The more the merrier…

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membahas masalah ini di blog saya ini. Tapi nggak tahu kenapa kadang kalo punya ide menulis suka menguap kalo tidak buru-buru direalisasikan. Jadi aji mumpung melihat dan merasakan ide itu baru saja, akhirnya tibalah saatnya saya mngungkapkan pikiran dan pendapat saya di sini.

Masih inget masa kecil dulu? Mari saya ingatkan kalo anda sudah mulai lupa. Ingat kan waktu kita masih pakai seragam Taman Kanak-kanak (yang punya saya itu warnanya dress ungu-kemeja lengan panjang putih, dan kemeja putih-rok pink-dan vest pink-ya ampun oot banget yang ini), kita suka sekali bermain bersama teman-teman. Mulai dari kejar-kejaran, main permainan yang ada di dsekolah, main boneka di dalam ruang kelas, atau sekadar main tinju-tinjuan buat yang cowok. Hmm, seru yah, sukanya bergerombol, kesana kemari bareng-bareng pegangan tangan. Bertemannya tidak ada batas. Intinya pilihan masih ada di kita untuk berteman dengan si A, si B, si C, si D atau berteman dengan Ibu Guru sekalipun.

Melangkah ke sekolah dasar, wah yang ini lebih rame lagi. Teman yang kita pilih sungguh tak terbatas, mau berteman dengan teman sesama jenis, lawan jenis, adik kelas, sampai kakak kelas juga nggak ada yang larang. (ah, saya punya cerita menarik kalau ingat cerita SD ini). Walaupun harus diakui semakin besar biasanya anak SD mulai deh membuat gerombolan preferensi teman alias genk-genk. Apalagi SMP dan SMA, waduh itu mah masa-masa indahnya hidup bergerombol, kecuali anda punya kecenderungan untuk staying alone, ya itu out of category ya???…

Nah, mulai menginjak perkuliahan nih, beberapa justru merasakan puncak ketenaran karena bisa bergaul dengan belahan fakultas atau jurusan atau mungkin lain kampus sekalian *mungkin juga kesempatan tebar pesona*, tetapi beberapa yang lain justru mulai terperengkap dalam idealismenya sendiri, mulai   dari prestasi akademik, organisasi keagamaan, sampai kegiatan-kegiatan mahasiswa. Walaupun nih, biasanya mulaid ari SMA samapai kuliah ini seseorang mulai deh menambatkan hati pada lawan jenisnya yang berakhir dan berujung ke pernikahan. *duh, curcol banget yang ini*.

Yang menggelitik buat saya adalah, saat kita memasuki dunia kerja, atau dunia sekolah yang lebih lanjut seperti pasca sarjana. Sadarkah anda, betapa kegembiraan hidup sosialisasi kita mulai berkurang seiring dengan pertambahan umur? Kebanyakan teman saya, justru kesulitan mencari teman sebaya pada saat baru mulai masuk dunia kerja, karena biasanya sudah harus blending *juice kali blending* dengan para pekerja paruh baya, atau bisa dikatakan bapak-bapak ibu-ibu yang orientasinya sudah anak dan keluarga. Mungkin kalau yang sudah punya pasangan akan bertahan dengan kehidupan akhir pekan yang biasnaya diisi bersama sang pacar sebelum meretas kembali hari-hari kerja dengan orang-orang bertautan usia cukup jauh. Tetapi, kebanyakan lagi bahkan sudah tidak punya teman yang bisa diajak kumpul bareng, karena sang teman pun sudah melangsungkan kehidupannya sendiri *menikah, punya anak, pindah keluar negri, bla-bla-bla-bla*

Miris ya? Padahal kita punya segudang teman sebelumnya, yang bisa berbagi, bercerita, menikmati kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama, namun semua itu kebanyakan *ada sih yang masih bertahan* harus dibayar dengan bertambahnya usia dan kebutuhan. Sejauh manakah semua ini berpengaruh pada hidup kita? Kalau saya , berpengaruh, banget malah. Buat saya hidup adalah fase dimana saya banyak menemui Y junction atau kadang kadang quarter junction dan many-many junction yang harus saya putuskan akan hendak kemana dan bersama siapa. Kadang-kadang junctions itu tak kita sadari sudah datang dan menghampiri hidup dan mungkin tidak kembali karena kita terlalu asik dengan pilihan kita sendiri. Atau adakalanya, kita melirik ke jalur sebelah yang tidak kita pilih dan sedikit rasa iri di hati dan berkata mengapa dulu jalur itu tidak kita pilih?

