Balada Esak dan media…..

Dua hari terakhir ini banyak sekali pemberitaan mengenai susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii (Esak). Bermula dari keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan tuntutan pengacara David Tobing yang meminta hasil penelitian IPB mengenai susu formula yang terkontaminasi bakteri tersebut diumumkan kepada masyrakat. Namun, berdasarkan konferensi pers yang digelar oleh MenKominfo dengan mengundang BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) serta Kementerian Kesehatan, hingga pagi ini tidak ada informasi satu merk susu formula pun yang disebutkan oleh institusi tersebut seperti ringkasan yang saya baca di sini. Akibatanya masayarakat pun mulai resah, apalagi setelah ditambah embel-embel dari media yang biasanya suka “mengompori” mulailah tudingan pemerintah tidak becus, tidak perduli, dan tidak perhatian dengan kesehatan masyarakat. Spekulasi bahwa, pemerintah hanya melindungi produsen dan perekonomian yang berpihak pada industri susu formula dan mengesampingkan masa depan para generasi penerus bangsa pun berkembang marak. Setidaknya itu yang saya lihat dari status teman-teman di jejaring social dan laporan televisi yang mengundang partisipasi masyarakat melalui telepon, sms, dan lain-lain. Continue reading

what PhD students should do…

well..ini bukan menggurui, sama sekali bukan, justru ini menegur diri sendiri yang belakangan sepertinya kendor semangat..

ya…saya kendor semangat..karena ini dan itu..yang pasti hanya alasan belaka. karena tak seharusnya saya begitu. hasil percakapan dengan salah satu teman negeri jiran adalah bahwa seorang PhD student berada pada titik terendah dalam kegiatan riset suatu grup. yah, bagaimana tidak, kalau profesor hanya akan memberikan secuil dari keseluruhan proyeknya kepada si murid ‘PhD’. bahkan, dulu waktu sama-sama ikut workshop, banyak PhD student pun yang merasa “we are the bottom line of the research chain-food”..haha, terdengar sangat tragis..apalagi saya..dengan kondisi dibayar dengan jam kerja 9 jam sehari, 4 hari seminggu kenyataanya sering kali di kantor hingga malam dan tak pernah absen dari kantor di hari kerja bahkan kadang hari libur, ah well..bukan itu masalah sebenarnya …semua juga begitu kok? bukan begitu bukan? 😀

my point is…seberapapun tingkat pendidikan anda, kalau label student atau murid ada pada diri anda, yah sesungguhnya anda hanyalah murid. titik. maka seyogyanya berlakulah seperti murid. yang harus membaca-dan membaca. mencoba memahami paper demi paper. mencoba meresapi keluhan sensei atau bos atau atasan . mencoba memperbaiki hubungan dengan staf di kantor mungkin. yang juga harus menulis..*Ya Tuhan yang ini sumpah saya selalu merinding*. student pun harus paham kalau dirinya berperan untuk memperkaya ilmu pengetahuan bagi dirinya sendiri dann atasannya :D, jadi kalau sudah bersusah payah memahami paper atau jurnal tiba-tiba si bos minta hal yang sudah susah payah anda pahami itu diboikot oleh teman atas perintah bos..*ow this is such a screw, but happen sometimes* …tersenyumlah..dan ingatkan diri sendiri jangan menjadi bos yang seperti itu di kemudian hari

another thing to do for PhD students, mencoba berdamai dengan lab, data-data dan komputer. karena kalau mereka tidak disayangi sepenuh hati segenap jiwa meskipun hasil tidak memuaskan, maka meminjam istilah coelho, all universe will fight against you…dan buatlah prestasi, in someway take anyone’s attention that they will look on you in a very good positive way..and don’t forget to ask if you don’t know..mungkin secara teori PhD adalah jenjang terakhir pendidikan, dan karenanya sebagian orang berpendapat yang sudah punya gelar PhD alias doktor itu pasti orang-orang hebat. padahal, kurun waktu tiga tahun belum tentu memberikan kita banyak informasi. dan opini saya pribadi, semakin tinggi ilmu yang anda pelajari, maka semakin banyak ketidaktahuan anda, karena anda terfokus pada satu titik saja. bahkan seorang profesor pun harus tetap berani bertanya untuk memperkaya dirinya dengan ilmu. does it sound idiot? maybe for the first five minutes yes..but absolutely not for the rest of one’s life.

