Balada Esak dan media…..

Dua hari terakhir ini banyak sekali pemberitaan mengenai susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii (Esak). Bermula dari keputusan Mahkamah Agung yang memenangkan tuntutan pengacara David Tobing yang meminta hasil penelitian IPB mengenai susu formula yang terkontaminasi bakteri tersebut diumumkan kepada masyrakat. Namun, berdasarkan konferensi pers yang digelar oleh MenKominfo dengan mengundang BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) serta Kementerian Kesehatan, hingga pagi ini tidak ada informasi satu merk susu formula pun yang disebutkan oleh institusi tersebut seperti ringkasan yang saya baca di sini. Akibatanya masayarakat pun mulai resah, apalagi setelah ditambah embel-embel dari media yang biasanya suka “mengompori” mulailah tudingan pemerintah tidak becus, tidak perduli, dan tidak perhatian dengan kesehatan masyarakat. Spekulasi bahwa, pemerintah hanya melindungi produsen dan perekonomian yang berpihak pada industri susu formula dan mengesampingkan masa depan para generasi penerus bangsa pun berkembang marak. Setidaknya itu yang saya lihat dari status teman-teman di jejaring social dan laporan televisi yang mengundang partisipasi masyarakat melalui telepon, sms, dan lain-lain. Continue reading

sejumput rindu untukmu

kau datang pagi itu..
setelah sekian lama kutunggu
kau pecahkan sunyi..dengan suaramu..
dan kau buat sesuatu mengalir dari mata ini..

dan kau tersenyum saat itu..
selalu dengan tatapan yang sama
seakan berkata semua baik-baik saja..

tapi kau robek hati ini..
kau hempaskan diri ini ke dalam kesedihan yang hampir membuat gila
saat kusadari tak kurasakan lagi lembutnya sentuhanmu…

kau tersenyum malam ini..
seperti senyum yang kau bawa seribu hari yang lalu..
senyum yang membuatku tetap berdiri,
disini..sendiri…
memendam sejumput rindu..

untukmu…

harvy raffa azami

semoga air mata bunda malam ini mengantarkan nyenyak tidurmu..

Japan, where I am now

kembali ke judul yang saya muat di atas. sebelumnya mungkin ini hanya pandangan parsial saya saja. tetapi izinkanlah saya berbagi pandangan saya yang mungkin tidak benar 100% itu.
sudah lebih dari empat bulan akhirnya rekor bang Thoyib yang tidak pulang 3 bulan terpecahkan saya berada di Tsukuba ini. jauh dari suami, anak, orang tua dan negeri yang saya cintai Indonesia. perlahan saya mulai belajar tentang hidup dan kehidupan negeri sakura ini. sekadar cerita, waktu saya masih sma dulu saya ngefans banget sama negeri sakura ini. mungkin efek masih labil kebanyakan nonton dorama, jadi ya agak sedikit melankolis dengan kehidupan negeri matahari terbit.

akhirnya, begitu kesampaian, disinilah saya berusaha mencerna. entah ini perasaan sedih atau gembira, tetapi yang pasti ya, campur aduklah. adakalanya saya takjub bukan kepalang dengan budaya orang-orang Jepang. menurut saya mereka sopan setengah mati, selalu berkata manis, bertutur lemah lembut, bahkan kalau berbicara sampai sulit terdengar sangking pelannya. saya sering bilang sama bos di telepon ‘maap bos, suaranya nggak kedenger’.hehe.

tetapi, dibalik itu semua, justru saya merasa bingung, karena kerap kali juga kecewa dengan ekspresi baik lemah lembut itu. karena dalam kasus hubungan antar mahasiswa atau rekan kerja di kantor sering kali jadinya malah main belakang. memang sih sudah ada teman dari Indonesia yang bilang, orang Jepang itu akan berusaha setengah mati menjaga harmonisasi antara sesama, walaupun pada akhirnya akan tampak seperti blangkon, iya peci tradisional Jawa yang mulus di depan tapi menjendol di belakang. sungguh, saya tidak suka yang ini. teman rekan kerja pun sudah wanti-wanti agar kita harus senantiasa bisa membaca ekspresi bos apakah maksudnya senang atau sedih atau marah lah emang saya Paul the psychic? menurut hemat saya, kalau kita salah ya dikasih tahu dengan jelas tanpa embel-embel, dengan sopan kan bisa juga toh? sekali lagi ini menurut saya. bahkan kata guru bahasa jepang saya, orang jepang itu tidak mau bilang tidak (Iie, dalam bahasa Jepang) melainkan hanya bilang Cotto (ini bahasa kromo inggilnya tidak, yang artinya malah bisa sedikit, bisa sebentar, yah intinya menunjukkan penolakan deh)

