seperti 15 tahun silam

Kali ini bukan postingan yang aneh-aneh dan berat penuh makna,cuma ingin berbagi sedikit kebahagiaan saja.Jadi jangan harap akan ada “lesson learned” dari postingan saya yang ini.

Jadi ceritanya, setelah sekian lama punya akun jejaring “facebook” yang gosipnya mau ditutup seperti berita di sini dan film nya baru dapat Golden Globe seperti yang diberitakan di situ, saya berhasil menemukan beberapa teman sewaktu masih SMP dulu. Continue reading

bring the mirror into your pocket..


akhirnya, sudah hampir 2 tahun blog ini eksis,,,yah dengan terseak seok berjumpalitan tanpa arah yang jelas, tapi yah sekenanya tetap ada..semoga saja nggak mati dimakan waktu..hehe..

menginjak 2011 yang baru saja berlangsung 8 hari ini, saya sudah terima pelajaran hidup yang paling berharga.jadi ceritanya begini, seminggu yang lalu tepat saat tahun baru, yah biasalah semua orang berlomba-lomba menyemangati diri dengan doa-doa dan kata-kata motivasi tinggi. begitu pun yang terjadi di salah satu akun jejaring sosial saya yang punya “timeline”. setelah ucapan Happy New Year bla..bla..bla… dan seperti biasa lagi saya meramaikan situs itu. kenyataan membuktikan semakin sering anda meriung di jejaring sosial maka mungkin semakin anda menunjukkan anda cukup kesepian. saya pun mulai berkicai sesuka hati..dimulai dengan hal-hal positif sampai celetuk yang yah untuk saya sih biasa. dengan harapan biasanya teman-teman lebih kreatif kalau dapat umpan yang beginian.

saya berceloteh tentang jurumasak terkenal yang punya postur tubuh aduhai itu…tapi sama sekali loh bukan masalah fisik, ini masalah tata cara berbahasa..eh teman saya pun mulai menanggapi. respon pertama sih cukup dengan “nggak usah nyinyir tahun baru”..err Ok…saya nggak marah, tapi kok nyinyir ya bahasannya?..respon kedua, malah bilang tahun baru, “celaan tetep ya jeung” halah ini lagi kok malah begini tanggapannya…kedua respon di atas masih saya tanggapi dengan senyum dan hahah hihih hihiii, lanjut ternyata Continue reading

we are the alien

gambar di ambil dari https://i1.wp.com/s3.amazonaws.com/l.thumbs.canstockphoto.com/canstock0295249.jpg

It started with a decent saturday birthday party of my Indonesian friend and several of her coworkers and classmates. A quite decent because it held in her apartments with a few tasty delicious home-made menu and several closest friend which are accidentally or event meant to foreigner in this country.

There we were, celebrating her something years old, blew out the candle by the kids, having a dinner, and also some kind of a chit-chat here and there. I was actually some kind part of that non-belonging- group since everybody seems to be had known one each other. But somehow, it would only took me several minutes to blend with them anyway, cause since we are in the same path, foreigner to this country.

Our conversation were of course started with our background, obligation, family not sort of special one. Until we have a same typical hilarious topics concerning the way of the native people in this country’s attitude. Suddenly we started to feel the same way of handling how to react to the native citizen here. We all felt awful about the border that we could not pass to get through most of them. One little thing cross in mind that now I feel that I am not alone.

I do not have any right to judge the way people live here with their characters and their habits, but somehow as one of my acquaintance said..we are just like an alien here. An alien that almost have no similarity to the way of native people live. Such a funny terms I guess, but I think it is quite true.

But again, I was thinking, would these foreigner even think it so if they should stay in my country? Would I be as same as the native citizen here in that “alien’s” point of view?

And I think I know the answer already…..
#foreigner

ketika usia..ehm..merindukan cinta

sebelumnya mohon maaf, beribu maaf..apabila postingan saya yang ini akan terkesan menohok *yellow, bahasanya?*, anda-anda yang saat ini sedang dilema dalam mengharapkan cinta.

loh-loh?kok bicara cinta?

ya nggak tahu kenapa tiba-tiba pengen menulis hal ini akibat beberapa DM yang masuk ke saya di akun twitter.

curhat beberapa teman di berbagai media, membuat saya gatal ingin menorehkan sesuatu yang saya tidak tahu apakah akan membawa manfaat atau tidak di sini. Boro-boro membawa manfaat, mungkin juga buat sebagian orang yang baca, rada kesinggung, pengen muntah, atau merasa menjadi subjek saya. wah-wah bukan itu, sungguh bukan itu maksudnya, namun lebih kepada opini pribadi saya tentang usia yang semakin bertambah namun belum juga menemukan belahan jiwa.