and the last thing that PhD students should also do is…GET A LIFE out there…talk to God, have fun while you were studying, take a walk, learn by the nature, read the any other people’s face during the weekend, have a chat, watch movie, get shopping, and read PhD Comics..its good for your health…

this note is absolutely for my self

when I was..finally..accepted

akhirnya, saya menulis lagi..dengan segala kekurangan dan kelemahan yang saya miliki…
ah sudah lama sekali saya absen dari blog saya yang kumuh ini (berniat ganti tema), tapi tiada kunjung sempat memposting tulisan alakadarnya saya yang sudah numpuk di draft ituh..dan baiklah mari saya mulai lagi menulis di tahun 2010 ini…

kalau lihat postingan saya kali ini, judulnya tentu vice versa dengan postingan saya yang ada di sini, tapi intinya yah memang ini cerita kebalikan dari postingan itu..

setelah berjuang hampir setahun mencari-cari, mengirim aplikasi, minta refrensi ini dan itu, akhirnya aplikasi sekolah doktoral saya diterima 2 Feb 2010 kemarin. Atas rekomendasi dari bos saya, sebuah institusi penelitian di Jepang bersedia menerima saya sebagai Junior researcher yang juga berpredikat sebagai mahasiswa doktoral..Bahagia, tentu lah, alhamduliah, senang..pasti, tapi seperti juga tulisan saya yang di mari, sedih juga mengingat harus berpisah dengan suami dan anak, serta orang tua sementara waktu. Ah, sudahlah saya nggak mau membahas yang itu, takut mellow lagi seperti tangisan yang saya keluarkan barusan saat meninabobokan anak saya.
saat ini mendingan saya cerita tentang proses aplikasi saya, semoga bermanfaat dikemudian hari.

bulan oktober, selagi masih Ramadhan 1430 H, bos saya tiba-tiba menelpon malam-malam untuk tanya tentang keseriusan saya mau sekolah lagi di luar negeri, dan akhirnya keluarlah informasi seorang koleganya di Jepang sedang mencari Junior Researcher (JR) sekaligus mahasiswa doktoral. Singkat cerita saya langsung setuju, dan di bulan November 2009, saya dan kolega bos saya itu bertemu di Jakarta. Menindaklanjuti keseriusan saya, aplikasi formal pun dikirim, saya lolos seleksi administratif, dan harus mengikuti ujian seleksi di Tsukuba pertengahan Januari 2010.

Dua minggu lalu, saya datang ke Tsukuba yang sedang winter dengan suhu 3 derajat celcius *wow*, suhu terendah sesaat dalam hidup saya. Tsukuba jauhnya sekitar 60 km dari Tokyo, terkenal dengan julukan science city karena banyak sekali institusi penelitian di sana.

Hari pertama di Tsukuba, saya dijamu oleh kolega bos saya dan keluarganya, *ah, jadi kangen anak dan suami*.Hari kedua, saya presentasi tentang personal research accomplishment dan paper review di hadapan prospectus profesor saya dan beberapa senior researcher di institusi itu. Tanggapan mereka cukup welcome, meskipun banyak juga catatan yang saya terima dari sana sini, tapi whatever lah. Hari ketiga, saya dinyatakan lulus sebagai JR, tapi saya masih harus seleksi lagi untuk jadi mahasiswa Hokkaido University tempat saya akan tercata sebagai mahasiswa kalau lulus. Akhirnya, kami berangkat ke Sapporo tempat Hokkaido Univ (HU). berada dengan 1.5 jam perjalanan pesawat. Saya tak sendirian selama mengikuti seleksi itu, ada seorang aplikan lain dari Cina yang juga seorang manager di Sony China.
Hari ke-empat, Sapporo, utara Jepang dan saya akhirnya menginjakkan kaki di atas salju pertama kali dalam hidup dengan suhu -10 derajat celcius. Berusaha bertahan dengan dinginnya udara luar, saya lebih berusaha untuk mengsinkronkan hati, otak, dan mulut untuk mulai presentasi di depan perwakilan dari HU. Waktu 30 menit yang selama latihan di Tsukuba selalu berlebih, akhirnya pas juga untuk saya menyelesaikan dua sesi presentasi sekaligus tanya jawab. Pfuih, what a…. Alhamdulilah, saya lega, kendati belum tau hasilnya, tapi setidaknya I’ve done it.

