what PhD students should do…

well..ini bukan menggurui, sama sekali bukan, justru ini menegur diri sendiri yang belakangan sepertinya kendor semangat..

ya…saya kendor semangat..karena ini dan itu..yang pasti hanya alasan belaka. karena tak seharusnya saya begitu. hasil percakapan dengan salah satu teman negeri jiran adalah bahwa seorang PhD student berada pada titik terendah dalam kegiatan riset suatu grup. yah, bagaimana tidak, kalau profesor hanya akan memberikan secuil dari keseluruhan proyeknya kepada si murid ‘PhD’. bahkan, dulu waktu sama-sama ikut workshop, banyak PhD student pun yang merasa “we are the bottom line of the research chain-food”..haha, terdengar sangat tragis..apalagi saya..dengan kondisi dibayar dengan jam kerja 9 jam sehari, 4 hari seminggu kenyataanya sering kali di kantor hingga malam dan tak pernah absen dari kantor di hari kerja bahkan kadang hari libur, ah well..bukan itu masalah sebenarnya …semua juga begitu kok? bukan begitu bukan? 😀

my point is…seberapapun tingkat pendidikan anda, kalau label student atau murid ada pada diri anda, yah sesungguhnya anda hanyalah murid. titik. maka seyogyanya berlakulah seperti murid. yang harus membaca-dan membaca. mencoba memahami paper demi paper. mencoba meresapi keluhan sensei atau bos atau atasan . mencoba memperbaiki hubungan dengan staf di kantor mungkin. yang juga harus menulis..*Ya Tuhan yang ini sumpah saya selalu merinding*. student pun harus paham kalau dirinya berperan untuk memperkaya ilmu pengetahuan bagi dirinya sendiri dann atasannya :D, jadi kalau sudah bersusah payah memahami paper atau jurnal tiba-tiba si bos minta hal yang sudah susah payah anda pahami itu diboikot oleh teman atas perintah bos..*ow this is such a screw, but happen sometimes* …tersenyumlah..dan ingatkan diri sendiri jangan menjadi bos yang seperti itu di kemudian hari

another thing to do for PhD students, mencoba berdamai dengan lab, data-data dan komputer. karena kalau mereka tidak disayangi sepenuh hati segenap jiwa meskipun hasil tidak memuaskan, maka meminjam istilah coelho, all universe will fight against you…dan buatlah prestasi, in someway take anyone’s attention that they will look on you in a very good positive way..and don’t forget to ask if you don’t know..mungkin secara teori PhD adalah jenjang terakhir pendidikan, dan karenanya sebagian orang berpendapat yang sudah punya gelar PhD alias doktor itu pasti orang-orang hebat. padahal, kurun waktu tiga tahun belum tentu memberikan kita banyak informasi. dan opini saya pribadi, semakin tinggi ilmu yang anda pelajari, maka semakin banyak ketidaktahuan anda, karena anda terfokus pada satu titik saja. bahkan seorang profesor pun harus tetap berani bertanya untuk memperkaya dirinya dengan ilmu. does it sound idiot? maybe for the first five minutes yes..but absolutely not for the rest of one’s life.

and the last thing that PhD students should also do is…GET A LIFE out there…talk to God, have fun while you were studying, take a walk, learn by the nature, read the any other people’s face during the weekend, have a chat, watch movie, get shopping, and read PhD Comics..its good for your health…

this note is absolutely for my self

Novartis-BioCamp 09, USA (1)

Sebulan lalu yakni 26-30 Oktober 2009, saya mengikuti Biotechnology Leadership Camp tingkat global yang diselenggarakan oleh Novartis, Inc. Suatu kehormatan dan kesempatan yang langka buat saya untuk sekali lagi terlibat dalam kancah internasional seperti itu. Seperti cerita saya di sini, maka, postingan saya kali ini adalah kelanjutan dari BioCamp Indonesia 2009.

Novartis Global BioCamp 09 kali ini diselenggarakan di Cambridge, Masachusetts, USA, yang untuk mencapainya saya harus menempuh 31 jam perjalanan dengan dua kali transit. Sungguh suatu perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Sebut saja, ketumpahan kopi panas dari orang di samping pada penerbangan pertama, kemudian acara menunggu pesawat dari Los Angeles ke Boston yang hampir 10 jam, kemudian ditambah kelaparan karena salah satu maskapai penerbangan local Amerika sangat berbaik hati dengan hanya memberikan jus meskipun perjalanan yang saya tempuh lumayan melewati jam makan. Intinya, perjalanan saya sendiri sudah punya cerita sebelum acara inti,

Hari pertama 25 Oktober 2009, waktu Boston (jeda 11 jam dengan WIB).