entah itu karunia atau rahmat, atau apalah *yang jelas saya sangat bersyukur karenanya* saya bukan orang yang dikenai masalah seperti yang saya torehkan disini. beberapa teman, yang usianya relatif sama dengan saya justru terlibat dengan masalah ini. mengingat usia yang mulai menginjak sepertiga abad, mulailah teman-teman saya itu bergerilya setengah mati.karena status kok masih “quo” aja gitu, berbagai macam cara dilakoni, mulai dari ikutan kegiatan kerohanian yang juga dikhususkan buat para pemuda, kegiatan sosial yang juga diisi oleh pemuda-pemuda, minta dikenalin sana-sini sama teman, melirik rekan-rekan sekantor tapi ternyata beda generasi, juga melirik teman dalam satu lingkaran pergaulan tapi nggak nemu chemistry, sampai mungkin akhirnya pasrah bila orang tua mau memperkenalkan diri dengan anak kolega atau relasinya.

I might be wrong, karena sekali lagi saya tidak terlibat dalam situasi seperti ini. alhamdulilah, cobaan yang diberikan Alloh pada saya bukan hal yang seperti ini. Namun, tentu Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu tahu bagaimana mengukur kesetiaan hambaNya. Saya juga dikarunia masalah yang menurut saya dari dulu sampai sekarang kok ya nggak kelar-kelar ya? Sama seperti teman-teman saya itu, saya juga berusaha setengah mati mengatasi masalah yang dikaruniai Alloh buat saya. Usaha A sampai Z sudah saya lakoni. Terus dipikirin dari pagi hingga mau tidur tengah malamnya. Diskusi sama suami, berupaya cari jalan keluar untuk masalah yang saya hadapi juga saya lakukan. Namun, tak kunjung datang jawaban atas masalah saya itu. Sampai suatu ketika, suami pun bilang pada saya dengan kata bijaknya. *aih, bijak, kayak orang tua jaman dulu dong ya?*

Menurut suami saya, kalau menginginkan sesuatu itu, harus dipertanyakan lagi, apakah yang demikian itu baik untuk diri kita atau tidak? Tidak perlu kita minta Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, tapi justru pintalah kepadaNya apa yang sekiranya baik buat kita. Tidak perlu dipikirkan pagi, siang, sore malam untuk itu, tapi justru diupayakan berbagai cara dengan niat yang iklas untuk itu.

saya sempat merenung waktu suami saya bilang seperti itu. Mhhh…apa benar ya, selama ini saya terlalu mendikte Yang Kuasa untuk menentukan yang terbaik buat saya. Sampai-sampai di otak saya ini hampir hanya itu dan itu saja yang dipikirkan, tak ada yang lain? Lalu apa benar selama ini doa saya ikhlas dan tulus kepadaNya?

Perlahan, saya coba praktekan apa yang suami saya bilang. Semua saya tata ulang, semua saya rombak lagi, mulai dari doa, niat, usaha, dan juga hati saya terhadap hasil yang saya kerjakan. karena menurut saya, justru hati inilah yang paling penting di tata agar tidak menunjukkan sikap “terlalu” dalam mengharapkan sesuatu.
waktu pun berlalu, dan hasilnya???? oh tidak, semua masalah itu nggak hilang dalam sekejap. tapi setidaknya, sebagian dari usaha saya mulai membuahkan hasil. sedikit demi sedikit ada petunjuk buat saya menghadapi beban yang selama ini saya tanggung.

Nah, kembali ke urusan cinta-mencintaan itu. maafkan kalau saya berkata salah. tapi sekadar perenungan untuk anda-anda yang hingga saat ini belum menemukan tambatan hati, belum dipertemukan dengan tambatan hati maksudnya. mungkin perlu ditata ulang lagi, niat, usaha, tujuan dan cara anda dalam mencari “cinta” anda diluar sana. menurut saya, semakin kita mendengungkan masalah yang kita hadapi dengan manusia, justru semakin peliklah keadaaan yang akan kita jalani. karena manusia tidak bisa dijadikan tumpuan, harapan. justru, kalau mau curahkan saja semua keluh kesah anda padaNya, tanpa orang lain tahu. karena rasanya Dia akan lebih menjawab dengan caraNya yang indah dibandingkan dengan semua umat manusia di muka bumi yang sudah dari sononya di berikan Tuhan masalah sendiri-sendiri. mungkin juga perlu diingat, Tuhan tidak perlu didikte untuk menentukan kebahagiaan kita. Jadi misalkan cinta bertepuk sebelah tangan akan menagis ” Ya Alloh, kok usahaku tidak disambut sih?”, instead of..”Ya Alloh, kalau memang bukan dia untuk saya, tolong berikan yang lain yang lebih baik untuk saya”..