Sembari meniti hujan salju *or should I say “badai salju”* yang membuat tangan saya yang sudah bersarung ini tetap kaku sehingga tidak bisa memijit tombol train ticket itu, saya mencoba bertahan. Migren pun datang, batuk pilek kembali menyerang. Koyo pemberian kolega si Bos pun nggak ngaruh *karena lebih panas koyo cabe made in Indonesia :)*..
Akhrinya , saya kembali ke Indonesia, dengan senyuman dari kolega si Bos dan prospectus profesor sayah.

Satu minggu berlalu, suatu siang di sebuah laboratorium di rumah sakit kanker di Jakarta, saya tertegun membaca email dari sang Professor yang menyatakan saya diterima, *kendati 3 hari sebelumnya Bos saya sudah dapat bocoran dari koleganya yang bilang “impressed” dengan presentasi saya…alhamdulilah..pencarian itu berakhir pula..

Billion of thanks that I want to express for my boss, who bring me up here *yang mungkin juga membaca blog saya ini*, who inspires me in what I did and do now, and who gives me a role model how to be a persistent person with honest and modest way…*makasih banyak ya Pak*

Also, million of thanks to my supervisors, Pak Dahrul, Ibu Dewi, Ibu Vanny, dan Ibu Welly..yang mengajarkan saya beragam cara untuk tetap tangguh, tak kenal lelah mengejar impian, dan tak pernah letih berusaha..Terima kasih banyak Bapak dan Ibu-Ibu..

And measureless thanks to My Beloved Husband and Son, yang selalu paham keinginan Bunda untuk terus mencari dan mencari…semoga perjuangan kita ini membuahkan hasil..dan Ibu, untuk semua pengorbanan yang tiada henti buat anaknya ini..* I LOve U Mom, and Ialways will*

Ini adalah awal dari pencarian saya, and there will be another story that might include tears and laugh…as life should be..

Novartis-BioCamp 09, USA (1)

Sebulan lalu yakni 26-30 Oktober 2009, saya mengikuti Biotechnology Leadership Camp tingkat global yang diselenggarakan oleh Novartis, Inc. Suatu kehormatan dan kesempatan yang langka buat saya untuk sekali lagi terlibat dalam kancah internasional seperti itu. Seperti cerita saya di sini, maka, postingan saya kali ini adalah kelanjutan dari BioCamp Indonesia 2009.

Novartis Global BioCamp 09 kali ini diselenggarakan di Cambridge, Masachusetts, USA, yang untuk mencapainya saya harus menempuh 31 jam perjalanan dengan dua kali transit. Sungguh suatu perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Sebut saja, ketumpahan kopi panas dari orang di samping pada penerbangan pertama, kemudian acara menunggu pesawat dari Los Angeles ke Boston yang hampir 10 jam, kemudian ditambah kelaparan karena salah satu maskapai penerbangan local Amerika sangat berbaik hati dengan hanya memberikan jus meskipun perjalanan yang saya tempuh lumayan melewati jam makan. Intinya, perjalanan saya sendiri sudah punya cerita sebelum acara inti,

Hari pertama 25 Oktober 2009, waktu Boston (jeda 11 jam dengan WIB).

