1433 di negeri sakura

Ied mubarrok!! Mohon maaf lahir batin, duh udah seabad nggak menulis bikin saya merasa bersalah dan bodoh. Iya, jarang menulis bikin bodoh  buat saya bukan buat orang lain tentunya. :). Kadang saya bingung untuk memulai lagi menulis di blog ini, karena kadang suka malu sendiri kok isinya hanya curhat doangan, nggak mutu, meaningless, jadi saya sibuk nyari bahan postingan yang agak berkelas sedikit. Tapi hal itu selalu saja bikin saya males posting, gatot, karena kebanyakan mikir. So instead I am being productive by try to think productively, I hold back my will to become procastinating. Sama aja bohong, so,biarlah isi blog ini mengalir apa adanya, nggak kebanyakan mikir . 🙂

Jadi tahun ini, saya kembali merasakan Ied Mubarrok di Jepang. Tapi tiga kali berlebaran di sini itu aseli nuansanya beda-beda. Mungkin ini nikmatnya yah, blessing in disguise kalo kata di film-film. Kalo di kampung halaman kan cenderung  yah begitulah lebaran, as always, heuheu. Tapi di sini saya merasakan hal yang berbeda.

Apa yang beda??  Continue reading

Koran by heart–a review–

Untuk pertama kalinya, saya mau mereview film, tapi bukan film Hollywood ya. Soalnya lagi nggak selera sama film Hollywood. Lagian postingan ini ditujukan sebagai buah Romadhon kali ini buat pembaca. maksudnya saya sendiri gitu, soalnya saya cukup sadar blog ini kagak ada keren-kerennya.

Film yang akan saya review kali ini adalah film dokumenter yang di putar di HBO di summer series “Koran by heart” yang tayang musim panas ini di HBO. Thanks to my friend Winnie yang sudah menshare link film ini di facebook.
Kalau yang mau nonton silahkan di sini

Film dokumenter ini disutradari oleh Greg Barker, yang sudah lumayan mumpuni membuat film dokumenter seperti Sergio, Ghosts of Rwanda dan The Survival of Saddam. Walaupun begitu tayang 1 Agustus lalu (tepat ya sama 1 Romadhon) menuai cukup banyak kritik, namun buat saya pribadi film ini menyentuh kebutuhan mendasar, the divine speech–dalam kata lain perkataan dari Ilahi–. Untuk yang mau tahu lebih banyak tentang kritik si sutradara boleh baca di sini . Yang unik, justru menurut pengakuan si sutradara, film ini dibuat berdasarkan kebutuhan akan keingintahuannya tentang keadaan muslim masa kini, dengaan dominasi fundamentalis yang hampir tersebar luas di seluruh negara-negara berpenduduk Islam, dan muslim moderate. Nah isi film ini sedikit banyak merepresentasikan apa yang terjadi di kalangan muslim fundamentalis dan moderat tersebut.

Adalah tiga anak brillian, cerdas, berlatar belakang berbeda, terpisah benua yang mengikuti kontes recite Qur’an. Apa ya bahasa Indonesianya recite?. Kalo kata google translate sih membaca, tapi saya kurang sreg dengan artinya, mungkin melafazkan kali ya..Jadi ketiga anak berusia 10 tahun ini masing masing bernama Nabiollah dari Tajikistan, Rifdha dari Kepulauan Maldives, dan Djamil dari Senegal. Tapi karena kemampuan mereka menghafalkan Quran (Subhanaulloh), mereka ditunjuk oleh negara tersebut sebagai delegasi dalam ajang International Quran Recite Competition yang dilaksanakan di Kairo, Mesir. Continue reading

and the 3- begin

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkankamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan –QS. Al An’am : 60–

Tak ada yang spesial hari ini.
Semua berjalan sama, seperti biasa.
Matahari masih dengan setia bersinar, terbit dari timur ke barat.
Pagi tetap dikelilingi dengan kesegeraan.
Siang tetap dikelilingi kesibukan. Petang diwarnai kebahagiaan karena badan terpenuhi kebutuhannya setelah dahaga melanda.
Malam diselingi alunan ayat-ayat suci.

Tak ada yang berbeda, hanya detik yang tak akan kembali.
Hanya nafas yang mungkin belum menemui titik hentinya.
Namun, setiap hembusannya seakan menandakan, akan ada saat mereka tak lagi setia menemani.
Mereka akan pergi.

That I left my twenties already, remaining anything left?
Should I have my time in the way God want me to do?
Had I reflect all the blessed that I gain for the last 30 years appropriately?
As He created me as His creature.
Had I love my prophet Muhammad as he sacrificed many things for me as his ummah?