jangan lupa, buka mata dan hati lebar-lebar. I mean, jangan terlalu terpaku pada urusan hati, setiap ketemu kenalan baru, atau teman baru, atau punya chemistry terhadap seseorang yang baru, langsung membayangkan untuk bisa mendapatkannya. lebih baik, kenalilah “target” itu dengan wajar, apa adanya, tidak dibuat-buat, dan sederhana. rasanya, setiap orang kan tidak mau ya melihat orang yang dikasihinya hidup dalam kepura-puraan.

and, instead of wondering why “he/she” has not coming yet to your life, let’s have your life with happiness and gratefulness. karena saya percaya, “happines is your state of mind”, jadi kalau rasa sepi dan sendiri itu datang, hadapi saja dengan rasa syukur lain yang mungkin tidak dimiliki orang lain dalam hidup ini..

so, may you find your love in a beautifull way..

*DOH?berasa Mike Rose deh* 😀

The more the merrier…

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membahas masalah ini di blog saya ini. Tapi nggak tahu kenapa kadang kalo punya ide menulis suka menguap kalo tidak buru-buru direalisasikan. Jadi aji mumpung melihat dan merasakan ide itu baru saja, akhirnya tibalah saatnya saya mngungkapkan pikiran dan pendapat saya di sini.

Masih inget masa kecil dulu? Mari saya ingatkan kalo anda sudah mulai lupa. Ingat kan waktu kita masih pakai seragam Taman Kanak-kanak (yang punya saya itu warnanya dress ungu-kemeja lengan panjang putih, dan kemeja putih-rok pink-dan vest pink-ya ampun oot banget yang ini), kita suka sekali bermain bersama teman-teman. Mulai dari kejar-kejaran, main permainan yang ada di dsekolah, main boneka di dalam ruang kelas, atau sekadar main tinju-tinjuan buat yang cowok. Hmm, seru yah, sukanya bergerombol, kesana kemari bareng-bareng pegangan tangan. Bertemannya tidak ada batas. Intinya pilihan masih ada di kita untuk berteman dengan si A, si B, si C, si D atau berteman dengan Ibu Guru sekalipun.

Melangkah ke sekolah dasar, wah yang ini lebih rame lagi. Teman yang kita pilih sungguh tak terbatas, mau berteman dengan teman sesama jenis, lawan jenis, adik kelas, sampai kakak kelas juga nggak ada yang larang. (ah, saya punya cerita menarik kalau ingat cerita SD ini). Walaupun harus diakui semakin besar biasanya anak SD mulai deh membuat gerombolan preferensi teman alias genk-genk. Apalagi SMP dan SMA, waduh itu mah masa-masa indahnya hidup bergerombol, kecuali anda punya kecenderungan untuk staying alone, ya itu out of category ya???…

Nah, mulai menginjak perkuliahan nih, beberapa justru merasakan puncak ketenaran karena bisa bergaul dengan belahan fakultas atau jurusan atau mungkin lain kampus sekalian *mungkin juga kesempatan tebar pesona*, tetapi beberapa yang lain justru mulai terperengkap dalam idealismenya sendiri, mulai   dari prestasi akademik, organisasi keagamaan, sampai kegiatan-kegiatan mahasiswa. Walaupun nih, biasanya mulaid ari SMA samapai kuliah ini seseorang mulai deh menambatkan hati pada lawan jenisnya yang berakhir dan berujung ke pernikahan. *duh, curcol banget yang ini*.

Yang menggelitik buat saya adalah, saat kita memasuki dunia kerja, atau dunia sekolah yang lebih lanjut seperti pasca sarjana. Sadarkah anda, betapa kegembiraan hidup sosialisasi kita mulai berkurang seiring dengan pertambahan umur? Kebanyakan teman saya, justru kesulitan mencari teman sebaya pada saat baru mulai masuk dunia kerja, karena biasanya sudah harus blending *juice kali blending* dengan para pekerja paruh baya, atau bisa dikatakan bapak-bapak ibu-ibu yang orientasinya sudah anak dan keluarga. Mungkin kalau yang sudah punya pasangan akan bertahan dengan kehidupan akhir pekan yang biasnaya diisi bersama sang pacar sebelum meretas kembali hari-hari kerja dengan orang-orang bertautan usia cukup jauh. Tetapi, kebanyakan lagi bahkan sudah tidak punya teman yang bisa diajak kumpul bareng, karena sang teman pun sudah melangsungkan kehidupannya sendiri *menikah, punya anak, pindah keluar negri, bla-bla-bla-bla*