Saya dan Itha, tiba di bandara Logan Boston International Airport jam 7 pagi, lumayan segar, dengan cuaca dingin yang berangin. Belakangan saya baru tahu Boston ini cukup hebat dengan anginnya. Memperoleh pelayanan yang prima (baca: dijemput di Airport setelah penerbangan melelahkan dan proses cek in yang cepat ditambah registrasi yang simple), membuat saya tidak merasa kesulitan di awal acara. Guna menghindari jetlag, saya dan Itha memutuskan berjalan-jalan keliling kota, melintasi Charles River lewat Longfellow bridge. Kesan pertama, melintasi Boston dan sedikit Cambridge, suasana cukup OK, menyenangkan. Kami bahkan berjalan ke hampir pusat kota yang makan waktu hampir 60 menit. Setelah itu, saya putuskan untuk kembali ke hotel, istirahat, karena di sore hari saya dan Itha sudah dijadwalkan interview dengan Voice of America Indonesia dari Washington DC. Untuk interview ini, saya hampir telat, karena mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi karena bertemu dengan kasur empuk setelah tak tidur hampir 24 jam (tidur maksimum saya di pesawat hanya 2 jam karena saya tak sanggup menahan turbulensinya). Jujur, saya penasaran sekali dengan hasil interview itu, karena kayaknya jawaban saya agak-agak ngelantur karena itu murni jawaban bangun tidur. Tapi hingga kini, saya belum mendapatkannya. .
Malamnya, kami mulai acara perdana dengan makan malam informal dengan seluruh peserta yang sudah datang, dan panitia. Hebatnya, acaranya tidak kebanyakan protokoler dengan sambutan. Jadi kami bisa langsung beramah tamah dengan para peserta dan panitia maupun beberapa pegawai Novartis.Oh ya, sekedar informasi, di Cambridge sendiri, ada 4 institusi novartis, yakni Novartis Institute for BioMedical Research/NIBR (tempat penelitian untuk basis farmasi), Novartis Venture Funds (bagian venture fundnya Novartis) ,Novartis Biologics ( biasanya untuk clinical trial), dan Novartis Vaccine dan Diagnostics. Malam itu, beberapa perwakilan dari institusi tersebut dapat hadir. satu lagi yang menarik, malam itu, banyak juga pakaian tradisional bermunculan, seperti Yukata dari Jepang, terus Saree dari India, dan yang pasti batik dari Indonesia (yeay!!). Berhubung masih dirundung sedikit jet-lag, saya cuma bisa bertahan sampai pukul 10.30, setelah itu saatnya membenamkan diri ke tempat tidur.

Hari kedua, 27 Oktober 2009

Menjelang hari kedua ini, saya mulai penasaran dengan acara yang digelar ini. Dalam hati, saya bertanya-tanya, apakah akan sangat seperti bisnis just like BioCamp Indonesia had, atau lebih science seperti yang saya harapkan. Setelah sarapan kami semua berkumpul di lobby dan berjalan bersama-sama menuju NIBR yang terletak di 250 Masachusets Ave yang kira-kira 7 blok dari hotel kami menginap. Sambil berjalan, saya perhatikan, ternyata Cambridge itu gudangnya science, banyak sekali Cambridge Science Center di sekeliling kota. Jadi misalkan One cambridge Center, itu diisi oleh institusi departemen …dari MIT, five Cambridge Center, diisi oleh Novartis Vaccines and Diagnostic seperti yang ini dan yang itu, dll. Selain itu, banyak pula perusahaan-perusahaan biotek bertebaran seperti Novartis, Dyax, dan beberapa yang saya lupa namanya tapi ada enzyme-enzymenyalah (ini laporan pandangan matanya sangat subyektif..mohon maklum:))

Ok, acara sudah mulai , seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak ada sambutan-sambutan yang neko-neko, tancap langsung ke acara inti. Memang sih secara garis besar formatnya akan sama dengan lokal BioCamo (lah wong diadopsi dari situ kan ya?), tapi yang bikin saya sumringah adalah kali ini materi science nya lebih mantab, dengan tema2 riset yang lumayan menggairahkan dan tidak hanya berkutat dengan pengembangan science untuk bisnis. Diawali dengan pembicara Dr. George Dailey, yang hampir separuh hidupnya berkecimpung di dunia stem cell ke arah pediatrician. Selanjutnya,ilmu yang tak kalah penting yaitu kami diberikan informasi tentang membuat bisnis plan yang menarik, punya strong pitch, dan tentunya convincing, dari Robert Gottlieb dan Mark Tushein yang keduanya sudah 25 tahun lebih berkecimpung dalam hal per-bisnisplan-an. Sesi after break dilanjutkan dengan diskusi panel yang menyertakan scientist, venture capitalist, dan perusahaan infant farmasi. Nah, mulai dari sini saya baru mengerti bagaimana sebuah riset dikedepankan ke dunia industri melalui campur tangan para venture capitalist dan perusahaan perusahaan biotek kecil yang mungkin memuat platform technology, ataupun service, atau mungkin akhirnya nanti membidik perusahaan farmasi besar seperti Novartis. Sesi setelah makan siang, diisi oleh perwakilan dari Novartis Insititue for BioMedical Research (NIBR) Carol Manahan yang memberikan overview bagaimana institusi riset ini bekerja diluar tekanan industrinya sehingga tidak terbelenggu oleh tekanan sales dan marketing industri farmasi. Yang unik, kalau anda pernah menonton acara-acara televisi lokal yang pakai sistem voting, nah, kami juga diajak melakukan voting untuk beberapa pertanyaan yang diajukan Carol. Selain itu, kami juga melakukan beberapa aksi interaktif yang dijamin membuat tetap terjaga. Selanjutnya, kami melakukan working grup discussion yang intinya, kami harus membuat bisnis plan di akhir hari workshop per grup.