Dear God,
As I am too ashamed, asking you each and everyday, as I do not know to whom I supposed to cry out loud every night, as I only can rely on when I notice darkness cover my sight, Thank You…
And as I raise my hand to pray…I just notice that I could not say a thing at all, since I am sure You know what I had much deep in my heart.

kemerdekaan itu…..

Dirgahayu Indonesia…

Bangun pagi tadi, saya belum sadar kalau ini tanggal 17 Agustus. Maklumlah, di negeri orang, yang peringatan kemerdekaannya hanya di beberapa tempat, itu pun serba minimalis, semacam Kedutaan Besar RI di Tokyo atau Konsulat Jendral RI di Osaka misalnya. Selebihnya jangan harap liat umbul-umbul merah putih di mana-mana. Oh well, saya juga nggak mau ngomongin itu kok, soalnya saya nggak ikut upacara juga, karena baru hari ini masuk kerja setelah liburan musim panas seminggu kemaren, eh ini kok ngelantur ya..Mohon di maafkan..:P
Oh ya, kembali ke kesadaran saya bahwa hari ini adalah 17 Agustus. Kalau nggak liat cuap-cuap teman di jejaring social tuh, wah bener deh saya nggak sadar sekarang 17-an. Iseng-iseng saya liat isi twit teman saya satu-satu. Ada yang filosofis, membahas sejarah, ada yang skeptic, memandang kemerdekaan yang sudah 66 tahun ini kok tidak dirasakan kemerdekaannya, ada yang nganggep guyon, ada yang mengeluh karena nggak libur, ada yang heboh dengan segala atribut upacara kemerdekaan. Hihi, lucu sekali. Lumayan menambah wacana pola berpikir.

Nah, pada akhirnya saya bingung. Kalau saya, apa dong makna kemerdekaan buat saya?
Mhh, setelah berpikir sekian lama *ini lebay banget*, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan tentang kemerdekaan ini. Ini kemerdekaan ala saya loh ya. Menurut saya, hakikatnya manusia bukanlah mahluk yang merdeka. Continue reading

idul fitri di negeri sakura

tak terasa sudah hampir 6 bulan saya di negeri ini. Ramadhan pun sudah saya lewati, ah rasanya cerita tentang Ramadhan di negeri sakura seorang diri saja bisa menghabiskan beberapa postingan. tetapi mungkin yang paling berkesan adalah cerita di malam terakhir Ramadhan, yakni malam takbiran seperti yang sudah saya suarakan di sini.

oleh karena itu, lebih baik saya cerita soal idul fitri saya saja. hampir 30 tahun idul fitri tidak pernah sekalipun saya lewatkan tanpa kehadiran keluarga besar di Indonesia. satu-satunya momen idul fitri yang berbeda adalah 10 tahun silam saat sehari sebelum idul fitri, bapak saya kembali ke pangkuanNya. sungguh, itu adalah saat tersulit dalam hidup saya kala itu.

namun, ternyata Tuhan pun berkeinginan agar saya belajar bagaimana memaknai hari raya umat muslim di seluruh dunia itu dengan kesendirian dan kesederhanaan. karena malamnya saya sudah mellow shallow, akhirnya saya putuskan untuk sholat Iedul fitri di Sekolah Repiblik Indonesia Tokyo (SRIT), yang memakan waktu tempuh kira-kira hampir 2 jam dari Tsukuba, bukan di mesjid Tsukuba yang hanya 2 km dari rumah saya. Kali ini sengaja saya gunakan bus dari Tsukuba Senta, sekalian ingin jalan-jalan tentunya. Seperti umumnya kota satelit, pagi hari saat tepat idul fitri, hari kerja masih berlaku (jum’at) jadi tetap saja saya temui macet di jalan tol penghubung Tsukuba dan Tokyo.

Tergopoh-gopoh mengejar gelombang kedua sholat Ied di SRIT yang jatuh pukul 09.00, saya sampai di stasiun Meguro pukul 8.35. jujur saja, saya nggak tahu dimana itu SRIT, tadi bermodalkan GPS dari henpon tekad bulat membaja ingin berjalan kaki dari stasiun ke SRIT. Baru keluar stasiun, saya sudah melihat rombongan banyak orang Indonesia, yah ciri-cirinya gampang lah, pakai baju koko, pakai jilbab, dan seterusnya. Akhirnya, saya pun bergabung dengan mereka, dan menggunakan bus untuk sampai di SRIT. walhasil, waktu tempuh 1.5 km hanya butuh 5 menit dengan bus.