Teman akan selalu datang dan pergi, sama seperti usia. Mereka tidak akan ada selamanya untuk kita, karena teman adalah kita yang juga harus memiliki hidup sendiri untuk mempersiapkan masa tua nanti dengan tidak seorang diri tentunya. Namun, bila pilihan menua nanti pun menjadi sendiri, mari dihadapi dengan senyuman, keihlasan dan kerelaan. So, which junction will you take?

bff…best friend forever

dua minggu ini, saya lumayan sering kopi darat dengan teman-teman kuliah sarjana dulu. perkaranya, saya sudah menikah, punya suami dan punya anak, jadi sangat terbatas waktu dalam berhubungan dengan teman-teman saya yang saya bilang di salah satu web sebagai “sahabat-sahabat yang menakjubkan”.ya, menakjubkan ,bagaimana tidak?sudah 10 tahun kami bersama, 10 tahun loh, itu kan bukan waktu yang singkat. dan dalam tempo 10 tahun itu kami masih sering hang out atau kumpul bareng….

mungkin buat anda yang punya teman-teman dekat sekarang sih hal itu nggak aneh, tapi tidak buat saya dan kebanyakan orang yang fase hidupnya sudah mulai naik kelas lagi ini. banyak dari teman suami saya dan teman saya di luar lingkungan sahabat-sahabat yang menakjubkan ini bisa bilang kagum, karena kami masih punya keterlibatan emosional yang penuh selama 10 tahun.

yang terjadi selama 10 tahun pun banyak, dari yang mulai punya pacar si A, si B si C eh menikah nya dengan si F, dari yang tinggal di kota G, J, M eh sekarang tinggalnya di kota R, dari yang tadinya kurang akrab dengan si Y, eh sekarang malah nempel kemana-mana berdua, dari yang pembicaraannya cowok-cowok ganteng di kampus, eh sekarang udah susu anak yang ini, atau enaknya sekolahin anak dimana ya? …

rasanya..seperti sisi lain hidup yang tak pernah tergantikan, dan kalau kami sudah bersama, ya istilahnya bahasan yang jelek bis ajadi bagus dan bahasan yang bagus bisa jadi jelek, hati itu sudah beku, jadi cacian di antara satu dan yang lain sudah di luar kepala dan di luar hati..

ah senang rasanya punya sahabat-sahabt itu.walopun kalo boleh ami jujur, kami tidak seperti orang bilang yang sahabat itu harus ada saat susah dan senang, saat sedih dan gembira.kok rasanya kami nggak seperti itu ya..justru sebaliknya, kami tak pernah ingin berbagi kesedihan, karena kami merasa seperti itulah kami, tertawa bersama walaupun kadang tawa itu adalah tertawa untuk kesedihan dan kegagalan kami….

pernah sih saya mewek sejadi-jadinya di kosan teman saya setelah patah hati. jadi waktu itu saya cuma datang, diam, duduk, dan nangis sejadi-jadinya…apa yang mereka lakukan?iya?sahabat-sahabat saya itu? mereka juga cuma diam, ngasih minum , sementara saya meracau tidak jelas sambil bercucur air mata…apakah mereka merespon kata-kata saya?nope..mereka malah bicara tentang hal lain yang justru membuat saya tertawa..

C?kadang jangan meminta sahabat anda untuk selalu berada pada kesedihan yang anda rasakan, karena tempat mereka adalah sahabat..yang berdiri di samping anda..bukan di depan and untuk memberi tahu kemana harus melangkah, atau pula di belakang yang hanya mengekor apa yang anda katakan tanpa perdulikan perasaan and.sahabat, berdiri di samping anda, bersama, menjaga anda dengan sejajar..

for old time sake : I love you friends..:)