Sorenya, waktu jalan-jalan, Keliling boston dengan duck tour. maksudnya duck tour itu, kayak mobil perahu yang bisa jalan di darat dan air jadi kayak bebek. Parahnya, cuaca di luar hujan, dan dingin sekali, untungnya si duck punya penghangat jadi kami nggak menggigil kedinginan melawati jalan-jalan di Massachusetss dan Charles River. Hari kedua, ditutup dengan makan malam di Legal Seafood yang menghidangkan lobster yang, heuheu mantab. (tapi lebih mantab kalo ditambah saos padang, tetap lidah Indonesia tidak bisa pergi dari sambel).

bersambung

Biotechnology Research Camp (BioCamp) Ristek-Novartis 2009

medio Agustus 2009, saya berkesempatan mengikuti Novartis-Ristek BioCamp 2009. acara ini merupakan acara camp atau sejenis dengan workshop sebagai bagian dari CSR- Novartis. perlu diketahui Novartis merupakan perusahaan industri farmasi kedua terbesar di dunia yang memegang peranan penting dalam pengembangan sektor farmasi di dunia. setelah melalui perseleksian administrasi dan panel interview, akhirnya terpilihlah 23 orang mahasiswa pascasarjana dan lulusannya dari berbagai bidang, seperti bisnis, manajemen, kedokteran, farmasi ataupun science (biologi). menurut Wanda Harahap,manager communication Novartis Indonesia, program BioCamp bertujuan untuk membuka wawasan sektor bioteknologi khususnya bagi para mahasiwa bisnis dan manajemen. sebaliknya, program ini juga diharapkan dapat memberikan pengenalan awal dunia bisnis dan leadership bagi mahasiswa yang bergerak di bidang science. berbekal tujuan itulah, mengapa program ini diberikan kepada dua mahasiswa tingkat lanjut dari disiplin ilmu yang berbeda.

Puspiptek H1

Hari ke-1

bertempat di Puri Casablanca Kuningan, seluruh peserta berkumpul untuk melakukan aktivitas BioCamp di hari-1. jadwal hari pertama hampir seluruhnya diisi dengan kegiatan kunjungan ke Pusat Penelitian dan  Pengembangan Ilmu Pengetahuan (PusPIptek) Serpong. Kunjungan pertama dilakukan di UPT Bioteknologi BPPT. kebetulan saat itu Wahyu Purbowasito Ph.D (yang sebelumnya sudah saya kenal) yang memberikan pengantar mengenai BPPT-Biotek beserta riset yang telah dilakukan. animo peserta cukup tinggi pada sesi tanya-jawab, mengingat waktu makan siang hampir habis namun peserta masih berminat untuk bertanya. selama pemberian penjelasan, saya mendapat banyak tanya dari peserta dengan latar belakang bisnis dan manajemen tentang ini dan itu. wah, sebenarnya kasihan juga mereka karena mengejar ketinggalan bioteknologi cukup jauh. walhasil ya kadang ada pula yang benar-benar ngeblank tentang apa yang dibicarakan. setelah pemaparan tentang Bioteknologi BPPT kami melangkah ke kunjungan lab. kalau pendapat saya pribadi , ya lab yang diperkenalkan tidak ada yang aneh untuk Bioteknologi baik industri dan pertanian.

