Koran by heart–a review–

Untuk pertama kalinya, saya mau mereview film, tapi bukan film Hollywood ya. Soalnya lagi nggak selera sama film Hollywood. Lagian postingan ini ditujukan sebagai buah Romadhon kali ini buat pembaca. maksudnya saya sendiri gitu, soalnya saya cukup sadar blog ini kagak ada keren-kerennya.

Film yang akan saya review kali ini adalah film dokumenter yang di putar di HBO di summer series “Koran by heart” yang tayang musim panas ini di HBO. Thanks to my friend Winnie yang sudah menshare link film ini di facebook.
Kalau yang mau nonton silahkan di sini

Film dokumenter ini disutradari oleh Greg Barker, yang sudah lumayan mumpuni membuat film dokumenter seperti Sergio, Ghosts of Rwanda dan The Survival of Saddam. Walaupun begitu tayang 1 Agustus lalu (tepat ya sama 1 Romadhon) menuai cukup banyak kritik, namun buat saya pribadi film ini menyentuh kebutuhan mendasar, the divine speech–dalam kata lain perkataan dari Ilahi–. Untuk yang mau tahu lebih banyak tentang kritik si sutradara boleh baca di sini . Yang unik, justru menurut pengakuan si sutradara, film ini dibuat berdasarkan kebutuhan akan keingintahuannya tentang keadaan muslim masa kini, dengaan dominasi fundamentalis yang hampir tersebar luas di seluruh negara-negara berpenduduk Islam, dan muslim moderate. Nah isi film ini sedikit banyak merepresentasikan apa yang terjadi di kalangan muslim fundamentalis dan moderat tersebut.

Adalah tiga anak brillian, cerdas, berlatar belakang berbeda, terpisah benua yang mengikuti kontes recite Qur’an. Apa ya bahasa Indonesianya recite?. Kalo kata google translate sih membaca, tapi saya kurang sreg dengan artinya, mungkin melafazkan kali ya..Jadi ketiga anak berusia 10 tahun ini masing masing bernama Nabiollah dari Tajikistan, Rifdha dari Kepulauan Maldives, dan Djamil dari Senegal. Tapi karena kemampuan mereka menghafalkan Quran (Subhanaulloh), mereka ditunjuk oleh negara tersebut sebagai delegasi dalam ajang International Quran Recite Competition yang dilaksanakan di Kairo, Mesir. Continue reading