Saya dan Itha, tiba di bandara Logan Boston International Airport jam 7 pagi, lumayan segar, dengan cuaca dingin yang berangin. Belakangan saya baru tahu Boston ini cukup hebat dengan anginnya. Memperoleh pelayanan yang prima (baca: dijemput di Airport setelah penerbangan melelahkan dan proses cek in yang cepat ditambah registrasi yang simple), membuat saya tidak merasa kesulitan di awal acara. Guna menghindari jetlag, saya dan Itha memutuskan berjalan-jalan keliling kota, melintasi Charles River lewat Longfellow bridge. Kesan pertama, melintasi Boston dan sedikit Cambridge, suasana cukup OK, menyenangkan. Kami bahkan berjalan ke hampir pusat kota yang makan waktu hampir 60 menit. Setelah itu, saya putuskan untuk kembali ke hotel, istirahat, karena di sore hari saya dan Itha sudah dijadwalkan interview dengan Voice of America Indonesia dari Washington DC. Untuk interview ini, saya hampir telat, karena mata ini sudah tidak bisa diajak kompromi karena bertemu dengan kasur empuk setelah tak tidur hampir 24 jam (tidur maksimum saya di pesawat hanya 2 jam karena saya tak sanggup menahan turbulensinya). Jujur, saya penasaran sekali dengan hasil interview itu, karena kayaknya jawaban saya agak-agak ngelantur karena itu murni jawaban bangun tidur. Tapi hingga kini, saya belum mendapatkannya. .
Malamnya, kami mulai acara perdana dengan makan malam informal dengan seluruh peserta yang sudah datang, dan panitia. Hebatnya, acaranya tidak kebanyakan protokoler dengan sambutan. Jadi kami bisa langsung beramah tamah dengan para peserta dan panitia maupun beberapa pegawai Novartis.Oh ya, sekedar informasi, di Cambridge sendiri, ada 4 institusi novartis, yakni Novartis Institute for BioMedical Research/NIBR (tempat penelitian untuk basis farmasi), Novartis Venture Funds (bagian venture fundnya Novartis) ,Novartis Biologics ( biasanya untuk clinical trial), dan Novartis Vaccine dan Diagnostics. Malam itu, beberapa perwakilan dari institusi tersebut dapat hadir. satu lagi yang menarik, malam itu, banyak juga pakaian tradisional bermunculan, seperti Yukata dari Jepang, terus Saree dari India, dan yang pasti batik dari Indonesia (yeay!!). Berhubung masih dirundung sedikit jet-lag, saya cuma bisa bertahan sampai pukul 10.30, setelah itu saatnya membenamkan diri ke tempat tidur.

Hari kedua, 27 Oktober 2009

Menjelang hari kedua ini, saya mulai penasaran dengan acara yang digelar ini. Dalam hati, saya bertanya-tanya, apakah akan sangat seperti bisnis just like BioCamp Indonesia had, atau lebih science seperti yang saya harapkan. Setelah sarapan kami semua berkumpul di lobby dan berjalan bersama-sama menuju NIBR yang terletak di 250 Masachusets Ave yang kira-kira 7 blok dari hotel kami menginap. Sambil berjalan, saya perhatikan, ternyata Cambridge itu gudangnya science, banyak sekali Cambridge Science Center di sekeliling kota. Jadi misalkan One cambridge Center, itu diisi oleh institusi departemen …dari MIT, five Cambridge Center, diisi oleh Novartis Vaccines and Diagnostic seperti yang ini dan yang itu, dll. Selain itu, banyak pula perusahaan-perusahaan biotek bertebaran seperti Novartis, Dyax, dan beberapa yang saya lupa namanya tapi ada enzyme-enzymenyalah (ini laporan pandangan matanya sangat subyektif..mohon maklum:))