Miris ya? Padahal kita punya segudang teman sebelumnya, yang bisa berbagi, bercerita, menikmati kebahagiaan dan kesedihan bersama-sama, namun semua itu kebanyakan *ada sih yang masih bertahan* harus dibayar dengan bertambahnya usia dan kebutuhan. Sejauh manakah semua ini berpengaruh pada hidup kita? Kalau saya , berpengaruh, banget malah. Buat saya hidup adalah fase dimana saya banyak menemui Y junction atau kadang kadang quarter junction dan many-many junction yang harus saya putuskan akan hendak kemana dan bersama siapa. Kadang-kadang junctions itu tak kita sadari sudah datang dan menghampiri hidup dan mungkin tidak kembali karena kita terlalu asik dengan pilihan kita sendiri. Atau adakalanya, kita melirik ke jalur sebelah yang tidak kita pilih dan sedikit rasa iri di hati dan berkata mengapa dulu jalur itu tidak kita pilih?

Teman akan selalu datang dan pergi, sama seperti usia. Mereka tidak akan ada selamanya untuk kita, karena teman adalah kita yang juga harus memiliki hidup sendiri untuk mempersiapkan masa tua nanti dengan tidak seorang diri tentunya. Namun, bila pilihan menua nanti pun menjadi sendiri, mari dihadapi dengan senyuman, keihlasan dan kerelaan. So, which junction will you take?

bff…best friend forever

dua minggu ini, saya lumayan sering kopi darat dengan teman-teman kuliah sarjana dulu. perkaranya, saya sudah menikah, punya suami dan punya anak, jadi sangat terbatas waktu dalam berhubungan dengan teman-teman saya yang saya bilang di salah satu web sebagai “sahabat-sahabat yang menakjubkan”.ya, menakjubkan ,bagaimana tidak?sudah 10 tahun kami bersama, 10 tahun loh, itu kan bukan waktu yang singkat. dan dalam tempo 10 tahun itu kami masih sering hang out atau kumpul bareng….

mungkin buat anda yang punya teman-teman dekat sekarang sih hal itu nggak aneh, tapi tidak buat saya dan kebanyakan orang yang fase hidupnya sudah mulai naik kelas lagi ini. banyak dari teman suami saya dan teman saya di luar lingkungan sahabat-sahabat yang menakjubkan ini bisa bilang kagum, karena kami masih punya keterlibatan emosional yang penuh selama 10 tahun.

yang terjadi selama 10 tahun pun banyak, dari yang mulai punya pacar si A, si B si C eh menikah nya dengan si F, dari yang tinggal di kota G, J, M eh sekarang tinggalnya di kota R, dari yang tadinya kurang akrab dengan si Y, eh sekarang malah nempel kemana-mana berdua, dari yang pembicaraannya cowok-cowok ganteng di kampus, eh sekarang udah susu anak yang ini, atau enaknya sekolahin anak dimana ya? …

rasanya..seperti sisi lain hidup yang tak pernah tergantikan, dan kalau kami sudah bersama, ya istilahnya bahasan yang jelek bis ajadi bagus dan bahasan yang bagus bisa jadi jelek, hati itu sudah beku, jadi cacian di antara satu dan yang lain sudah di luar kepala dan di luar hati..

ah senang rasanya punya sahabat-sahabt itu.walopun kalo boleh ami jujur, kami tidak seperti orang bilang yang sahabat itu harus ada saat susah dan senang, saat sedih dan gembira.kok rasanya kami nggak seperti itu ya..justru sebaliknya, kami tak pernah ingin berbagi kesedihan, karena kami merasa seperti itulah kami, tertawa bersama walaupun kadang tawa itu adalah tertawa untuk kesedihan dan kegagalan kami….

pernah sih saya mewek sejadi-jadinya di kosan teman saya setelah patah hati. jadi waktu itu saya cuma datang, diam, duduk, dan nangis sejadi-jadinya…apa yang mereka lakukan?iya?sahabat-sahabat saya itu? mereka juga cuma diam, ngasih minum , sementara saya meracau tidak jelas sambil bercucur air mata…apakah mereka merespon kata-kata saya?nope..mereka malah bicara tentang hal lain yang justru membuat saya tertawa..

C?kadang jangan meminta sahabat anda untuk selalu berada pada kesedihan yang anda rasakan, karena tempat mereka adalah sahabat..yang berdiri di samping anda..bukan di depan and untuk memberi tahu kemana harus melangkah, atau pula di belakang yang hanya mengekor apa yang anda katakan tanpa perdulikan perasaan and.sahabat, berdiri di samping anda, bersama, menjaga anda dengan sejajar..

for old time sake : I love you friends..:)