Sesampainya di muka jalan menuju SRIT, sudah banyak terlihat warga muslim yang sudah melaksanakan sholat Iedul fitri di SRIT di gelombang pertama. Ah sungguh deh, yang ini , mirip banget Indonesia. Benar kata teman saya di twitter, sholat saja di situ untuk merasakan suasana Ied seperti di Indonesia. Saking banyaknya sampai susah masuk ke Balai Indonesia. Alhamdulilah, saya masih dapat tempat di shaf perempuan. Begitu duduk, akhirnya saya sempat menikmati takbir, langsung dari pengeras suara. yah seperti yang bisa ditebak, saya langsung menitikan air mata. Di Indonesia pun setiap takbir sebelum sholat Ied saya selalu menangis, apalagi ini jauh di negeri orang dari keluarga tercinta. entah ada kekuatan apa dalam takbir itu. mungkin sesuai dengan artinya “Alloh Maha Besar” seperti tanda pengkhultusan dan perendahan diri di hadapan Ilahi, sehingga diri ini merasa kecil dan tak pantas berbuat yang macam-macam selain beribadah kepadaNya.

Selesai sholat, saya dan teman kenalan pun bergerak menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia yang letaknya kira-kira 2 km dari SRIT. Oh ya, sempet ketemu juga dengan mantan bos di sini, akhirnya kita malah foto-foto. ah yang ini lucu sekali kalau bisa saya ceritakan. Sesampainya di KBRI, wuah ternyata pihak KBRI sudah siap sedia dengan masakan jamuan khas lebaran, ketupat, sayur rebung santan, telur pindang, sambel goreng ati, ayam goreng dan kerupuk udang. Ya Alloh, sungguh nikmatt sekali. Mungkin begini ya rasanya para fakir miskin di Indonesia yang nggak mampu buat ketupat dan segala panganan jodohnya itu. Ah, saya jadi tersentil. Nanti kalau ada kesempatan Ied di Indonesia lagi, saya harus pastikan seluruh tetangga baik yang merayakan atau tidak mencoba ketupat buatan saya *eh maksudnya buatan Ibu saya :),
dan sekonyong-konyong lagi saya malah bertemu dengan kakak kelas di IPB dulu. Duh, sungguh deh serasa di rumah, bisa bicara tentang banyak hal yang pernah dilalui bersama.

Singkat cerita, saya beranjak dari KBRI, kali ini saya bertekad tidak langsung pulang ke Tsukuba, melainkan mau sowan ke daerah Otsuka. Menurut kenalan saya, di Otsuka ini banyak penduduk Jepang yang beragama Islam. Para Imamnya pun banyak yang hafizh Al-Qur’an kendati mereka juga muallaf. Dan akhirnya saya pun sampai di Otsuka. Namun, walapun pusat muslim bagi penduduk Jepang, tetap saja Mesjid Otsuka ini kecil, malahan lebih besar mesjid di komplek rumah saya di Bogor. Tetapi, begitu masuk, rasanya kok adem gitu. Banyak sekali saya lihat muslim dari berbagai negara, Jepang, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Jordan, India, dan negara-negara Afrika sekalipun. Ah, mereka pun menyambut ramah. Kebetulan saya datang saat matahari sedang di tengah bayangan. Saatnya kami para muslim harus sholat dzuhur. Alih-alih sholat dzuhur, saya malah ikut sholat Jum’at pertama kali dalam hidup saya. Wow…what a very religious experiment I had here..

Ah, mungkin cerita Idul Fitri saya, ini jauh dari mewah, indah, semua yang serba baru, keramaian yang selayaknya dikumandangkan di Indonesia, dan segala ritual yang sudah menjadi kebiasaan Idul Fitri ala Muslim. Namun, Tuhan selalu punya maksud dan itikad baik buat semua hambaNya. Justru di tengah keramaian ini, saya merasakan kehadiranNya, saya bisa sedemikian mudahnya menangis saat namaNya disebut, saat membaca kitabNya, dan saya bisa berdamai dengan segala kekurangan dan kondisi yang ada pada saya. Mungkin, inilah maksud fitri yang sebenarnya. Fitrah kembali kepadaNya, ikhlas, sabar dan bersyukur atas segala karuniaNya..

