur alhamdulilah, kalau nggak ya nggak papa sekedar iseng, siapa tahu jadi ada ide  nantinya ..

Terus, mana tulisannya

Nah itu dia, daripada saya bikin excuse yang nggak jelas, untu kali pertama saya buat aja ulasan ya mengenai salah satu web yang cukup ciamik..*aduh bahasanya kelahiran tahun berapa sih mbak?* :D,

Jadi iseng-iseng browsing setelah gempa yang rada heboh, saya menemukan ini, yang kata authornya web tersebut memiliki tujuan To educate and empower scientists in and out of the lab, enabling their next big breakthroughs – faster….iseng iseng nih saya buka lah itu lamannya satu demi satu..Isinya variatif banget, mulai dari hal-hal dasar di lab, khususnya lab biologi kayak cara pegang mikropipet atau bikin spatel, kimia, engineer, sampe kayak ada masalah-masalah yang dihadapi scientis yang bukan teknik seperti di lab seperti bikin video di lab seperti yang itu , sampe ada magicnya segala loh, seperti yang ini nih, keren lah menurut saya. Terus lagi mereka juga provide protocol-protocol yang lumayan agak canggih sedikit, kayak preparasi LC-MS, NMR sample ,dll *skali lagi itu bukan ongol-ongol sodara-sodara, itu metode untuk tahu sekuen protein dan struktur protein*

Oh ya kalau buat scientist..*eer berat banget yah, bukan deh student of science kayak sayah* bahkan web ini juga ngasih rekomen tentang reagent-reagent yang well recomended..

Bottom line : mungkin, saya cuma mau bilang, beginilah dunia saya, yang sehari-harinya berjam-jam di lab, *entah kerja, tidur, atau nyungsep*. Seperti artikel yang ini, kadang-kadang masyarakat hanya mau terima bersih innovasi itu harus ada dalam kedipan mata, tanpa mau tahu, kerja seperti ini tidak hanya butuh sekali, dua kali, bahkan mungkin lebih dari seratus kali perulangan untuk memastikan validitas data..Well, society take the beauty of science for granted…However, we do not complain, we’ll keep up the work, just like Eddison said : I might not fail, I just find the way that it did not work out..

Semoga makin banyak scientist Indonesia yang bisa menjawab permasalah dalam negeri sendir, yuk diliat lagi yuk lamannya *ngunyah pisang goreng*

PS : saya suka banget sama animasi gebukan nyamuknya tuh!

Tuhan berbicara dengan sejuta bahasa

Maintain what you have is such a harder work to do than achieve it…

Mungkin seperti itulah kondisi blog saya belakangan ini, yang frekuensi menulisnya makin nggak jelas. Ide sebenarnya datang dan pergi sesuka hati, namun apadaya kedigdayaan jari ini mengetik selalu dikalahkan oleh rasa malas.

Tapi pagi ini saya berjuang untuk kembali menulis. Cause deep inside I know when I write, I read, I think and I try to digest what I’ve been through.

Entah kenapa saya ingin menulis tentang ini, tentang bahasa Tuhan. Perlu saya tekankan saya tidak bermaksud menjadi sangat agamis karena saya yakin tidak semua yang membaca artikel ini punya sepahaman dengan saya mengenai Tuhan, dan tulisan ini sama sekali bukan membangun superioritas atas kebenaran agama yang saya pilih. Oleh karenanya saya pakai istilah Tuhan ( dibandingkan 4JJI, in which I recalled my God so) supaya anda bisa merasakan maknanya sesuai dengan keyakinan anda.

Setiap diri kita pasti tahu, Tuhan tahu segala macam bahasa. Jadi sekiranya kita berdoa tidak perlu pakai bahasa yang hanya tertulis dalam kitab suci, semisal bahasa Arab bagi yang muslim, atau mungkin bahasa latin, atau bahasa Inggris sekalian, yah terserah deh bahasa apapun itu, yang jelas kita yakin dan kita paham Tuhan tahu maknanya.