melangkah ke acara kedua, yakni kunjungan ke LabTIAP, jadi lab-Lab di dalamnya meliputi Lab Pangan Fungsional, Biofarmaka berbasis virus, proses enzim purifikasi dan separasi.karena jadwal molor, terpaksa rencana kunjungan ke Lab Batan dibatalkan, padahal saya berminat sekali mengingat nggak pernah menyentuh bidang yang satu ini. melihat site labnya saja yang bermultiple pagar itu bikin mupeng. Dan kayaknya seru gitu ada di bagian radioisotop .selanjutnya, hari sudah semakin sore, kantuk mulai terasa, lelah, dan terutama pastinya lapar berat. melesat dari pinggiran Banten ke pusat Jakarta, bis kami menuju ke penang bistro (haduh maaf ini bukan ajang promosi, saya juga tidak dikenai biaya advertise kok :P)..akhirnya, kami bertemu pula dengan makan malam yang super duper yummy menurut saya, setelah disuguhi terlebih dahulu oleh lecture dari Pharmaceutical Multinational Company Group yang munurut saya lagi curhat karena birokrasi dan kebijakan pemerintah dalam mengatur Industri Farmasi berbasis multinasional. setelah kenyang, sedikit terhibur juga oleh psikolog dari Novartis Vera Ibrahim yang sampe mendaulat Resa dan Marcel jadi konduktor nyanyi lagi “heal the world’ Jacko (ah jadi inget masa SMA, lagu ini dinyanyiin bagus banget sama kelas saya –memuji diri a.k.a narcistic dot kom). Akhirnya, kegiatan H-1 berakhir jam 10.3) WIB

Hari ke-2 19 Agustus 2009 (the day im getting older this year..)

pagi hari kami sudah bersiap untuk mengikuti acara hari ini yang menurut prediksi saya adalah acara inti . jadwal hari ini lumayan padat, dengan isian kuliah dari pagi hingga waktu makan siang. kuliah-kuliah tersebut meliputi opening ceremony dari Direktur Novartis Indonesia Roger Paulman. kemudian sambutan dari kepala BPPT yang diwakili oleh Prof Amin Subandrio, dan termasuk kuliah Prof Amin sendiri tentang Innovation (ah, jadi teringat kuliah microbial antibiotics oleh beliau). Ada juga paparan dari DepKes tentang regulasi farmasi di Indonesia, jadi seperti hak jawab atas pertanyaan kuliah yang malam sebelumnya. Nah, dua kuliah terakhir ini agak bertolak belakang satu dengan yang lain, yakni tentang pengembangan program-program CSR oleh Business Unit Head NI dan Thomas Keller , Kepala Novartis Institute for Tropical Disease yang ada di Singapore. Tentu saya tertarik sama kuliah yang terakhir ini, yang katanya riset-riset yang dilakukan Novartis menyangkut penyakit tropis seperti dengue, malaria dan tuberculosis. Belakangan, saya baru tahu juga Novartis punya pusat penelitian dengan Indonesia di Universitas Hasanudin namanya NehKRI. Tapi, berdasarkan penilaian saya, NITD tidak berkenan melakukan penelitian dengan mengembangkan produk rekombinan, karena basic mereka adalah sintesis alam, jadi pencarian bahan alam yang bermanfaat untuk mengatasi penyakit tropis seperti artemisinin untuk malaria. hmm, sedih juga, padahal tertarik loh untuk ikut riset di Singapura. yang lucu, penelitiannya kebanyakan tentang penyakit-penyakit di Indonesia kok pusat penelitiannya di Singapura ya? belakangan saya dapat bisikan karena birokrasi di Indonesia sulit untuk didekati. Wah, kalau sudah begini salah siapa ya?

siang hari setelah Ishoma, kami melaju ke site production Novartis yang ada di Pasar Rebo, Jak-Tim. baru kali ini saya masuk ke industry farmasi, ternyata cukup higienis ya. sayang sekali tidak diperkenankan foto di ruang produksi yang kebetulan grup saya ikuti. padahal kostumnya okeh banget. Oh ya, site ini terdiri dari site A untuk Novartis dan site T untuk Sandos. banyak juga obat yang diproduksi di sini, tapi nggak kalah juga obat yang diimpor, di repackage dan direlabel. harganya juga mahal-mahal ya. padahal katanya, Sandoz adalah divisi Novartis yang Generik, tapi harganya tetap saja buat saya itu ya mahal.

Pose-2 novartis indonesia site pasar rebo1

malamnya, kami kembali ke hotel untuk memasuki acara berikutnya. sebelumnya,saya menduga ini  termasuk bagian yang menegangkan, dan ternyata saya benar. kami harus membuat business plan dalam kurun waktu kurang dari dua jam dengan sebuah studi kasus.Jadi, untuk orang seperti saya yang, ah sama sekali masih bingung membedakan apa itu strength, weaknesess, opportunity, dan challenge (SWOT), yah rada-rada keteteran mengikuti diskusi kelompok. Alhamdulilah, teman-teman sekelompok saya banyak mensupport saya tentang pengetahuan ini. mmh, nggak heran kalau kami dapat hadiah untuk ini, (nanti saya beritahu di akhir cerita)

OK, berakhir jam 12, saatnya istirahat, dan saya benar-benar lelah.