Ok, acara sudah mulai , seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak ada sambutan-sambutan yang neko-neko, tancap langsung ke acara inti. Memang sih secara garis besar formatnya akan sama dengan lokal BioCamo (lah wong diadopsi dari situ kan ya?), tapi yang bikin saya sumringah adalah kali ini materi science nya lebih mantab, dengan tema2 riset yang lumayan menggairahkan dan tidak hanya berkutat dengan pengembangan science untuk bisnis. Diawali dengan pembicara Dr. George Dailey, yang hampir separuh hidupnya berkecimpung di dunia stem cell ke arah pediatrician. Selanjutnya,ilmu yang tak kalah penting yaitu kami diberikan informasi tentang membuat bisnis plan yang menarik, punya strong pitch, dan tentunya convincing, dari Robert Gottlieb dan Mark Tushein yang keduanya sudah 25 tahun lebih berkecimpung dalam hal per-bisnisplan-an. Sesi after break dilanjutkan dengan diskusi panel yang menyertakan scientist, venture capitalist, dan perusahaan infant farmasi. Nah, mulai dari sini saya baru mengerti bagaimana sebuah riset dikedepankan ke dunia industri melalui campur tangan para venture capitalist dan perusahaan perusahaan biotek kecil yang mungkin memuat platform technology, ataupun service, atau mungkin akhirnya nanti membidik perusahaan farmasi besar seperti Novartis. Sesi setelah makan siang, diisi oleh perwakilan dari Novartis Insititue for BioMedical Research (NIBR) Carol Manahan yang memberikan overview bagaimana institusi riset ini bekerja diluar tekanan industrinya sehingga tidak terbelenggu oleh tekanan sales dan marketing industri farmasi. Yang unik, kalau anda pernah menonton acara-acara televisi lokal yang pakai sistem voting, nah, kami juga diajak melakukan voting untuk beberapa pertanyaan yang diajukan Carol. Selain itu, kami juga melakukan beberapa aksi interaktif yang dijamin membuat tetap terjaga. Selanjutnya, kami melakukan working grup discussion yang intinya, kami harus membuat bisnis plan di akhir hari workshop per grup.

Sorenya, waktu jalan-jalan, Keliling boston dengan duck tour. maksudnya duck tour itu, kayak mobil perahu yang bisa jalan di darat dan air jadi kayak bebek. Parahnya, cuaca di luar hujan, dan dingin sekali, untungnya si duck punya penghangat jadi kami nggak menggigil kedinginan melawati jalan-jalan di Massachusetss dan Charles River. Hari kedua, ditutup dengan makan malam di Legal Seafood yang menghidangkan lobster yang, heuheu mantab. (tapi lebih mantab kalo ditambah saos padang, tetap lidah Indonesia tidak bisa pergi dari sambel).

bersambung

Biotechnology Research Camp (BioCamp) Ristek-Novartis 2009

medio Agustus 2009, saya berkesempatan mengikuti Novartis-Ristek BioCamp 2009. acara ini merupakan acara camp atau sejenis dengan workshop sebagai bagian dari CSR- Novartis. perlu diketahui Novartis merupakan perusahaan industri farmasi kedua terbesar di dunia yang memegang peranan penting dalam pengembangan sektor farmasi di dunia. setelah melalui perseleksian administrasi dan panel interview, akhirnya terpilihlah 23 orang mahasiswa pascasarjana dan lulusannya dari berbagai bidang, seperti bisnis, manajemen, kedokteran, farmasi ataupun science (biologi). menurut Wanda Harahap,manager communication Novartis Indonesia, program BioCamp bertujuan untuk membuka wawasan sektor bioteknologi khususnya bagi para mahasiwa bisnis dan manajemen. sebaliknya, program ini juga diharapkan dapat memberikan pengenalan awal dunia bisnis dan leadership bagi mahasiswa yang bergerak di bidang science. berbekal tujuan itulah, mengapa program ini diberikan kepada dua mahasiswa tingkat lanjut dari disiplin ilmu yang berbeda.

Puspiptek H1

Hari ke-1

bertempat di Puri Casablanca Kuningan, seluruh peserta berkumpul untuk melakukan aktivitas BioCamp di hari-1. jadwal hari pertama hampir seluruhnya diisi dengan kegiatan kunjungan ke Pusat Penelitian dan  Pengembangan Ilmu Pengetahuan (PusPIptek) Serpong. Kunjungan pertama dilakukan di UPT Bioteknologi BPPT. kebetulan saat itu Wahyu Purbowasito Ph.D (yang sebelumnya sudah saya kenal) yang memberikan pengantar mengenai BPPT-Biotek beserta riset yang telah dilakukan. animo peserta cukup tinggi pada sesi tanya-jawab, mengingat waktu makan siang hampir habis namun peserta masih berminat untuk bertanya. selama pemberian penjelasan, saya mendapat banyak tanya dari peserta dengan latar belakang bisnis dan manajemen tentang ini dan itu. wah, sebenarnya kasihan juga mereka karena mengejar ketinggalan bioteknologi cukup jauh. walhasil ya kadang ada pula yang benar-benar ngeblank tentang apa yang dibicarakan. setelah pemaparan tentang Bioteknologi BPPT kami melangkah ke kunjungan lab. kalau pendapat saya pribadi , ya lab yang diperkenalkan tidak ada yang aneh untuk Bioteknologi baik industri dan pertanian.