Tapi kalau saya pribadi lebih percaya bahasa Tuhan tidak hanya sekedar yang eksplisit tertulis nyata dalam setiap doa yang kita rapalkan dalam rutinitas ibadah, ataupun dalam bisikan nyata saat kesendirian kita dengan Tuhan. Buat saya bahasa Tuhan itu lebih indah dan nyata secara implisit, seperti gejala, fenomena, ataupun teriakan mother nature dalam bentuk keindahan, keberhasilan, atau bahkan bencana dan musibah.

Seperti pagi ini, Tuhan mengetuk hati saya kembali lewat tangan seorang teman melalui akun twitternya yang memberikan link pada sebuah kajian tentang agama saya Islam dan Ego, nanti lain kali saya cerita tentang ini. Tepat pada saat sekian hari saya berusaha bertengkar dengan alter ego dan meredamkan emosi atas segala yang terjadi di luar kehendak saya. Satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya dari video kajian itu, Do What You’re Supposed To Do and let God decide the rest, and relieve the result, by then you’ll feel no more insecure anylonger. Secara tak sadar saya menangis, betapa Tuhan telah mengetuk hati saya untuk berbicara kembali padaNya. Betapa saya telah sombong untuk tidak mau tahu apa yang coba Tuhan sampaikan dengan saya sibuk merancang segala masa depan. However, that was one of my grateful, God talks to me through that video and through my friend who kinldy passed me and the link and that brother ( May Alloh gives you blessed as always).

Bahasa Tuhan di lain kali juga saya rasakan saat gempa yang melanda Jepang 11 Maret 2011, suatu kisah sendiri yang sampai kapanpun saya ingat selalu, dengan segala kedigdayaanNya Tuhan coba berkata yang sama sekali beyond our expectation. Jepang yang sudah sangat terkenal dengan penanganan gempa karena seluruh prefecturenya merupakan pertemuan beberapa lempeng, tetap saja kewalahan menangani musibah nasional ini. Jadi dalam analisis saya, itulah bahasa Tuhan lewat alam yang mencoba mencari keseimbangan untuk mengajak manusia agar mau lebih banyak berpikir. Terbukti setelah hampir 2 bulan setelah gempa berlalu tiga buah scientific paper langsung publish di Science seperti di sini.

Belum lagi masalah pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang hampir seluruh unitnya terpengaruh oleh tsunami yang melanda prefecture itu dengan parah. Mungkin ini bagian dari bahasa Tuhan agar manusia berhati-hati dengan yang digunakan, sebagai yang dilakukan Angela Merkel saat memutuskan untuk melakukan temporary shutdown pada 7 reaktor nuklir di Jerman seperti yang ini setelah balada bahaya nuklir mengancam bagian timur Jepang. Tanpa bermaksud menyinggung keberadaan PLTN ataupun badan nuklir international atau BATAN sekalipun, all I am saying that God challenge us to do more as the protector of the earth.

 

By the end,

As a part of those who believe in God, and it does not mean that i did no respect on whom did not believe in God, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, seberapa jauhpun kita meninggalkanNya. Dia selalu menjawab doa kita lewat berbagai bahasa, entah itu jawaban atas yang kita pinta atau pun kejadian kecil yang membuat kita berpikir untuk tahu inikah jawaban dari Tuhan. Lalu, siapakah kita yang tak lagi mau memahami bahasa Tuhan baik yang eksplisit maupun implisit? Sebegitu congkak kah kita berjalan di atas bumi yang dipinjamkanNya tanpa berusaha memahami makna dari bahasa Tuhan yang sedemikian indah itu? Atau sebegitu tak perdulikah kita pada Sang Khalik dengan segala macam bahasaNya sebagamana dia memahami berjuta bahasa hamba yang meminta padaNya?

graduate school of research institute

Berawal dari seringnya saya dapat pertanyaan seputaran kerjaan kantor dan kuliah, dan seiring hampir 365 hari saya di Tsukuba, maka postingan saya yang ini sedikit banyak akan bercerita tentang “evolusi” saya di tempat kerja dan kuliah saya sekarang.