Hari ke-3..20 Agustus 2009

saat paling menegangkan buat saya, karena ya hari ini kami harus presentasi, dan yang mengejutkan lagi adalah kelompok kami mendapat giliran pertama. ouw..ouw…Ok…segala cara dilakukan termasuk dengan tagline khas yang semoga mengipmpressi para juri yang terdiri dari business unit Novartis dan perwakilan Ristek. sesi tanya-jawab yang buat saya lagi, cukup bikin speechless, karena sungguh saya nggak ngerti banyak tentang business plan ini. tapi nggak mungkin kan kami tampil di depan dengan planga-plongo, yah walhasil sekenanya lah jawaban terlontar. salah satu business plan yang OK menurut saya adalah business plan kelompok Teddy (grup 2) yang dengan detil bicara project launch, budgeting, profit, bla-bla-bla..they did it so well..lajnut mendekati siang hari, masih ada tiga lecture lagi yang harus diikuti, pertama dari Julietta Samosir HR Division NI, lalu dari Hendra Gunawan Direktur Utama PT. Tunggal, dan terkahir Rene Suhandono (yang saya senangi ituh) dengan carrier coachnya.

melalui Pak Hendra, saya belajar tentang leadership, bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang baik, yang reliable, accountable dan tentunya ngemong anak buah. dari Ibu Julietta, saya dapat informasi bahwa Novartis sangat meninggikan nilai diversity dan inclusion di tiap negara cabangnya, dan dari Rene, saya jadi tahu kalau hidup saya ini harus memiliki passion dan purpose yang bermanfaat. Ah indah, sekali kombinasi lecture ketiganya.

hari kian sore, dan akhirnya acara puncak yang ditunggu pun tiba, award dan ceremony. seperti yang saya bilang, kelompok kami (group three dengan tag line Leuminib make a better life) akhirnya dinobatkan menjadi best team (yeay..we’ve made it guys), sungguh saya tidak menduga sebelumnya. tentunya, group two seperti dugaan saya mendapat predikat the most reliable business plan..Ok…sangat setuju dengan penilaian dewan juri. terakhir, pengumuman delegasi NI untuk BioCamp 2009 global. sekali lagi, dugaan saya tepat, yang memperolehnya adalah the cartoon face Yani Bagas Paramitha, mahasiswa Prasetya Mulya Business School yang juga menggawangi grup dua dengan business plan-nya yang canggih itu. Satu kandidat lagi, nah yang ini tebakan saya meleset, dan alhamdulilah, I was selected..(yeay..:)) sungguh, saya sekali lagi tidak menduga.

pose-3 most feasible business plan group three

pose 4-best team-grpup three..mine of course

ceremony n award.

hari itu 20 Agustus 2009, saya mendapat hadiah ulang tahun yang indah sekali. being delegated for Novartis Global BioCamp 09 in Novartis Biomedical Research Institute Cambridge, Massachusetts, USA. mau tahu cerita saya di Cambridge? tunggu ya, oktober nanti. it was such a nice and memorable moment of being there.

biocamp full team

about the equilibrium

sebenarnya bukan mau sok science or gimana gitu..tapi ini benar-benar padanan kata yang menjelaskan isi blog saya yang sederhana banged ini..

equilibrium itu kan artinya setimbang, dari segi ukuran jadi yang kiri sama yang kanan sama, yang sebelah atas sama bawah seimbang dan sebagainya

nah blog saya ini juga begituh, seimbang dari seluruh visi dan misi hidup saya..ada kalanya saya sebagai ibu, sebagai istri, sebagai anak…repot sama urusan rumah tangga..adakalanya lagi saya sebagai scientist yang pengen share info-info science yang kata orang membosankan…adakalanya lagi saya sebagai diri saya yang ceria, suka ngambek, rada moody, nggak bisa dendam lama-lama, dan bawel ini..

jadi ..kalo meringkas equilibrium dalam bahasa keren ya itu artinya akan seperti ini ..mmm….hh…

gado-gado

my status of life

beberapa hari belakangan saya pusing dengan status yang saya sandang ..well oke..sebenernya bukan dengan statusnya tapi dengan kewajiban dan wewenang dari status saya itu..arghhh sumpah rasanya mau muntah terus menerus kalau ingat..