perihal kedua, masih menyambung dengan perihal pertama, mungkin karena harmonisasi inilah anak-anak Jepang jarang ada yang menangis secara kencang dan keras, kebanyakan hanya menunjukkan muka sedih dan menangis tanpa suara kalau ada hal yang tidak nyaman. hal ini sudah terbukti pada anak teman saya yang asli Indonesia namun baru 10 bulan sekolah di sini. ceritanya, kami bertiga legi renang, eh karena sang anak nggak mau minjemin kacamata renang, sof lens teman saya jadi hilang di kolam renang. sang teman pun marah, eh si anak merasa bersalah, lalu ujuk-ujuk menangis outloud, dia hanya menunduk, seperti mau menangis yang tertahan. akhirnya saya coba menenangkan. padahal, kalau saya pribadi berpendapat, saya mau jadi sahabat anak, tempat anak berkeluh kesah, saya mau dipercaya dengan demikian saya bisa percaya dengan anak. nah, kalau anak saya sendiri nanti takut untuk menangis di depan saya, berarti dia tidak percaya dong sama ibunya ini?
*maap ini bahasanya mbulet*

perihal ketiga, etos kerja yang tinggi sudah terkenal sejak dulu kala dimiliki oleh bangsa ini. untuk hal yang satu ini saya angkat tangan dua kaki dan angguk-angguk kepala kalau perlu. saya salut dengan cara mereka bekerja, semangat tanpa kenal lelah. seperti penjaja makanan, atau penjaga restoran yang suka teriak “Irashaimasse” *silahkan* dari mulai buka sampai tutup itu restoran. suaranya bisa terdengar sampe stadion, *entah ya stadion mana?*, belum lagi senyum, pelayanan, dan cara bersikap yang luar biasa ramah. saya pun kagum setengah mati dengan dedikasi para staf di lab yang kalau sudah bekerja ya total 100%. tapi entah kenapa saya juga sedih melihat banyak orang Jepang yang kalau bekerja seperti tak kenal dunia lain. pergi jam 9 pagi pulang jam 2 malam, terus menerus setiap hari. Kadang lupa mungkin ada anak dan istri yang menunggu di rumah. Kadang pula sabtu minggu, parkiran di kantor itu tetap dipenuhi dengan mobil-mobil.
ah, untuk yang satu ini saya bersyukur betapa agama saya mengajarkan untuk menikah, memiliki keturunan, memiliki kehidupan yang lain selain bekerja, bahkan agama saya sudah mencantumkan dalam Kitab suci untuk bekerja saat matahari terbit dan beristirahat saat malam mulai datang. dan saya rasa demikian pula dari segi kesehatan, bisa keram otak kalau setiap hari lebih dari 12 jam dipakai untuk bekerja.

perihal lainnya, ehm..nanti ya bersambung…

ibu, jaga lisanmu!

bicaralah secukupnya, karena Tuhan hanya menciptakan satu mulut untukmu, namun perbanyaklah mendengar, dengannya Tuhan sediakan dua telinga

kira-kira begitu isi quote yang pernah saya dengar. dan hari ini pun quote itu terdengar lagi. saya mendapatkan ilmu hari ini. tentang bagaimana doa seorang ibu akan menjadi sangat mustajab karenanya. tentang bagaimana seorang Ibu menjadi sekolah untuk anaknya.

Ibu, mahluk yang ditinggikan derajatnya dibandingkan Ayah, begitu kata ajaran agama saya. tanpa mengkesampingkan peranan seorang Ayah yang juga amat besar, lisan seorang Ibu adalah cermin bagi anaknya. jadi, jangan harap anak akan bicara baik-baik kalau kita, si ibunya tidak memperdengarkan kata yang baik. jangan kaget kalau anak suka bicara dengan nada tinggi kalau di rumah kerap kali yang didengar adalah ibu yang suka mengomel dengan nada dasar “si” yang ini gue banget..

ah, saya bangga…sejuta, semilyar, setrilyun kali bangga jadi ibu. walau dengannya badan saya mekar, tidur saya berkurang, jam menonton film favorit tidak ada, waktu dengan suami tersita, penampilan tidak sexy lagi haha emangnya pernah, *ambil kaca*..sungguh saya bangga sekali..