Saat ini saya sedang mengikuti program doktoral yang diselenggarakan oleh National Institute for Material Science (NIMS) Tsukuba Japan. Status saya di kantor milik pemerintah ini adalah sebagai Junior Researcher.  Salah satu syarat untuk diterima sebagai NIMS Junior Researcher adalah saya harus tercata sebagai mahasiswa doktoral di salah satu universitas yang memiliki kerja sama dengan NIMS antara lain

1. Universitas Tsukuba
2. Universitas Hokkaido
3. Universitas Kyushu
4. Universitas Waseda

Mengapa NIMS butuh kerja sama dengan universitas tersebut?
Karena NIMS hanya lembaga penelitian, yang tidak berhak memberikan gelar. NIMS hanya memfasilitasi para mahasiswanya untuk melakukan riset tentunya yang bersesuaian dengan projek NIMS itu sendiri. Oleh karena itu NIMS melakukan kerja sama dengan Universitas tersebut guna dapat melegalisasi para mahasiswa yang sedianya bekerja untuk NIMS namun tetap mendapatkan gelar dari lembaga pendidikan formal. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, biasanya staf peneliti dari NIMS juga memiliki lab atau setidaknya berafiliasi dengan universitas tersebut dengan nama labnya. Sebagai contoh, saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa Hokkaido University yang letaknya di utara Jepang, sementara profesor saya sendiri yang kebetulah bekerja di NIMS dan berkantor di NIMS Tsukuba yang letaknya hanya sekitar 45 menit dari Tokyo.  Contoh lain : ada salah satu rekan mahasiswa Indonesia yang juga tercatat sebagai mahasiwa Universitas Tsukuba yang jaraknya hanya 10 menit naik mobil dari kantor dan juga bekerja di NIMS. Intinya, selama kami berada di bawah naungan kelompok penelitian (research group) yang juga berafiliasi dengan universitas-universitas tersebut hal ini kerap kali dilakukan tanpa membatasi jarak antara NIMS dan universitas tersebut.

Seperti halnya karyawan di kantor pada umumnya, saya pun menerima gaji tentunya yang sesuai dengan standar NIMS Junior Researcher. Lalu, bagaimana dengan pekerjaan kantor? Apa yang kami kerjakan?
Biasanya para professor memiliki topik riset yang bersesuaian dengan projeknya di NIMS. Nah,  sebagai bentuk simbiosis mutualisme, para NIMS Junior Researcher  in imengerjakan projek kantor sekaligus dijadikan bahan thesis kami untuk meraih gelar. Projek seperti ini biasa disebut Graduate School of Research Institute. Kalau di beberapa negara Eropa seperti Jerman dan Swiss, nampaknya hal ini bukan barang baru. Justru, pengalaman saya berkunjung ke Max Planck Insitute of Reseach beberapa tahun silam lah yang membuka mata saya akan adanya simbiosis mutualisma antara lembaga pendidikan dan penelitian ini, seperti bisa dilihat di sini, di sana dan di situ