melangkah ke acara kedua, yakni kunjungan ke LabTIAP, jadi lab-Lab di dalamnya meliputi Lab Pangan Fungsional, Biofarmaka berbasis virus, proses enzim purifikasi dan separasi.karena jadwal molor, terpaksa rencana kunjungan ke Lab Batan dibatalkan, padahal saya berminat sekali mengingat nggak pernah menyentuh bidang yang satu ini. melihat site labnya saja yang bermultiple pagar itu bikin mupeng. Dan kayaknya seru gitu ada di bagian radioisotop .selanjutnya, hari sudah semakin sore, kantuk mulai terasa, lelah, dan terutama pastinya lapar berat. melesat dari pinggiran Banten ke pusat Jakarta, bis kami menuju ke penang bistro (haduh maaf ini bukan ajang promosi, saya juga tidak dikenai biaya advertise kok :P)..akhirnya, kami bertemu pula dengan makan malam yang super duper yummy menurut saya, setelah disuguhi terlebih dahulu oleh lecture dari Pharmaceutical Multinational Company Group yang munurut saya lagi curhat karena birokrasi dan kebijakan pemerintah dalam mengatur Industri Farmasi berbasis multinasional. setelah kenyang, sedikit terhibur juga oleh psikolog dari Novartis Vera Ibrahim yang sampe mendaulat Resa dan Marcel jadi konduktor nyanyi lagi “heal the world’ Jacko (ah jadi inget masa SMA, lagu ini dinyanyiin bagus banget sama kelas saya –memuji diri a.k.a narcistic dot kom). Akhirnya, kegiatan H-1 berakhir jam 10.3) WIB

Hari ke-2 19 Agustus 2009 (the day im getting older this year..)

pagi hari kami sudah bersiap untuk mengikuti acara hari ini yang menurut prediksi saya adalah acara inti . jadwal hari ini lumayan padat, dengan isian kuliah dari pagi hingga waktu makan siang. kuliah-kuliah tersebut meliputi opening ceremony dari Direktur Novartis Indonesia Roger Paulman. kemudian sambutan dari kepala BPPT yang diwakili oleh Prof Amin Subandrio, dan termasuk kuliah Prof Amin sendiri tentang Innovation (ah, jadi teringat kuliah microbial antibiotics oleh beliau). Ada juga paparan dari DepKes tentang regulasi farmasi di Indonesia, jadi seperti hak jawab atas pertanyaan kuliah yang malam sebelumnya. Nah, dua kuliah terakhir ini agak bertolak belakang satu dengan yang lain, yakni tentang pengembangan program-program CSR oleh Business Unit Head NI dan Thomas Keller , Kepala Novartis Institute for Tropical Disease yang ada di Singapore. Tentu saya tertarik sama kuliah yang terakhir ini, yang katanya riset-riset yang dilakukan Novartis menyangkut penyakit tropis seperti dengue, malaria dan tuberculosis. Belakangan, saya baru tahu juga Novartis punya pusat penelitian dengan Indonesia di Universitas Hasanudin namanya NehKRI. Tapi, berdasarkan penilaian saya, NITD tidak berkenan melakukan penelitian dengan mengembangkan produk rekombinan, karena basic mereka adalah sintesis alam, jadi pencarian bahan alam yang bermanfaat untuk mengatasi penyakit tropis seperti artemisinin untuk malaria. hmm, sedih juga, padahal tertarik loh untuk ikut riset di Singapura. yang lucu, penelitiannya kebanyakan tentang penyakit-penyakit di Indonesia kok pusat penelitiannya di Singapura ya? belakangan saya dapat bisikan karena birokrasi di Indonesia sulit untuk didekati. Wah, kalau sudah begini salah siapa ya?