dan betapa jauh lebih bangganya saya, begitu hari ini beberapa ilmu diwariskan kepada saya yang mengatakan doa ibu adalah keridhaan Tuhan..seketika ibu berucap Tuhan pun mengiyakan, dan sedetik batin tersirat Tuhan pun menyetujui..bahkan tanpa kata itu terucap terlebih dahulu..dan betapa saya menyadari semua itu saat selalu terngiang doa Ibunda tercinta untuk saya, sehingga saya seperti sekarang.betapa kasih yang tak terbalas telah diberikan Ibunda hingga kini masih saja memberikan jiwa dan raga hanya untuk anak dan cucu kesayangannya

dan saya tercabik-cabik, mengingat kerap kali saya sering marah kepada anak, kerap kali saya minta anak saya untuk mandi, tapi kok yo ibunya belum mandi. tak jarang juga saya diluar batas kesabaran dengan segala kelelahan pulang kerja, saya emosi dengan anak..sungguh, rasanya ingin saya lakban saja mulut ini kalau hal-hal demikian saya ingat. dan betapa menyejukkannya saat saya mendengar teman-teman saya di sini bisa menjawab semua perkataan anaknya dengan lemah lembut, seolah menunjukkan kasih ibu yang terdalam.dan betapa bencinya saya begitu menyadari anak saya ribuan mill jauhnya tak lagi mendengar perkataan bundanya yang seharusnya menyejukkan ini secara langsung..dan betapa sedihnya mendengar ibu yang dengan gagahnya membentak dan menghardik anak di dekatnya..padahal andai dia tahu, separuh jiwanya pergi saat jarak memisahkan raganya dengan buah hati tercinta..

untuk Harvy : maafkan bunda untuk tidak ada di sisi mu saat ini, maafkan bunda untuk ucapan yang menyakitkanmu selama ini, maafkan bunda untuk tidak memberikan kasih dan kelembutan yang harusnya kamu dapatkan…semoga Alloh masih berbaik hati memberikan ruangnya di muka bumi ini untuk mempertemukan kita, nak..seluruh rasa rindu ini hanya untuk kamu ..
untuk Ibu : seandainya bisa kuberikan hidupku untuk kebahagiaan yang telah kau berikan, akan kulakukan, walaupun aku dan Tuhan tahu, tak akan pernah cukup ..

*saat kerinduan anak dan ibu berada di puncak*

dan aku pergi

dan ternyata dingin belum beranjak pergi ketika kaki ini menginjak Tsukuba. bahkan kini rasanya dingin itu kian menusuk ke dalam tulang tanpa ampun. memang tidak separah belahan utara Jepang seperti Hokkaido, namun entah kenapa hari ini dingin itu lebih menggerogoti saya. mungkin karena kali ini dingin itu tersimpan rapat dalam lubuk hati saya terdalam. menjalar ke seluruh vena dan arteri memperpanjang rasanya hingga tarikan nafas saya terasa berat di hidung.

dan saya telah pergi. ribuan mil jauhnya dari tempat yang saya sebut rumah saya selama ini. bukan karena rumah kecil saya yang belum segenap 365 hari saya tempati, walaupun sudah ada coretan khas anak saya di dindingnya. tapi jauh dari rumah tempat cinta dan kasih saya dapat dan berikan.

sudah berminggu-minggu lalu saya membayangkan hal ini. jauh, sendiri, tanpa sang belahan hati.berminggu-minggu lalu juga saya takut menghadapi perpisahan saya dengan anak dan keluarga tercinta.sungguh, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa saya di kala saya benar-benar harus meninggalkan mereka. saat itu pun saya sudah menangis sejadi-jadinya.

dan kemarin, 30 maret 2010, saya benar-benar pergi meninggalkan orang-orang terkasih dalam hidup saya. ternyata semua tidak seburuk yang saya bayangkan, saya bhkan masih dapat melihat tawa anak dan suami saya tercinta. walaupun tak dapat dipungkiri, air mata ini tak kuasa untuk dibendung.

kini saya sendiri, hanya bermodalkan koneksi kabel untuk mencari apa yang saya sebut dengan rumah. tempat saya mencurahkan semua tangis dan tawa selama ini. tempat saya mendalami makna menjadi seorang dewasa, ibu dan istri.

ah sudahlah , saya jadi shallow mellow..semangat..saya datang hari ini untuk menjemput mimpi…..

as my facebook status today: And when my tears fall, he wiped those with his stare as if saying : “Dont Worry Bunda, we’ll be OK, and coming up to you soon”. And the moment I realized I left my halfsoul to a place where I recall as home.