Lalu, bagaimana dengan program kuliah? Apa kami tidak mengambil kelas?
Untuk hal yang ini semua tergantung kebijakan profesor anda dan tingkatan pendidikan yang anda ambil. Kalau program doktoral biasanya tidak ada kelas, jadi akan langsung mulai dengan riset, dengan kata lain terjun bebas dalam kurun waktu sebulan dimulainya program. Saya sendiri hanya punya waktu dua pekan untuk mematangkan research plan saya. Saya ingat waktu saya datang, supervisor saya memaparkan secara global topik riset di grup kami. selanjutnya saya diberi kreasi mau mengerjakan apa dan bagaimana selama tidak menyimpang dari topik payung riset projek grup kami. Supervisor dan Professor saya hanya memberi waktu dua pekan buat saya mematangkan research plan *baca : sehari lebih dari 10 jam cuma baca paper dan paper dan paper*. Pada akhirnya, langsung saya diminta mempresentasikan apa research plan saya.
Berbeda dengan program doktoral, untuk program Master biasanya masih bisa mengikuti kelas di universitas. Hal ini tentunya berlaku untuk mereka yang berafiliasi dengan universitas dekat macam Universitas Tsukuba. Kalau afiliasinya jauh macam Waseda, Kyushu, dan Hokkaido, kayaknya nggak mungkin deh ambil kelas, secara butuh naik kereta at least 2 jam atau bahkan naik pesawat.

Lalu, bagaiman dengan biaya sekolah?
Berbeda dengan para penerima beasiswa seperti Monbukagakusho yang diberi fasilitas gratis sekolah dan tunjangan hidup, kami tidak punya kemewahan macam itu. Status kami yang karyawan kecil-kecilan ini memaksa kami untuk pandai-pandai mengatur gaji yang diterima tiap bulannya untuk membayar biaya sekolah di Jepang yang tentunya lumayan membuat kami mengencangkan ikat pinggang. Alhamdulilah, kadang universitas memberikan keringanan dengan diskon biaya sekolah. Selain itu kami juga harus membayar biaya masuk universitas yang yah lagi-lagi lumayan bikin geleng kepala. Untungnya lagi, kantor cukup berbaik hati memberikan pinjaman guna mengatasi hal ini. Dan alhamdulilah lagi, gaji kami dari kantor pun bolehlah dikatakan cukup untuk mengcover ini semua, tidak kurang maupun tidak lebih.

Apakah untung dan ruginya mengikuti program seperti ini?
Untungnya, menurut saya dengan mengikuti riset di lembaga penelitian, soal kendala biasanya tidak jadi masalah dibandingkan dengan universitas. Tentu saja proporsi anggaran riset dari pemerintah untuk lembaga penelitian seperti NIMS biasanya lebih besar ketimbang dana riset di universitas.
Implikasinya, selama ini saya merasakan kemudahan dalam mengakses semua reagen kimia, peralatan, bahkan sampai conference setaraf international pun sedikit longgar. Selain itu, biasanya suasana persaingan yang kental ala kampus tidak begitu kentara dalam program seperti ini. Maklum, sifatnya kan kantor, jadi persaingan justru tumbuh antar grup riset bukan internal grup riset. Buat saya sendiri,karena kantor saya ini 40%nya berisi orang asing, kendala tidak bahasa Jepang bukan jadi masalah, karena justru bahasa Inggris jadi makanan sehari-hari baik di lab ataupun di kantor. Namun, sebagai bentuk pertanggungjawaban saya kepada negeri ini, yah saya cobalah belajar bahasa Jepang. Hasilnya yah memang masih memalukan sih tapi daripada ndak sama sekali.
Kekurangannya, mengikuti program ini antara lain dari segi finansial memang butuh kerja keras ekstra untuk atur-atur uang, setidaknya setahun pertama. Memang mahasiswa juga dapat jatah bonus tiga kali dalam setahun menerima gaji lebih dari biasanya, tapi sekali lagi setahun pertama merupakan cobaan terberat untuk masalah finansial. Selain itu, iklim kampus biasanya kurang terasa bagi kami yang tercatat sebagai mahasiswa jarak jauh dari kampus. Segala sesuatu yang berhubungan dengan status keistimewaan kampus seperti dormitory kampus biasanya sulit diperoleh. Untuk urusan beasiswa, sejauh ini karena kebanyakan dari kami sudah memperoleh deduksi biaya sekolah, yah agak sulit mencari beasiswa lain.

Nah, demikian kehidupan sekelumit saya sebagai graduate school of research institute. Semoga menginspirasi teman-teman.