siang hari setelah Ishoma, kami melaju ke site production Novartis yang ada di Pasar Rebo, Jak-Tim. baru kali ini saya masuk ke industry farmasi, ternyata cukup higienis ya. sayang sekali tidak diperkenankan foto di ruang produksi yang kebetulan grup saya ikuti. padahal kostumnya okeh banget. Oh ya, site ini terdiri dari site A untuk Novartis dan site T untuk Sandos. banyak juga obat yang diproduksi di sini, tapi nggak kalah juga obat yang diimpor, di repackage dan direlabel. harganya juga mahal-mahal ya. padahal katanya, Sandoz adalah divisi Novartis yang Generik, tapi harganya tetap saja buat saya itu ya mahal.

Pose-2 novartis indonesia site pasar rebo1

malamnya, kami kembali ke hotel untuk memasuki acara berikutnya. sebelumnya,saya menduga ini  termasuk bagian yang menegangkan, dan ternyata saya benar. kami harus membuat business plan dalam kurun waktu kurang dari dua jam dengan sebuah studi kasus.Jadi, untuk orang seperti saya yang, ah sama sekali masih bingung membedakan apa itu strength, weaknesess, opportunity, dan challenge (SWOT), yah rada-rada keteteran mengikuti diskusi kelompok. Alhamdulilah, teman-teman sekelompok saya banyak mensupport saya tentang pengetahuan ini. mmh, nggak heran kalau kami dapat hadiah untuk ini, (nanti saya beritahu di akhir cerita)

OK, berakhir jam 12, saatnya istirahat, dan saya benar-benar lelah.

Hari ke-3..20 Agustus 2009

saat paling menegangkan buat saya, karena ya hari ini kami harus presentasi, dan yang mengejutkan lagi adalah kelompok kami mendapat giliran pertama. ouw..ouw…Ok…segala cara dilakukan termasuk dengan tagline khas yang semoga mengipmpressi para juri yang terdiri dari business unit Novartis dan perwakilan Ristek. sesi tanya-jawab yang buat saya lagi, cukup bikin speechless, karena sungguh saya nggak ngerti banyak tentang business plan ini. tapi nggak mungkin kan kami tampil di depan dengan planga-plongo, yah walhasil sekenanya lah jawaban terlontar. salah satu business plan yang OK menurut saya adalah business plan kelompok Teddy (grup 2) yang dengan detil bicara project launch, budgeting, profit, bla-bla-bla..they did it so well..lajnut mendekati siang hari, masih ada tiga lecture lagi yang harus diikuti, pertama dari Julietta Samosir HR Division NI, lalu dari Hendra Gunawan Direktur Utama PT. Tunggal, dan terkahir Rene Suhandono (yang saya senangi ituh) dengan carrier coachnya.

melalui Pak Hendra, saya belajar tentang leadership, bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang baik, yang reliable, accountable dan tentunya ngemong anak buah. dari Ibu Julietta, saya dapat informasi bahwa Novartis sangat meninggikan nilai diversity dan inclusion di tiap negara cabangnya, dan dari Rene, saya jadi tahu kalau hidup saya ini harus memiliki passion dan purpose yang bermanfaat. Ah indah, sekali kombinasi lecture ketiganya.

hari kian sore, dan akhirnya acara puncak yang ditunggu pun tiba, award dan ceremony. seperti yang saya bilang, kelompok kami (group three dengan tag line Leuminib make a better life) akhirnya dinobatkan menjadi best team (yeay..we’ve made it guys), sungguh saya tidak menduga sebelumnya. tentunya, group two seperti dugaan saya mendapat predikat the most reliable business plan..Ok…sangat setuju dengan penilaian dewan juri. terakhir, pengumuman delegasi NI untuk BioCamp 2009 global. sekali lagi, dugaan saya tepat, yang memperolehnya adalah the cartoon face Yani Bagas Paramitha, mahasiswa Prasetya Mulya Business School yang juga menggawangi grup dua dengan business plan-nya yang canggih itu. Satu kandidat lagi, nah yang ini tebakan saya meleset, dan alhamdulilah, I was selected..(yeay..:)) sungguh, saya sekali lagi tidak menduga.

pose-3 most feasible business plan group three

pose 4-best team-grpup three..mine of course

ceremony n award.

hari itu 20 Agustus 2009, saya mendapat hadiah ulang tahun yang indah sekali. being delegated for Novartis Global BioCamp 09 in Novartis Biomedical Research Institute Cambridge, Massachusetts, USA. mau tahu cerita saya di Cambridge? tunggu ya, oktober nanti. it was such a nice and memorable moment of being there.

biocamp full team

flu babi (swine flu)2

Menyambung tulisan saya sebelumnya, nampaknya flu babi in benar-benar jadi pembicaraan hangat. Yah kalau Anda termask yang up to date dengan gosip, sebelas dua belas lah dengan kasusnya Manohara Odelia Pinot (sang model yang kata Ibunya diculik oleh suaminya sendiri anak Kesultanan Malaysia).Loh, ini kok jadi gosip sih..