dan puncaknya adalah minggu kemarin, akhirnya saya tumbang dengan status dan saya sebagai ibu, istri, anak, pekerja, dan pemburu sekolah..kenapa begitu?oke, ini saya jabarkan satu-satu..

pertama, sebagai ibu..ini sudah teken kontrak semenjak pagi pertama saya tahu saya hamil lewat test pack…ada seribu pertanyaan saat itu dan saat ini mulai terjawab dan pertanyaannya masih saja tetap banyak…
OK..tapi yang mencengangkan adalah pada saat saya sudah full time jadi ibu, dalam arti kata sudah melahirkan anak saya tercinta ituh…dan sampai anak saya sekarang sudah mulai jadi batitia..betapa waktu cepat berlalu dan pekerjaan saya masih panjang..
dan memang benar kata prang pekerjaan ibu adalah saat matahari terbit hingga anggota rumah terpejam, tak terbendung banyaknya…mulai dari ajak main anak, mau mendengarkan rewelan dan rengekan sang anak, meladeni makan, minum, mandi, buang air , dan bla-bla-nya anak, sampai waktu anak untuk potong rambut, beli bantal baru, beli obat nyamuk buat anak, dan sikat gigi anak (yang ini belum kesampaian karena tiap kali belanja saya lupa terus..:( ), oh satu lagi ketinggalan, anak saya punya kebiasaan bangun tengah malam untuk minum susu kotak ataupun teh manis hangat, jadi dengan mata rada2 terpejam saya harus tetap fokus dengan semua itu..
mengeluh??oh tidak..nggak mengeluh, tapi cubung saja, nggak salah toh..however senang rasanya sudah memiliki anugerah terindah dalam hidup ini…

nah status kedua sebagai istri, yah ini adalah “other printilan” (meminjan kamus ibu saya) yang tak kalah pentingnya, biasa deh suami minta ditemani ini, mau ini sama saya, maunya kesitu kalau ditemani saya, minta dibeliin ini sama saya, mau dipijitin sama saya, ditambah kalau penyakitnya kumat, haduh harus ekstra sabar menghadapi (oh ya lupa, saya juga sudah teken kontrak bawa-bawa nama Sang Kholik buat terikat sama dia sehidup semati..semoga waktu itu saya nggak lagi mabok :D)

yang ketiga, status sebagai anak, yah biasa lah ini juga, harus dengarkan wejangan orang tua, orang tua datang harus dilayani, padahal maunya tidur, maunya leyeh-leyeh di rumah, tapi diajak jalan-jalan harus oke lah, mau mendengarkan curhat orang tua, mau dengar komplain orang tua, bla-bla-bla…soalnya saya juga orang tua toh?? (berpikir keras, semoga anak saya ndak ngambil sisi negatif ibunya :P) )

yang keempat, sebagai personal assitant, haduh yang ini pagi siang sore malem buta harus on kalo diajak omong kerjaan, dimintai ide, sumbang saran, harus siap kalau diminta ini itu dikerjakan mendadak, blablabla (nanti akan ada kesempatan untuk tahu bos saya yang super duper ajaib itu 🙂 )

yang kelima..sebagai pemburu sekolah, sudah sekali ditolak dan masih harus struggel untuk yang lain mengingat cita-cita tak boleh kalah oleh waktu dan jarak..semua kendala harus bisa diatasi dan semua kegagalan tidak boleh menjadi penghalang dalam menuntaskan cita-cita, apapun bentuknya saya harus tetap semangat untuk mengejar cita-cita saya yang satu itu

dan terakhir..Ya Alloh..yang ini sungguh saya nggak pengalaman, sebagai mandor bangun ruman, mulai dari pembelian, pengawasan, desain, sampe pengerjaan kudu mengawasi..yang tadinya saya nggak kenal plafon, pondasi, eternit, harga keramik, paralon, engkel, bla-bla-bla, dan yang parah adalah kalau sudah merekapitulasi berapa rupiah yang sudah dikeluarkan untuk rumah sarang burung saya yang imut dan mungil itu..

arghh…saya benar2 sigh..(secara harfiah hal ini saya lakukan, literally) sumpah..saya rada lelah dengan status saya itu..salahkah saya?tidak bukan?ini cuma salah satu fase hidup yang harus saya lakoni toh….