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1431 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga Alloh menghimpun kita kembali ke dalam golongan yang dicintaiNya di hari akhir nanti”

my other thought

ist2_9201029-freedom

ehm, sebelumnya akan terlihat sedikit gado-gado.oh well, whatever just trying to use my other function of heart, brain, and fingers..

jadi, pagi buta ini, sekitar jam 2-an ini, saya habis membaca artikel di web sebelah yang isinya menurut saya entah kenapa menggelitik hati dan pikiran saya akan web itu..no..no bukan webnya, isi dari web-web itu.
sejujurnya, dulu (ah nggak dulu banget) beberapa bulan yang lalu saya ikut meramaikan web itu, tapi karena satu dan lain hal, saya agak mundur dari peradaban kemajuan web itu (disamping karena efek addict kalo udah nongkrongin disitu membuat saya nggak bisa pergi..dan itu membuat saya lagi tidak produktif for the rest of the day..buat saya only toh ya).

jujur harus saya akui, di web itu saya belajar banyak, belajar mengetahui karakter orang, pendapat orang, dan berpikiran lebih terbuka dari sebelumnya. selain itu sangat banyak hal positif yang saya peroleh dari situ. namun, belakangan saya merasa sudah mulai kurang nyaman disana. saya sendiri kurang tahu kenapanya, yang jelas saya pikir i have to get out of here..walaupun sesekali saya masih menyambangi web itu dan membaca apa yang dihadirkan disana.
tapi pagi tadi ada artikel yang membuat saya terhenyak. lagi, tentang cara pandang orang terhadap pemikiran orang lainnya dan tentunya yang seru adalah kalau sudah berbicara soal agama.

yah, mungkin sebagian orang berpendapat agama itu adalah satu hal yang tidak bisa mendasari kehidupan yang lain. agama adalah cara kita bereaksi dengan Yang Maha Mencipta, dan bukan cara kita merefleksi diri kita ke dalam hal yang menurut agama kita itu benar. sometimes, saya melihat ya agama hanya dijadikan sebagai simbol pengakuan untuk sifat keIlahian seseorang namun bukan jati diri seseorang. lagi, saya melihat agama ya hanyalah suatu tempat untuk mengalihkan hati sesaat entah untuk mengadu keluh-kesah atau apalah tanpa menjadikannya sebagai nilai-nilai hidup yang sebenarnya.

wait?ateta sounds so religious? oh bukan..apalagi dalam rangka bulan Romadhon yang penuh berkah ini. im just trying to say what i had in mind while that article and the discussion board on showed.

saya tidak mau men-judge orang lain dengan point of view saya, tapi boleh kan saya berpendapat murni tentang orang lain dalam hati dan pikiran saya?toh tak akan merugikan siapapun tampaknya. jadi bukanlah suatu penilaian sesaat yang pastinya lebih banyak kekeliruan dibandingkan kebenarannya.

buat saya, agama adalah extraordinary, hal yang luas yang keseluruhannya harus didapatkan dalam nilai moril keseharian saya. mengapa?karena agama saya mengajarkan dan hidup pun telah membuktikan kepada saya bahwa ada hal yang ekstra ordinary beyond our imagination yang hanya bisa diterima. ketika saya beragama, berarti saya sudah mendedikasikan keseharian saya dan seluruh sisa hidup saya pada agama saya dengan tujuan akhir kehidupan yang lebih abadi di alam sana kelak. ketika saya menyatakan saya beragama ini atau itu, maka saya wajib menjalankan semua aturan tatanan dan perundangan agama saya itu. bukan begitu?kalau saya tidak menjalankannya kenapa saya harus beragama?buat apa pula saya punya agama kalau, jika dan hanya jika, memperindah kartu penduduk saja tanpa tahu maksud dan tujuan agama saya.

haruskan saya kaku pada agama saya? bukan kaku, tapi taat. taat disini dalam perpektive saya berusaha menjalankan sekuat tenaga aturan main agama yang kita anut. tanpa diskriminasi aturan sendiri, yah kalau bernegara ada uu nya maka agama juga punya uu toh..kalau uu itu dilaksanakan dengan baik dan benar, maka saya yakin hidup beragama itu jauh lebih baik dari apa yang terjadi saat ini..

oh ya , kembali ke web yang saya bicarakan tadi, salah satu alasan saya undur diri dari peradaban web itu mungkin karena saya takut terbawa arus yang saya tidak tahu akan kemana.mungkin terdengar bodoh tapi izinkan saya membela diri dengan mengatakan saya akan berada pada tempat yang menurut saya memberi manfaat buat kehidupan sosial, jasmani dan rohani saya. salahkah saya?

wallohu alam bisshowab..semoga langkah saya sesuai dengan apa yang dianjurkanNya