OK, Outbreak yang terjadi medio April 2009 di meksiko yang terus merambah hampir ke seluruh kawasan Amerika ini, menggelitik para pakar virologi, karena katanya hingga detik ini, virus ini belum berhasil diisolasi dari babinya sendiri. Dengan kata lain, sebetulnya belum ada bukti kalau memang virus penyebab flu babi ini ditularkan oleh babi.

Hal yang sebenarnya seperti ini (at least inilah pemahaman saya dengan sedikit dasar biologi molekuler ya?). Virus yang menyebabakn kehebohan ini diisolasi dari tubuh manusia, namun begitu dianlisa (let say kalau dalam bahasa molekulernya mungkin diblast, di allign, etc, etc) virus ini memiliki kesamaan dengan virus yang menginfeksi babi, virus flu yang menginfeksi manusia, dan virus flu yang menginfeksi hewan.

Kenapa kok bisa begitu?Kalau dalam bayangan saya (yang sekali lagi bukan seorang virolog) bisa saja terjadi karena virus influenza ini tidak punya alat pengkoreksi DNA or RNA yang sedianya dimiliki oleh kebanyakan sel. Pengkoreksi DNA atau RNA ini berguna untuk membenarkan urutan DNA/RNA yang salah untuk suatu sintesis protein, jadi hasilnya tidak akan berbeda dari  niatan awal sel tubuh untuk membuat protein.

Virus, karena tidak punya pengkoreksi DNA itu (DNA proof reading) tetap akan menghasilkan protein sebagaimana niatan awalnya dalam menginfeksi sel inang atau sel tubuh tempat dia menyerang (let say bisa babi, unggas, manusia, bakteri, etc, etc), tetapi bisa jadi protein yang dihasilkan beda dengan protein target yang tadinya ingin dihasilkan.

Apa implikasinya?Tentu saja virus mungkin bisa punya beberapa jenis protein yang tadinya tidak ada menjadi ada, dengan kata  lain bermutasi.

Hal itulah yang menyebakan virus flu babai pada outbreak flu babi Meksiko ini dikatakan perpaduan antara flu babi, flu manusia, dan flu burung.

Mau tahu beda flu babi, flu manusia, dan flu burung?Simak disini.

Flu babi (swine flu)

Awal pekan ini, simptomps seperti judul di atas mulai menyebar di segala penjuru berita baik di media cetak maupun elektronik.

Saya jadi penasaran, makanya saya googling swine flu itu hari ini.

Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan oleh hewan sebagai perantara. Jadi sebenarnya bukan sang babi yang mematikan, tapi karena babi tersebut terinfeksi virus makanya si babi jadi bisa menularkan virus ini kepada babi-babi lain ataupun manusia.

Flu babi diawali terjadi di Mexico, kemudian merebak ke hampir seluruh daratan Amerika, baik US maupun Canada hanya dalam hitungan hari.

Sebenarnya, virus yang menyebabkan flu babi ini merupakan virus lama, tetapi memiliki serotipe baru. Virus ini mempunyai nama A (H1N1),berbeda dengan virus flu burung dengan serotipe H5N1.

Hingga hari ini, terjadi lebih dari 40 kasus di Amerika meliputi California, Kansas, New York City, Ohio dan Texas.

Di Meksiko sendiri flu babi sudah menyebabakan kasus pada lebih dari 80 orang.

Saya jadi berpikir, kalau Alloh mulai mengadili semua umat manusia di muka bumi dengan merata.

Kalau masih ingat, dulu flu burung (avian flu) merebak dengan sangat cepat di Asia khususnya Asia Tenggara, mulai dari Hongkong, Cina, Vietnam, sampai Indonesia yang memiliki catatan penderita flu burung terbanyak.

Nah, apakah kemajuan teknologi menjamin warga suatu negara terbebas dari flu?